Posted in Balikpapan

Kabarnya Si Kasur Butut (Serial Kasur Butut #2)

Balikpapan, 27 Desember 2012

Menyambung cerita tentang Si Kasur Butut milik kami. Saat ini si Kasur Butut tampak semakin tipis saja. Entah karena mungkin sebelumnya sudah ada saingannya, yaitu si Kasur Angin yang kami beli karena ada discount di Hypermart waktu itu. Jadi si Kasur Butut ukurannya terlihat lebih kecil dan tipis.

Bukan maksud ingin menyaingi Kasur Butut, pertimbangan kami waktu itu membeli Kasur Angin adalah untuk persiapan kalau-kalau ada anggota keluarga dari Bandung yang akan berkunjung ke rumah dinas milik negara yang kita tinggali sekarang ini.  Kalau kasur angin bisa dilipat, jadi nggak akan ribet kalau kami bawa pindah kemana-mana. Dan kebetulan juga saat itu, pas kita sedang jalan-jalan ke Hypermart ada discount 50% untuk pembelian Kasur Angin, tanpa pikir panjang, kita langsung membeli Kasur Angin.

Saya lupa, kapan tepatnya membeli Kasur Angin, mungkin sekitar awal tahun ini. Sejak ada Kasur Angin ukuran 160×200 cm itu, memang kami akui kami agak mengabaikan si Kasur Butut. Maklum saja, kasur baru gitu loh! Selama ini kami tidur di kasur yang ukurannya sempit dan tipis, bertemu dengan kasur yang kondisinya agak lumayan, ya kami jadinya tiap malam kebayakan tidur di Kasur Angin (jadi rebutan).

Nggak ada pilihan lain, tidur di Kasur Angin, kalau belum terbiasa sebetulnya bikin sakit badan loh! Tapi itu awal-awalnya saja, lama-lama terbiasa juga *terbiasa pegal-pegal maksudnya* :). Masih mending di Kasur Angin lah, dari pada Kasur Butut yang sudah tipis itu. Anak-anak juga rebutan tidur di Kasur Angin, dalam sekejap Kasur Angin menjadi idola kami di rumah.

Saking senengnya, anak-anak tiap hari hobby sekali loncat-loncat di atas Kasur Angin. Sudah diingatkan berulang kali pun, hasilnya nihil, mereka tetap saja loncat-loncat. Mungkin karena Kasur Angin lebih membal, tidak seperti Kasur Butut.

Sayangnya, suatu malam ketika Si Sulung sedang belajar matematika dengan Papanya, tiba-tiba dia tidak sengaja, menusukkan ujung pensilnya yang tajam ke pinggir Kasur Angin. Tak lama kemudian terdengar suara…”Pessssss”…disertai angin dari pinggir kasur :(. Ya, Kasur Angin bolong dan kempess :(.

Malam itu Papa berusaha keras menambal lobang Kasur Angin, dan ditiup lagi supaya bisa digunakan. Kami sekeluarga cemas melihatnya, khawatir kalau Kasur Anginnya rusak, nanti bagaimana nasib kami? Untungnya si Kasur Angin bisa ditambal dan dipompa lagi oleh Papa, malam itu dan beberapa malam berikutnya kami masih bisa tidur di Kasur Angin.

Yah harap maklum lah, namanya juga ditambal pakai lakban, kemungkinan untuk kempes kembali itu masih sangat besar. Nggak jarang ketika kami tidur si Kasur Angin diam-diam kempes. Ketika bangun di pagi hari kami sudah tertidur di atas kasur kempes…..posisi badan kami masuk ke dalam kasur. Jangan ditanya bagaimana rasanya….karena yang pasti setelah itu badan kami akan pegal-pegal seharian.

Tidak putus asa, Papa pun kembali memperbaiki Kasur Angin yang kempes itu dengan menambalnya lagi pakai lakban hitam, dan setelah itu ditiupnya lagi sampai mengembang keras. Sementara itu si Kasur Butut masih bersandar manis di pinggir tembok, belum juga kami gunakan lagi.

Anak-anak masih saja terus loncat-loncat di atas Kasur Angin setiap hari setiap saat. Sampai suatu hari….muncul suara “Pesssss…..” kembali dari si Kasur Angin. Segera saya memeriksanya, saya pikir tambalan rusak lagi, namun setelah saya periksa, baik-baik saja. Tapi kenapa bunyi “Pessss” semakin kuat dan Kasur Angin semakin kempes? Oh tidak….saya memeriksa bagian tengah kasur, ternyata asal suara “Pessss” itu berasal dari tengah kasur, tapatnya bagian sambungan kain Kasur Angin :(. Saya temukan robek yang cukup lebar dan sepertinya akan sulit untuk ditambal :(. Oooh…tidaaaak….Kasur Angin ini nggak boleh kempes lagi….!!!Saya lari ke toko bangunan yang nggak jauh dari rumah, demi menyelamatkan si Kasur Angin. Saya membeli Super Glue, lem serba guna seharga enam ribu rupiah yang katanya bisa mengelem apa aja. Saya berharap super glue bisa menyelamatkan Kasur Angin dari kempes.

Saya sendiri yang melakukan proses penyelamatan si Kasur Angin sore itu. Saya berhasil mengelem bagian yang robek kemudian supaya kuat saya lakban dengan lakban hitam. Tapi ketika dicoba ditiup….masih keluar suara “Pessss….” Hiks…..:( Kasur Angin tidak bisa lagi digunakan karena bocor :(.

Akhirnya kami kembali lagi menggunakan si Kasur Butut yang sudah hampir setahun ini setia bersandar di pinggir tembok menunggu kami. Kasur Butut yang kelihatan sudah semakin renta ini, terlihat semakin kecil dan tipis saja dari hari ke hari. Apa boleh buat,dari pada harus tidur di lantai beralas karpet, mendingan tidur di Kasur Butut.

Komentar Papa setelah kejadian ini : “Ok, nanti Papa akan dekati teman Papa yang akan mutasi, siapa tau bisa diminta matras springbednya buat kita pakai.”
Saya : “-__-”

=====================================================
Update : Malam tahun baru Papa mencoba meniup kembali si kasur angin, ternyata bisa dan tidak kempes lagi,mungkin saat saya membetulkannya tempo hari lemnya belum kering, sehingga angin masih bisa keluar, tetapi ketika sudah didiamkan beberapa waktu, lemnya kering dan merekat sempurna, saat ini kami sudah menggunakan kembali si kasur angin, semoga nggak kempes-kempes lagi, kecuali memang sengaja kami lipat,amin. *mohon doanya*

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

3 thoughts on “Kabarnya Si Kasur Butut (Serial Kasur Butut #2)

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s