Posted in Balikpapan

Cinta Dalam Selembar Kasur Butut (Serial Kasur Butut #1)

Balikpapan, 6 Oktober 2011

Saya akui memang saya ini orangnya narsis, suka heboh sama segala hal. Namun ijinkan saya untuk menorehkan kehebohan saya di blog saya sendiri ya! Hehehe 🙂

Iya, ini baru pertama kalinya saya ngikut suami pindahan jauh keluar pulau Jawa seperti sekarang ini. Meskipun jaman dahulu bolak-balik pindah ikut orang tua tugas disana-sini, gak dihitung ya, soalnya jaman dulu mah mo dibawa pindah kemana aja rasanya asyik-asyik aja, gak usah mikir apa-apa. Nggak kayak sekarang.

Sebelum pindah dari Cibubur, saya transit di Bandung selama kurang lebih sebulan. Di Bandung ini karena rasa sayangnya, baik mama saya sendiri maupun mama mertua selalu bercerita tentang pengalaman mereka pindah-pindah tugas melanglang buana menyambangi daerah-daerah di seluruh Indonesia. Dan cerita serta nasehat mereka sama plek. Intinya mereka berharap agar saya tegar mendampingi suami tugas dimanapun, dalam senang maupun susah.

Terus terang, mo pindahan kali ini nih beruntun beberapa kejadian sebelumnya yang menguras tenaga, perasaan dan biaya. Istilahnya kebernian kita untuk pindah betul-betul dilatari oleh keyakinan bahwa kita bisa dan yakin rejeki sudah diatur oleh Allah SWT, tinggal kitanya mau tidak  berusaha keras. Menurut hitung-hitungan manusia mah kagak mungkin dah, tapi kita percaya Allah lah yang Maha segalanya.

Untuk renovasi rumah, kita sempet pinjem uang sama ortu, supaya rumah dines ini layak dihuni. Karena suami gak terbiasa punya hutang, setelah dapet uang pindah dari kantor, cepat-cepat kami kembalikan uang pinjamannya. Untuk sekolah dan biaya pindahan dibayar pakai gaji. Otomatis segala sesuatunya nggak boleh neko-neko, harus sederhana dan apa adanya.

Salah satu untuk menghemat pengeluaran, suami saya yang sudah pindah duluan ke Balikpapan bertugas  merenovasi rumah dinas, mencari sekolah anak-anak, dan berburu barang bekas berupa perabotan rumah (lemari, kasur, tempat tidur,karpet, tabung gas sampai panci :)). Berburu ke temen-temennya yang mau pindah dari daerah sini. Lumayan, hasil perburuan dapet peninggalan lemari bekas 2 unit, meja setrikaan, panci, sebuah spring bed ukuran 120x 200m, dan dua buah kasur busa  butut ukuran 160x200m, yang satu sudah sobek-sobek yang satu lagi terbungkus sarung kasur dari sononya….(lumayan kan?). Oh iya kita juga dapet karpet tebal ukuran besar 2 lembar dengan harga murah.

Nah, si kasur butut ini nih yang bikin saya kemarin menangis bahagia. Pasalnya setelah dipertimbangkan masak-masak, kita memutuskan untuk tidak membeli kasur baru, anggarannya dialihkan untuk keperluan yang lain, karena sudah ada si kasur butut ini. Untuk mengakali supaya nggak terlalu butut, waktu di Bandung saya beli sarung kasur 2 buah, harganya jauuuh lah yaw dengan kalau membeli kasur baru. Kedua kasur butut itu kita jadikan satu dimasukkin ke dalam satu lembar sarung kasur yang kita beli di Bandung. Kita pun mewanti-wanti kepada anak-anak, supaya tidak ngompol atau muntah di kasur, soalnya kalau ngompol atau muntah kasurnya bakalan cepet rusak, secara kondisinya memang sudah cukup memprihatinkan. Eh, dasar anak-anak, masih aja ada yang ngompol dan muntah di kasur. Mau nggak mau sarung spreinya dibuka, kasurnya dijemur dan sarungnya dicuci. Bener aja, pas kasurnya dijemur, busanya pada ngeburudul kemana-mana. Dan ketika saya menyetrika sarung spreinya, saya baru ‘ngeh kondisi sarung kasur bawaan si kasur butut itu kondisinya nggak kalah memprihatinkan. Ada bolong dimana-mana, ada beberapa sobekan cukup besar, dan banyak corat-coret spidol :(.

Selesai menyetrika, saya jahit bagian yang sobek dan bolong-bolong itu. Ketika sedang menjahit itulah, saya menangis bahagia. Karena saya baru memahami nasehat dari mama dan mama mertua yang sering mereka sampaikan kepada saya tempo hari itu. Bahagia rasanya bisa mendampingi suami, meskipun semua dibalut dalam kesederhanaan, keterbatasan dan sampai harus tidur di kasur butut, namun rasa cinta dan bahagia itu rasanya melimpah ruah melingkupi kami sekeluarga :). Ah,  kalau tidak ada si kasur butut ini, belum tentu saya merasakan rasa bahagia sebesar ini.

*alhamdulillah…terima kasih Ya Allah*

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

One thought on “Cinta Dalam Selembar Kasur Butut (Serial Kasur Butut #1)

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s