Posted in Jalan-Jalan

Berlibur Di Atas K.M. Bukit Siguntang (Balikpapan-Tarakan-Nunukan) #5

Selamat Pagi Tarakan Bagian 2

image

image

Tarakan “Pearl Harbour”-nya Indonesia

Terletak di wilayah Kalimantan Utara, kota ini menjadi salah satu kota yang baru-baru ini dikunjungi oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Tapi bukan itu yang mau saya bahas, melainkan sejarah kota Tarakan yang memiliki julukan “Pearl Harbour”-nya Indonesia pada Perang Dunia ke-II yang nyaris terlupakan. Kota kecil yang memiliki luas daratan sebesar 250,80 km persegi ini memiliki sejarah penting pada Perang Dunia ke-II karena merupakan salah satu tempat yang menghasilkan sumber minyak bumi yang sangat dibutuhkan oleh Jepang, Belanda dan Sekutu. Pada tahun 1942-1945 Tarakan diduduki oleh Jepang setelah berhasil merebutnya dari Belanda.

Tarakan adalah daratan pertama Nusantara yang diserbu bala tentara Jepang pada dini hari, 11 Januari 1942. Diawali dengan serangan udara pesawat Jepang terhadap posisi pertahanan pasukan Belanda yang lebih dahulu menguasai di sana. Sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit angkatan laut Jepang, mendarat di pantai timur Tarakan dalam dua kelompok. Pihak Belanda berusaha bertahan, meski tanpa harapan untuk bisa mengusir tentara Nipon. Bermodalkan 1.300 serdadu Batalion VII KNIL, segelintir kapal perang ringan, pesawat tempur dan bomber. Tak ketinggalan, para pegawai perusahaan minyak BPM (Bataafsche Maatschapij) juga dilibatkan sebagai milisi untuk membantu tentara Belanda.

Pulau kecil yang kaya minyak itu pun akhirnya bagaikan neraka. Sebelum pasukan Jepang mendarat, terlebih dahulu tentara Belanda membakar ladang-ladang minyak di Tarakan agar lawannya tidak mendapatkan pasokan bahan bakar. Dalam pertempuran tak seimbang itu, Belanda akhirnya kalah telak. Sebagian tentaranya tewas terbubuh, dibunuh dan lainnya menjadi tawanan. Tak sedikit pula korban di pihak sipil. Pada gilirannya terjadilah balas dendam terhadap Jepang. Lagi- lagi Tarakan menjadi neraka. Pasukan sekutu yang berintikan tentara Australia dengan bantuan Amerika Serikat (AS) mulai menggempur posisi Jepang di Tarakan.

Demikianlah perang Tarakan seolah terlupakan. Menjelang Perang Pasifik berakhir, tepat 1 Mei 1945, Tarakan digempur oleh 20 ribu serdadu Australia melawan 2.000 angkatan laut Jepang. Drama kemanusiaan babak kedua terjadi di sana.

Gempuran pasukan sekutu terhadap pasukan Jepang, secara simultan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang dikuasi, mulai dari Malaya, Pattani, Philipina, Hongkong sampai wilayah Jepang sendiri. Hal ini menyebabkan bantuan dari negara induknya semakin sulit. Pasukan Jepang di Tarakan pun harus berjuang sendiri di tengah gempuran pasukan Australia yang telah lama menyimpan dendam kesumat. Pasukan sekutu yang sebelumnya berhasil diusir Jepang dari berbagai wilayah pendudukan di Asia, kembali bangkit.

Di Tarakan, pasukan Jepang tidak hanya kalah jumlah, tetapi teknologi persenjataan juga sudah ketinggalam dari yang dimiliki pasukan sekutu. Tetapi, jiwa patriotisme tentara Jepang yang pantang menyerah terhadap lawan, menjadikan di pihak tentara Australia banyak jatuh korban.

Sampai berakhirnya perang di Tarakan, lebih dari 2.000 tentara dari berbagai kebangsaan, tewas di sana. Dari pihak Australia, sekitar 230 tentaranya tewas dan dimakamkan di Tarakan. Ini merupakan sebuah tragedi bagi negeri Kangguru itu. Kabar memilukan bagi rakyat Australia terjadi ketika Letnan Thomas Derrick tewas di tangan penembak gelap tentara Jepang yang bersembunyi di hutan belantara Tarakan. Derrick dikenal sebagai sosok pemberani, pernah bertempur di Afrika, Papua, dan akhirnya gugur di Tarakan menjelang perang dunia kedua berakhir.

Korban dari pihak Jepang sendiri juga cukup besar. Tercatat lebih dari 1.500 prajurit Jepang tewas saat merebut Tarakan dari tangan Belanda hingga pertempuran terakhir dengan pasukan Australia. Tarakan, sebuah pulau kecil yang kaya minyak. Tarakan pernah menjadi surga bagi kolonialis Belanda. Dari perut bumi Tarakan, selama bertahun-tahun Belanda mengisap kekayaan alam yang melimpah di sana. Begitu juga Jepang tatkala berhasil merebut pulau itu.Pada 1945 terjadi pertempuran sengit antara Sektu dan Jepang memperebutkan kota ini.

