Posted in #BukanSuperMom, Balikpapan

Cobek Warisan | #NulisRandom2015

Hari ini saya mau bercerita tentang benda yang ada pada foto di atas. Ada yang tahu benda apakah itu? Ya, betul sekali itu adalah gambar cobek dan ulekan.

Cobek dan ulekan berukuran mungil ini adalah warisan dari mama saya. Persisnya saya tidak tahu sejak kapan mama memiliki cobek ini. Yang saya ingat, sejak saya masih SD cobek ini sudah menjadi salah satu penghuni rak piring di dapur mama. Kalau saya sekarang berusia di atas kepala tiga, artinya si cobek bisa jadi hanya beda beberapa tahun saja usianya dengan saya. Wah sudah cukup tua juga ya.

Jadi, sejak kapan sih si cobek dan ulekannya diwariskan pada saya?

Udah pada tahu kan saya nggak suka masak? Yang belum tahu saya kasih tahu deh barusan…hehehe 🙂 .  Karena nggak suka masak saya juga otomatis nggak suka mengulek bumbu. Biasanya masakan saya nggak pakai ngulek bumbu segala, kalau harus pakai bumbu halus ya tinggal beli yang sudah jadi dari pasar atau saya menghaluskan dengan blender/mini chopper. Praktis kan?

Sedangkan para sesepuh saya keukeuh mengatakan kalau cita rasa masakan itu bakalan lebih enak kalau bumbunya dihaluskan menggunakan cobek dan ulekan, bukan menggunakan blender atau minu choopper. Oooh….pantesan masakan saya nggak bisa seenak masakan mama or mama mertua karena saya nggak suka pakai cobek dan ulekan kali.

Ketika saya pisah rumah dengan mama alias pindah ke Jakarta, mama bertanya, “Kamu udah punya cobek belum?” Pada saat itu saya memang belum punya cobek. Lah buat apa  punya cobek, pikir saya. Kalau pun punya bakalan jarang digunakan, makanya nggak punya aja sekalian. Tapi kata mama saya harus punya cobek buat bikin-bikin sambel kek atau yang lainnya.  Saya tetap pada pendirian saya nggak perlu lah punya cobek.

Rupanya hal ini sampai di telinga tante saya. Suatu hari  waktu saya mau pindahan tante datang ke rumah mama dengan membawa sebuah keresek hitam berukuran besar. Saya lihat tante begitu bersusah payah membawa keresek hitam itu. Apa gerangan yang dibawa tante ya? Ternyata tante membawakan saya sebuah cobek dan ulekan berukuran besar. Oleh-oleh tante yang dari perjalanan  wisatanya bersama orang sekantor ke Yogya dan Candi Borobudur di Magelang.

Waduh, tante nih repot-repot amat sih ngebawain saya cobek dan ulekan dari Magelang. Kata tante cobek dan ulekan buatan kota Magelang itu terkenal bagus, batunya asli. Karena nggak enak udah dibawain jauh-jauh, saya terima si cobek dan ulekannya untuk dibawa pindah rumah ke Jakarta.

Setibanya di Jakarta, saya jaraaaaang banget bikin sesuatu menggunakan cobek. Capek ah harus ngulek-ngulek begitu. Bikin sambel juga jaraaaaaang, paling pas mama+bapak atau mamah+papap mertua atau kerabat saya bertandang ke rumah saja.

Suatu hari pas musim hujan di Jakarta, atap seng rumah saya ada yang terbang terbawa angin. Saat itu hujan deras dan angin kencang. Untung terbangnya masih di atap rumah tetangga dan cuma selembar yang terbang. Gara-gara itu, rumah saya bagian dapur bocor. Ketika hujan sudah reda, suami saya naik ke atap untuk membetulkan bagian yang bocor. Suami saya beli seng baru, dipaku biar kuat dan gak terbang. Nggak tahu kenapa pas hujan angin lagi, itu seng yang baru dibetulin kok bergeser, jadilah dapur saya bocor lagi meskipun bocornya nggak separah terdahulu. Suami saya naik lagi ke atap untuk membetulkannya.

Laaah….kok jadi nyeritain atap seng ya? Apa hubungannya sama cobek?

Jadi begini hubungannya, setelah membetulkan posisi seng, suami saya turun ke bawah, dia mencari-cari batu bata untuk menimpa seng supaya nggak geser lagi. Udah ketemu tiga batu bata, sisa satu nggak nemu-nemu. Lalu suami ke dapur dan melihat si cobek dari Magelang yang berukuran besar itu, suami minta ijin ke saya apa boleh si cobek dijadikan pemberat untuk seng supaya nggak bergeser? Saya ijinkan, karena dipikir-pikir saya nggak banyak pakai cobek buat masak. Nah, sejak saat itu si cobek pemberian tante saya dari Magelang punya tugas baru di atap untuk menjaga agar seng nggak terbang. 🙂

Alhamdulillah dua tahun aman nggak ada lagi kasus atap seng saya terbang pada saat hujan angin.  Sampai pada sebuah peristiwa yang nggak bisa saya lupakan seumur hidup saya yaitu ketika terjadi kebakaran di rumah saya  😦  . Dapur saya hancur berantakan atapnya bolong hangus dilalap si jago merah. Ketika proses pembersihan  di bagian dapur, saya menemukan cobek pemberian tante dari Magelang itu di atas rongsokan yang sudah terbakar. Cobeknya masih utuh loh! Cepat-cepat saya amankan si cobek itu supaya nggak diangkut sama tukang rongsokan.

Cobek dan ulekan pemberian tante saya masih ada sampai saat ini di rumah Jakarta. Saya tidak membawanya ke Balikpapan (beratttt bawa-bawa cobek besar). Tapi mama keukeuh nyuruh saya bawa cobek ke Balikpapan. Ya sudah, akhirnya saya menerima cobek mungil warisan dari mama yang konon kabarnya usia si cobek mungil ini hampir sepantaran dengan saya. Jadi begitulah ceritanya si cobek warisan bisa ada di tangan saya sekarang.

-tamat-

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

4 thoughts on “Cobek Warisan | #NulisRandom2015

  1. waktu kakak pergi ke kalimantan, minta dibawain cobek batu, karena lebih enak pakai yang batu daripada yang merah, apa itu namanya..
    baru kali ini, ke kalimantan bawa cobek batuk, cobek naik pesawat 😀

    Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s