Posted in Jalan-Jalan

Berlibur Di Atas K.M. Bukit Siguntang (Balikpapan-Tarakan-Nunukan) #6

nunukan1

nunukan2

Nunukan

Kami tidak lama beristirahat di kamar karena ada dari speaker mendengar pengumuman sudah waktunya makan siang. Selesai makan siang kami berempat kembali masuk kamar untuk melanjutkan istirahat. Tujuan berikutnya adalah Nunukan. Diperkirakan dari Tarakan ke Nunukan membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam.

Sore hari setelah berisitrahat di kamar, kami berjalan-jalan ke dek luar. Sebagian besar penumpang sudah turun di Tarakan, jadi kapal terasa longgar. Tidak bosan-bosannya kami memandangi lautan sambil merasakan wajah kami diterpa oleh angin laut. Sesekali kami melihat ikan terbang berloncatan di atas air laut, pemandangan yang indah sekali. Sore itu sambil menikmati pemandangan laut, kami membeli ice cream Walls Cornetto, harga ice cream ini cukup fantastis jika berada di atas kapal. Untuk 3 buah ice cream kami harus merogoh kocek sebesar Rp 75.000,- saja.

Pukul 17 Wita kami sudah mendengar pengumuman bahwa makan malam sudah tersedia. Setelah makan malam kami shalat magrib di musholla kapal. Sebentar lagi kapal akan sandar di Pelabuhan Tunon Taka Nunukan. Waktu terasa cepat berlalu di atas kapal.  Kami bergegas menuju dek 5 pintu kiri. Di sana sudah para penumpang sudah berdesak-desakan sambil membawa barang bawaannya mengantri untuk turun kapal. Setiap akan turun kapal selalu seperti ini kondisinya, namun kali ini kami jauh lebih siap karena sudah punya pengalaman ketika turun di Pelabuhan Malundung Tarakan. Akhirnya kami menginjakkan kaki di tanah Nunukan tepat pada pukul 7 malam. Seperti biasanya pelabuhan akan ‘hidup’ jika ada kapal penumpang besar sedang berlabuh. Susana pelabuhan menjadi sibuk dan ramai. Kami berjalan kaki kurang lebih 300 meter menuju pintu gerbang pelabuhan. Di pintu gerbang kmi harus berdesak-desakan lagi karena banyak sekali orang-orang yang menjemput penumpang, ojek-ojek motor plus kuli angkut dengan gerobaknya.

Keluar dari pintu gerbang pelabuhan kami menyegat angkot, minta diantarkan keliling kota Nunukan. Nunukan adalah kota kecil, tidak ada mall hanya ada toko-toko kecil, pukul 7 malam suasana kota sudah gelap dan sepi. Oh iya karena berbatasan langsung dengan Malaysia, ketika kapal berlabuh sinyal hp kami mendeteksi sambungan internasional.

Kabupaten Nunukan

Adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Utara provinsi ke-34/ provinsi termuda di Indonesia, ibu kotanya terletak di kota Nunukan, mempunyai luas wilayah 14.493 km persegi. Kabupaten Nunukan merupakan kabupaten yang berbatasan darat maupun laut dengan negara bagian Malaysia yaitu Sabah dan Sarawak, setiap harinya di Pelabuhan Tunon Taka yang merupakan pelabuhan yang dikelola BUMN atau lebih tepatnya dikelola PT. Pelindo IV selalu dipadati penumpang yang pada umunya berdagang dan sebagian lagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berpergian ke Tawau, Sabah, Malaysia Timur. Nunukan juga memili bandara domestik yang akan dicalonkan sebagai bandar udara internasional yaitu Bandar Udara Nunukan sebagi bandara terbesar kedua di Kalimantan Utara.  (sumber : wikipedia , hankam.kompasiana , saripedia.wordpress.com )

Jangan kaget karena suasana yang kami alami malam itu gelap-gelapan, entah karena sedang mati lampu atau bagaimana,jalanan termasuk angkotnya pun gelap (kacanya gelap dan lampu dalam tidak dinyalakan). Kami pasrah saja dibawa oleh sopir angkot keliling-keliling kota. Kami dibawanya ke alun-alun kota, kami turun sebentar untuk berfoto, karena fotonya memakai hp dan suasananya gelap tidak ada lampu maka hasilnya kurang bagus. Setelah foto di alun-alun, kami dibawa ke Tugu Dwikora.

