Posted in Jalan-Jalan

Berlibur Di Atas K.M. Bukit Siguntang (Balikpapan-Tarakan-Nunukan) #3

berlayar4

Hari pertama di kapal.

Hal yang pertama kami lakukan di atas kapal adalah eksplorasi di dalam kamar. Hehehe, maklum baru pertama kali naik kapal yang ada kamarnya. Kamarnya sempit, ada dua tempat tidur bertingkat yang bisa diliipat dan ada tangganya. Ada lemari baju yang di atasnya terdapat empat buah rompi pelampung lengkap dengan petunjuk penggunaannya. Di seberang lemari ada kamar mandi dengan toilet duduk, westafel, keran shower dan sebuah ember kecil, kamar mandinya cukup bersih.  Ada sebuah televisi kecil ukuran 14″ kita bisa melihat televisi jika kapal berada dekat dengan daratan, kalau kapal sedang berada di tengah laut gelombang tv nggak ketangkap. Di bawah rak tv ada sebuah meja, di atasnya terdapat sebuah termos air panas dan empat buah gelas, termos air panas ini bisa diisi ulang dengan meminta ke restoran. Setelah mengubek-ubek segala yang ada di dalam kamar, kami mulai memasukkan tas ke dalam lemari, mengeluarkan alat mandi dan menyimpan snack serta air mineral yang kami bawa dari rumah di tas meja. Setelah leyeh-leyeh sebentar di tempat tidur, kami keluar kamar.

Di luar kamar, di sepanjang lobby dan tangga dipenuhi oleh penumpang kelas ekonomi yang mungkin karena di kelas ekonomi penuh, mereka mengambil tempat di situ. Mereka bergeletakan di lantai beralaskan tikar atau plastik yang mereka bawa dan menyimpan barang-barangnya dekat tubuh mereka. Membuat kami susah untuk berjalan karena terhalangi oleh mereka. Menurut salah seorang awak kapal, pemandangan ini biasa terjadi jika penumpang melonjak, baisanya di saat liburan sekolah atau hari raya Idul Fitri dan Natal. Tiba-tiba saya membayangkan bagaimana jika kapal ini kelebihan muatan lalu tenggelam, seperti yang sering saya baca di koran-koran, naudzubillah semoga nggak kejadian….ngeri juga ya!

Ketika keluar dari kamar kami langsung mencari dimana letak restoran. Restoran terletak di lantai yang sama dengan lantai kamar kami di lantai 6. Setelah mengunjungi restoran, kami menuju dek luar. Ternyata di dek luar pun banyak sekali orang, ada beberapa yang nekad menggelar tikar dan tidur di dek luar. Kami naik ke dek paling atas yaitu tempat peralatan antena, sebenarnya dilarang masuk ke tempat ini, tetapi tangga menuju ke tempat ini sedang di buka, jadi kami naik ke atas. Di sini anginnya sangat kencang, sepanjang mata memandang hamparan laut berwarna biru tua. Langit saat itu sedang gelap dan hujan rintik-rintik.  Nggak ada apa-apa sih di atas hanya melihat lautan dan merasakan kencanngnya hembusan angin. Alhamdulillah pada saat itu ombaknya landai, kapal berjalan dengan tenang.

Kami turun ke lantai di bawahnya, di tangga kami melihat terpampang foto beberapa lelaki yang di atasnya diberi keterangan : “Awas Pencopet.” Oh  ternyata di kapal kita harus berhati-hati membawa barang milik kita, karena ada pencopet juga.

Kami berjalan menyusuri dek luar, sesekali melihat pemandangan lautan. Di tengah laut nampak beberapa rig area penambangan gas dan minyak. Kemudian kami naik ke warung kopi yang ada di bagian belakang kapal di lantai 7. Di sana terdapat beberapa tempat duduk panjang terbuat dari kayu. Suara musik dangdut yang sangat keras keluar dari speaker yang di pasang di tiang-tiang dekat tempat duduk. Pengunjung duduk-duduk sambil menikmati kopi atau mie instan yang disediakan di warung. Warung itu juga menyediakan menu nasi ayam krispy selain berbagai snack ringan, aneka minuman kopi, soda dan teh.

