Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, Balikpapan, Taekwondo

Berkelahi Di Sekolah

fighting
http://www.pixgood.com

Pernah nggak mengalami hal yang seperti saya alami ini? Pulang sekolah anak mengadu kepada kita kalau di sekolah mereka habis dijahili atau berkelahi dengan temannya.

Sejak pindah ke Balikpapan 4 tahun yang lalu, setiap hari si sulung mengadu hal ini kepada saya. Waktu itu dia masih duduk di kelas 2 SD. Saya dan Papanya menanggapi semua pengaduannya dengan cara cross check ke wali kelasnya dan semua itu benar adanya. Anak saya nggak berdaya apa-apa ketika dijahili oleh teman-temannya. Mungkin karena anak saya anak baru pindah. Waktu itu anak saya sampai stress dan nggak mau sekolah. Wali kelas mengaku kalau persoalannya sudah diselesaikan di sekolah, temannya yang jahil pun sudah ditindaklanjuti. Kejadian ini berlanjut sampai dia naik kelas 3 SD dan mulai berhenti di kelas 4 SD.

Dulu di sekolah lamanya di Cibubur, lingkungan sekolah anak saya cukup baik, sehingga anak saya merasa nyaman sekolah di sana dan tidak pernah ada masalah dengan temannya. Pindah ke Balikpapan karena mengikuti Papanya yang dimutasi, kami nggak punya banyak waktu untuk mencari sekolah dan nggak punya banyak uang juga saat itu untuk memasukkan si sulung ke sekolah yang terlalu mahal, yang katanya jauh lebih terjamin lingkungannya.

Sebetulnya jika bicara tentang jaminan sekolah mahal akan menjanjikan lingkungan yang benar-benar nyaman dan ‘bersih’ dari kekerasan rasanya nggak bisa begitu juga, nggak bisa dipukul rata. Karena sudah banyak juga buktinya justru bersekolah di sekolah mahal banyak juga kasus-kasus kekerasan yang terjadi.

Saya sama Papanya berharap anak-anak kami bisa menjadi anak-anak yang tangguh, bisa beradaptasi dimana saja. Karena keadaan yang mengharuskan kami seperti ini. Pekerjaan Papa yang akan selalu dimutasi ke seluruh penjuru negeri mengharuskan kami siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi ke depan. Iya kalau kami punya uang banyak sehingga bisa menyekolahkan anak-anak ke sekolah bagus seperti ketika si sulung di Cibubur dahulu. Tapi kondisi pindah-pindah yang nggak bisa ditebak ini bikin uang tabungan kita habis di’jalan’.

Kembali ke persoalan pengaduan si sulung karena dijahili oleh teman-temannya. Dulu dia takut sekali dengan temannya itu. Saya dan Papa mensupport agar ia tidak takut untuk melawan temannya yang jahil dan melaporkan kepada guru. Anak saya nggak mau melakukan itu, dia lebih memilih untuk tidak melawan karena jika ia melawan ia akan mendapatkan balasan yang lebih sakit lagi. Dan kalau melapor ke guru akan mendapatkan ancaman atau olok-olok dari temannya. Peran saya dan Papanya selain mensupport si sulung dari rumah agar tidak takut menghadapi temannya ini kami barengi dengan menjalin komunikasi yang baik dengan wali kelasnya. Lama kelamaan si sulung berani melapor kepada gurunya jika ia dijahili oleh temannya di sekolah.

Kelas 3 SD semester genap, si sulung berkeinginan ikut ekskul taekwondo di sekolah. Kami turuti keinginannya dengan syarat ia nggak boleh keluar dari ekskul ini selama setahun. Dia setuju dan alhamdulillah sampai sekarang dia dan adiknya masih mengikuti kegiatan ini. Malah sejak akhir November 2014 anak-anak minta ditambah latihannya di luar sekolah. Jadi dalam seminggu anak-anak berlatih taekwondo 3x.