Tugu Dwikora Nunukan

Tugu Dwikora dibangun oleh Pangkalan Korps Marinir Surabaya bekerja sama dengan Lanal Nunukan dibantu oleh arsitek Ir. Hadi Mirza pada tahun 2013.

Keberadaan monumen ini menjadi bukti perjuangan para pahlawan pendahulu dalam mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan NKRI pada saat konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1964 ketika mempertahankan NKRI akibat neo kolonialisme, yaitu pada 3 Mei 1964 Presiden RI Ir. Soekarno menyerukan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) dan menjadi kebanggaan masyarakat Nunukan dan Indonesia secara keseluruhan. Menurut data sejarah, pada tanggal 15 Nopember 1965 Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamadya RE Martadinata pernah menjadi Irup (Inspektur Upacara) pada pelaksanaan upacara HUT KKO yang sekarang berubah nama menjadi Marinir di Nunukan.

Tugu Dwikora  Sebelum direnovasi  yang terbuat dari kayu ulin yang asli Kalimantan itu, ini hanya memiliki tinggi empat meter. Setelah direnovasi, Tugu Dwikora kini dibangun dari beton berlapis keramik dengan tinggi 17 meter.

Tugu ini memiliki tujuh sisi yang melambangkan Sapta Marga. Sementara di bagian pondasi tugu, terdapat plakat yang memuat nama-nama para pahlawan Dwikora yang gugur dalam konfrontasi dengan Malaysia dilengkapi stupa berwarna merah yang bermakna pemberani pada tiga sisinya berdiri dinding keramik juga setinggi 10 meter dengan tatahan tulisan besar Tugu Dwikora.

Bangunan Tugu Perjuangan Dwikora tersusun tiga alutsista antara lain Tank Amphibi PT-76 (merupakan tank yang digunakan dalam Ops Dwikora tahun 1964-1965 dan Ops Seroja tahun 1975-1979), Jangkar dan meriam Howitzer 122 mm yang diberikan secara khusus oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Marsetio kepada masyarakat Nunukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas jasa para pahlawan pendahulu dalam memperjuangan NKRI pada saat konfrontasi dengan Masalaysia pada tahun 1964.

Pada tanggal 14 Desember 2013 Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Dr. Marsetio meresmikan Tugu Perjuangan Dwikora.

Peristiwa perjuangan yang dimanifestasikan dalam Dwikora tersebut atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Pengganyangan Malaysia merupakan bukti kekuatan bangsa Indonesia kala itu dalam rangka menegakkan perdamaian dunia dengan menghapuskan segala bentuk penjajahan.

(dikutip dari : TNI-AL, Berita Kaltara)

Setelah puas berfoto dan melihat-lihat Tugu Dwikora, kami melanjutkan jalan-jalan di kota Nunukan. Ternyata sopir angkot mengemudikan mobilnya hanya berputar-putar di sekitar tugu dan alun-alun. Akhirnya kami turun dari angkot berjalan kaki menyusuri kota Nunukan yang gelap dan sepi. Kebetulan sendalnya Radit putus, terpaksalah saya gendong menyusuri jalan (hitung-hitung olah raga). Kami mampir di toserba untuk membeli sendal dan air mineral untuk bekal di kapal. Setelah itu kami kembali ke pelabuhan karena kapal akan berlayar meniggalkan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan pada pukul 10 malam.

Kami sudah tiba di atas kapal pukul 21 WITA. Tidak banyak yang bisa kami lihat di kota Nunukan pada malam hari, karena waktu yang kami miliki sangat sedikit dan suasana malam yang gelap. Setibanya di kapal kami langsung masuk kamar untuk beristirahat. Tepat pukul 22 WITA, kapal mulai berlayar meniggalkan Pelabuhan Tunon Taka Nunukan menuju Pelabuhan Semayang Balikpapan.

……bersambung…..

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s