(Dikutip dari : Tarakan History ,Bettel of Tarakan 1942 , Bettel of Tarakan 1945)

Beberapa peninggalan sisa-sisa Perang Dunia ke-II masih bisa dilihat di kota Tarakan, meskipun katanya agak kurang terawat. Saya,suami dan anak-anak hanya sempat menengok ke Wash Tank yang letaknya tak jauh dari pelabuhan. Wash tank ini adalah salah satu tanki yang dibom oleh Belanda (lihat foto). Kami tidak sempat melihat-lihat peninggalan perang yang lainnya karena waktu yang sangat terbatas.

Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan

Destinasi selanjutnya adalah mengunjungi Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan . Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Tarakan tidak menyempatkan untuk mampir ke Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan yang berlokasi di Jl. Gajah Mada Tarakan. Dengan tiket masuk sebesar Rp 5000,- di tempat ini kita bisa melihat tumbuhan mangrove dan beberapa hewan yang hidup di daerah mangrove salah satunya adalah bekantan (Nasalis larvatus) salah satu hewan endemik hutan mangrove yang memiliki ciri-ciri : seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu berwarna coklat kekuningan dan memiliki hidung yang panjang dan besar. Bekantan ini digunakan sebagai simbol DUFAN (Dunia Fantasi). Bekantan adalah salah satu hewan liar yang dilindungi oleh undang-undang karena penyebaran hewan ini sangat terbatas dan memerlukan kondisi lingkungan tertentu. Ketika kami berjalan di tengah-tengah hutan mangrove ini, kami bisa melihat puluhan bekantan bergelantungan di atas pohon.

Selain melihat bekantan kami juga melihat ikan tembakul atau timpakul. Ikan tempakul ini hidupnya di lumpur ia bisa berjalan di daratan. Ciri khas ikan timpakul ini adalah Kedua matanya menonjol di atas kepala seperti mata kodok, wajah yang dempak, dan sirip-sirip punggung yang terkembang menawan. Badannya bulat panjang seperti torpedo, sementara sirip ekornya membulat. Panjang tubuh bervariasi mulai dari beberapa sentimeter hingga mendekati 30 cm. Sepanjang melintasi jembatan di dalam hutan mangrove yang terbuat dari kayu ulin/kayu hitam khas Kalimantan kami melihat banyak ikan tembakul, anak-anak sangat senang melihat ikan unik ini.
ikan timpakul
(foto diambil dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Tembakul)

Setelah puas berjalan-jalan di dalam Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Bekantan sambil menghirup udara yang segar dan melihat-lihat binatang yang ada di dalamnya, kami melanjutkan mengunjungi toko oleh-oleh Milo. Kabarnya toko Milo ini adalah salah satu toko oleh-oleh yang terkenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan yang melancong ke daerah Tarakan. Katanya juga oleh-oleh khas Tarakan itu adalah kerupuk ikan tipis dan berbagai camilan dari negeri Jiran Malaysia (termasuk produk susu Milo Malaysia). Oleh-oleh yang kita beli akan dikemas dengan rapi di dalam dus tebal oleh petugas toko.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 WITA, artinya 30 menit lagi kapal dijawdalkan akan berlayar meninggalkan pelabuhan Tarakan menuju Kabupaten Nunukan. Setelah membeli oleh-oleh kami bergegas kembali menuju pelabuhan. Perasaan kami agak was-was karena waktu sudah mepet kami takut ketinggalan kapal, untung saja Tarakan adalah kota kecil dan jalan menuju pelabuhan tidak jauh. Pk. 11 kurang kami sudah berada di pelabuhan, kami berempat berlari-lari menyusuri anjungan sambil memanggul dus oleh-oleh menuju K.M. Bukit Siguntang. Tak ayal orang-orang di pelabuhan melihat ke arah kami berempat. Sebenarnya agak malu dilihat orang-orang, tapi saat itu kami lebih baik malu dari pada ketinggalan kapal…hehehe. Dan alhamdulillah dengan nafas tersengal-sengal kami berhasil naik ke kapal…hufffft. Tepat pukul 11 WITA K.M. Bukit Siguntang berlayar meninggalkan pelabuhan Tarakan menuju tempat persinggahan berikutnya, yaitu Kabupaten Nunukan. Selamat tinggal kota Tarakan, rasanya kurang puas dan waktunya terlalu singkat menyambangi kota yang penuh peninggalan sejarah ini, kalau ada rejeki lain waktu kami akan kembali.

Ketika kapal sudah berada di lautan, kami masuk kamar untuk beristirahat…..capekkk abis lari-lari.

……bersambung……

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s