Banyak hal positif yang bisa anak-anak ambil dari kegiatan bela diri ini. Diantaranya fisik mereka lebih sehat dan kuat, disiplin, taat pada aturan, menghormati senior, percaya diri dan lain-lain.

Ceritanya hari ini ketika bubaran sekolah, si sulung mengadu kepada saya kalau dia habis berkelahi dengan temannya di sekolah. Jadi, temannya yang suka menjahili dia sejak kelas 2 SD itu masih tetap sering berbuat jahil sama anak saya. Karena sekarang mereka sudah nggak sekelas, interaksi mereka agak berkurang nggak seperti dulu. Sudah dua hari ini si anak itu menjahili anak saya. Puncaknya tadi siang ketika jam istirahat. Si sulung sedang main di dekat kelas dengan teman-teman sekelasnya, tiba-tiba ia didorong dari belakang oleh si anak yang suka jahil itu. Lalu anak jahil itu juga menarik permen loli yang sedang diemut oleh temannya anak saya. Melihat hal ini anak saya marah, lalu ia membalas si anak jahil ini dengan pukulan….dan seterusnya mereka berkelahi sampai berguling-guling. Lalu tak lama bel masuk kelas berbunyi, anak-anak masuk kelas….perkelahian bubar. Di dalam kelas anak saya merasa kasihan dan merasa bersalah karena sudah membalas si anak jahil tadi. Ketika bubar sekolah, anak saya mendatangi kelas anak jahil itu dengan maksud meminta maaf, ternyata responnya anak saya malah ditampar oleh anak jahil itu. Anak saya nggak terima, lalu membalas dan terjadilah perkelahian babak kedua. Untungnya kemudian ada guru yang datang dan melerai mereka berdua, sepertinya guru tersebut tahu siapa yang salah, ia meminta si anak jahil untuk minta maaf kepada anak saya. Tapi dasar anak jahil ini memang terkenal sudah banyak memakan ‘korban’, ia menolak minta maaf ke anak saya dan malah ia berani melawan bu guru dengan hampir saja mau memukul bu guru.

Mendengar cerita ini keluar dari mulut anak saya, rasanya campur aduk. Di satu sisi saya bersyukur akhirnya anak saya berani melawan anak yang jahil itu. Tapi di sisi lain saya khawatir takut si anak jahil tersebut mengadu yang bukan-bukan ke orang tuanya dan seterusnya…seterusnya… (na’udzubillah).

Oh iya selesai si sulung menceritakan perkelahiannya itu, kemudian saya bertanya, “Kok sekarang kamu berani melawan teman mu itu Nak?” Jawabannya, “Aku berani karena aku sudah sering latihan sparing dan pernah ikut kejuaraan taekwondo, aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya kepala, badan dan kaki ku kena tendangan dan pukulan, makanya aku nggak merasa takut lagi sama dia.”

Setelah emosi si sulung mereda, kami nasehati pelan-pelan. Kami bangga dan berterima kasih karena ia sudah berani melawan karena dijahili oleh anak itu. Setelah itu kami ingatkan agar berhati-hati jika melawan anak yang seperti itu, jangan berlebihan dan termakan kemarahan, karena akibatnya akan merugikan dirinya sendiri. Bahwa memaafkan dan tidak memiliki sifat balas dendam adalah sikap yang jauh lebih mulia. Tak lupa, selalu mengingatkan anak-anak untuk membersihkan hati dan niat agar apapun yang kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Semoga kamu bisa memahaminya ya Nak, we love u. Ibu dan Papa

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

7 thoughts on “Berkelahi Di Sekolah

  1. iya, setuju. Sekolah mahal pun gak jadi jaminan tidak akan ada masalah dengan attitude siswa-siswanya.

    Anak saya juga pernah bermasalah dengan temannya. Tapi, alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Sekarang mereka juga jadi sahabatan

    Like

    1. Hmm… Saya habis berkelahi sampai benjoll lawan saya..gayanua sok preman, kuat, Dan sok paling keren..sampai tunjukkin siapa Yg benar.. Dia lari panggil abangnyaa..haha

      Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s