Lalu kami berjalan lagi menyusuri dek di luar kapal. Tak lama kemudian kami mendengar pengumuman bahwa makan siang sudah siap, para penumpang kelas ekonomi dipersilahkan mengambil jatah makan siangnya berupa nasi kotak. Sedangkan penumpang kelas 1 dan 2 dipersilahkan untuk datang ke restoran. Kami masuk lagi ke dalam kapal menuju lantai 6 tempat dimana restoran berada. Memasuki restoran kami memperlihatkan tiket kepada petugas, lalu kami dipersilahkan duduk di meja kelas 1. Meja kelas 1 dan kelas 2 dipisah, menunya sih sama saja, hanya peralatan makannya yang berbeda. Meja kelas 1 berbentuk bundar, makanan disajikan secara perasmanan terdiri dari nasi, sayur, 2 macam lauk pauk, dan hidangan penutup berupa buah atau puding. Di depan kami terdapat panggung hiburan yang diisi oleh seorang penyanyi wanita dan seorang pemain keybord. Mereka menemani kami menyantap makan siang dengan melantunkan beberapa lagu.

Selesai makan siang terdengar pengumuman dari speaker waktunya shalat dzuhur sudah tiba. Kami bergegas menuju mushola. Uniknya mushola di atas kapal adalah arah kiblat yang selalu berubah pada setiap waktu sholat. Ini pertama kalinya saya shalat berjamaah di mushola di atas kapal. Ketika rukuk terasa bergoyang ke kanan-kiri. Shalat berjamaah hanya dilaksanakan sebanyak 3 kali sehari, yaitu subuh, dzuhur + Ashar (dijama’) dan Magrib + Isya (dijama’). Selesai shalat biasanya ada kultum yang disampaikan oleh pengurus mushola atau sukarelawan.

Baiklah, setelah shalat kami jalan-jalan lagi mengelilingi kapal. Anak-anak penasaran, menurut papan petunjuk di lantai 5 terdapat penyewaan Play Station. Biar nggak penasaran kami turun ke lantai 5. Di salah satu pojok terdapat penyewaan PS, rental karaoke, dan charger hp. Anak-anak minta main PS sementara saya dan Papa Noor duduk di belakangnya menunggui mereka. Saat itu kepala saya terasa sangat-sangat pusing dan perut saya mual sekali, keringat dingin pun keluar. Kayaknya saya mabuk, saya coba menyandarkan kepala saya ke bahu suami dan mencoba memejamkan mata agar mabuknya hilang. Saya tertidur sebentar dan terbangun oleh suara anak-anak yang ingin kembali ke kamar. Kami kembali ke kamar, saya rebahan di tempat tidur, rasanya nggak enak banget dengan kepala yang berputar-putar seperti ini.

Menjelang sore, saya bangun dan mandi supaya agak segar. Anak-anak saya suruh mandi juga. Setelah semua mandi kami keluar lagi dari kamar menuju dek luar. Di sana kami menikmati matahari sore dan pemandangan hamparan biru tua di sepanjang mata memandang. Tampak ikan terbang terlihat berlompatan memecah ombak. Rasanya tak bosan memandangi lautan.

Tak terasa senja menjelang, kami makan malam diteruskan dengan shalat magrib dan isya di mushola. Saya sempat mengabadikan momen sunset yang terlihat dari kapal, kelihatan indah sekali. Malam menjelang, angin laut semakin kencang, kami kembali ke kamar untuk beristirahat. Ada perasaan takut ketika akan tidur, gimana kalau pas tidur kapalnya kenapa-napa…..ah, dari pada berpikir yang enggak-enggak lebih baik banyak-banyak berdoa dan segera tidur saja. Rencananya besok pagi kapal akan bersandar di Pelabuhan Tarakan.

……bersambung……

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

4 thoughts on “Berlibur Di Atas K.M. Bukit Siguntang (Balikpapan-Tarakan-Nunukan) #3

  1. Hallo, Mbak Ira..Ini aku Inong yang dulu pernah komen di blog Mbak yang lama 🙂 Senang deh bisa ketemu lagi blog Mbak ini setelah sempat gak “ketemu” blognya Mbak Ira yang baru 🙂

    Baca pengalaman naik kapal Mbak Ira dan keluarga ini, jadi ngingetin aku masa-masa pulang ke Aceh naik kapal sampai ke Medan terus dilanjutkan dengan naik bis waktu aku kecil dulu 🙂 Dan jadi terbersit keinginan untuk bisa “nginap” di kapal lagi sambil memandang lautan luas dan sekali sekali melihat ikan beterbangan…

    Oh ya, dan aku izin follow ya, Mbak 🙂

    Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s