Posted in Jalan-Jalan

Liburan Ke Samarinda – Tenggarong #3 (23 Juli 2013)

Nah,lanjut yah….Ada dua cara menuju ke Tenggarong, yaitu dengan menyeberangi sungai Mahakam dan melalui jalan darat. Menggunakan jalan darat memerlukan waktu 2,5 jam dengan kondisi jalan yang rusak dan sempit. Menyeberangi sungai adalah cara yang paling cepat dan praktis,tapi sayang jembatannya sudah runtuh pada 26 November 2011.

5. Jembatan Kutai Kartanegara
Jembatan Kutai Kartanegara adalah jembatan yang melintas di atas sungai Mahakam dan merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Panjang jembatan secara keseluruhan mencapai 710 meter, dengan bentang bebas, atau area yang tergantung tanpa penyangga, mencapai 270 meter. Jembatan ini merupakan sarana penghubung antara kota Tenggarong dengan kecamatan Tenggarong Seberang yang menuju ke Kota Samarinda. Jembatan Kutai Kartanegara merupakan jembatan kedua yang dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah Jembatan Mahakam di Samarinda sehingga juga disebut Jembatan Mahakam II. Jembatan ini dibangun menyerupai Jembatan Golden Gate di San Fransisco, Amerika Serikat. Pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 1995 dan selesai pada 2001. (sumber : Wikipedia)

Akhirnya kami pun tiba di tepi sungai melintasi puing-puing reruntuhan jembatan KuKar yang sudah runtuh tenggelam. Masih terlihat sisa-sisa kemegahan dari jembatan yang punya julukan “The Golden Gate”-nya Indonesia ini, dan saya membayangkan bertapa indahnya jembatan ini sebelum runtuh. Untuk menyeberang, kami harus mengantri di tepi dermaga, dekat reruntuhan jambatan, ada dua kapal ferry yang siap mengangkut mobil kami. 1,5 jam kami menunggu, akhirnya mobil bisa naik ke ferry. Ferry ini disediakan oleh pemerintah KuKar sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang akan menuju ke Tenggarong, kami tidak dipungut biaya naik ferry ini aliyas gratis, karena konon kabarnya Bupati KuKar Rita Widyasari menyumbangkan gajinya untuk membiayai ongkos trasportasi bagi rakyat yang akan menyeberangi sungai Mahakam ked an menuju Tenggarong menggunakan ferry.

Selama 5 menit kami mengapung di atas sungai yang sangat lebar, Mahakam. Dari kejauhan kami melihat dan mengabadikan gambar pemandangan sekitar sungai dan sisa-sisa jembatan KutaiKartanegara.

Setelah tiba di dermaga Tenggarong, kami langsung menuju ke museum Mulawarman. Jalan menuju ke Museum yang terletak di pinggir sungai, kami melewati kantor pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara yang terlihat megah dan bagus sekali. Kabupaten Kutai Kartanegara adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam, terutama minyak bumi, gas alam dan batubara.

Pusat keramaian Fesrival Erau terleltak di Istana Sultan Kutai Kartanegara dan Museum Mulawarman. Sayangnya hari itu sudah senja menjelang magrib, acara festival adat sudah selesai, jadi kami nggak sempat melihat apa-apa. Kami hanya melihat pemandangan di tepian sungai Mahakam. Melihat Pulau Kumala dari kejauhan, tanpa bisa menyeberanginya, karena sudah menjelang magrib.


6. Pulau Kumala
Adalah pulau buatan seluas 76 hektar yang di bangun di daerah delta atau muara sungai Mahakam. Pulau ini dijadikan kawasan wisata, beberapa fasilitas wisata yang bisa dinikmati di pulau ini antara lain : sky tower setinggi 100 meter untuk menikmati keindahan dari udara, kereta api mini area permainan dan kereta gantung yang menghubungkan dengan daratan. Di pulau ini terdapat DSJ Resort lengkap dengan kolam renang dan sarana bagi mereka yang ingin istirahat, yaitu satu-satunya cottage di tengah Sungai Mahakam di lokasi Pulau ini dipersiapkan Aquarium Raksasa bagi ikan pesut, lumba-lumba air tawar. (sumber : Wikipedia)

Setelah puas menikmati senja di tepian sungai Mahakam di Pulau Tenggarong, aadzan magrib berlumandang, jam 19.00 penyeberangan ferry ke Samarinda dibuka kembali, kami pun menyempatkan shalat magrib di salah satu mesjid. Setelah shalat magrib, kami menuju dermaga penyeberangan, karena baru dibuka, tidak antri. Mobil telah memasuki kapal ferry, kami pun kembali mengapung di atas sungai Mahakam, meninggalkan Tenggarong. Sebetulnya masih banyak yang ingin kami lihat dan kunjungi di Tenggarong, festival Erau yang merupakan tujuan utama kami, terpaksa tidak bisa kami lihat,mungkin lain kali kami akan kembali main ke sana.
Tiba di tanah Samarinda, kami langsung menuju hotel, waktu menunjukkan pukul 21.30 sudah malam, anak-anak sudah pada kecapekan ingin istirahat, malam itu kami menginap dan melepas lelah di Hotel Bumi Senyur Samarinda.

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s