Posted in #NulisRandom2015

Nostalgia Anak Kolong | #NulisRandom2015

Anak kolong adalah sebutan untuk anak tentara yang tinggal dan besar di tangsi/asrama  tentara. Kenapa disebut “anak kolong?” Konon jaman dulu tentara dan keluarganya hidup di tangsi atau asrama yang ukurannya sempit. Karena sempit, tidak bisa ditempati lebih dari satu tempat tidur. Maka anak-anaknya terpaksa tidur di kolong dipan atau tempat tidur. Dan anak-anak ini akhirnya punya sebutan ‘anak kolong”. Saya anaknya tentara, nggak…saya nggak pernah tidur di kolong kok. Cuma karena ada sebutan itu maka saya pun disebut “anak kolong”.

Sejak kecil saya sudah mengenal kegiatan Persit (persatuan istri prajurit) . Karena dulu mama adalah salah satu anggota Persit. Kalau bapak kita adalah anggota TNI, otomatis ibu kita wajib aktif di Persit.  Antara TNI dan Persit merupakan satu kesatuan yang nggak bisa dipisahkan. Kalau nggak salah (kalau salah mohon dikoreksi) Persit adalah organisasi yang menjadi bagian dari pembinaan di keluarga besar TNI. Hal ini sangat memperngaruhi dan memberi warna  dalam kehidupan keluarga saya.

Mama aktif sebagai pengurus Persit. Kalau mama kebagian piket di kantor Persit, pulang sekolah saya dan adik sering menuggu sambil main di sana atau di kantornya bapak.  Sebagai anak SD saat itu saya merasa senang sekali kalau pulang sekolah harus menunggu mama di kantor. Di sana saya bisa membaca-baca majalah dan buku yang disediakan di perpustakaan. Kadang saya menguping  ibu-ibu teman mama yang saling curhat. Cuma ngedengerin aja, tanpa tahu apa yang sedang mereka bicarakan 🙂 . Kalau ada teman sesama anak kecil, biasanya kami main bersama.

Nah kalau sudah bosan bermain di dalam ruangan, biasanya saya dan teman-teman main di luar. Di depan kantor Persit ada sebuah pohon asem berukuran besar dan tinggi. Kami bermain di bawah pohon asem yang rindang itu. Main petak umpet, mengumpulkan daun untuk dijadikan uang dan lain-lain. Atau kami main di lapangan halang rintang. Di sana ada tambang dan kita anak-anak bisa bergelantungan dan berayun-ayun sepuasnya.

Di dekat tempat halang rintang ada tempat parkiran mobil-mobil tentara dan meriam. Kita suka naik-naik ke atas mobil dan main petak umpet di sana. Di sana ada pohon kersen besar dan rindang. Kalau sudah capek bermain kita memetik buah kersen yang berwarna merah dan memakannya sambil beristirahat di bawah pohon kersen.

Paling seru kalau akan ada acara ulang tahun kantor bapak atau ada pejabat tinggi yang akan datang berkunjung ke kantor bapak. Pasti sebulan sebelumnya mama dan ibu-ibu lainnya sangat sibuk sekali mempersiapkan acaranya.  Mulai dari rapat-rapat persiapan, membeli berbagai keperluan untuk menyambut tamu, gladi-gladi, dan lain-lain. Setiap hari mama dan teman-temannya sibukkkkk dengan persiapan ini. Saya dan adik senang aja sih, karena kami kadang diajak jalan-jalan keliling kota mencari perlengkapan. Atau kami diajak ke tempat latihan untuk melihat langsung om tentara melakukan gladi. Atau main petak umpet di aula. Atau ikut latihan untuk tampil di acara. Kadang-kadang kita bisa bertemu dengan artis ibu kota yang sengaja diundang oleh kantor bapak untuk mengisi acara. Pernah juga ketika acara ulang tahun kantor, anak-anak diberi kesemptan naik helikopter.

Ketika bapak menjadi komandan, bapak secara rutin mengunjungi batalyon-batalyon di bawah pimpinannya. Mungkin ada dua atau tiga bulan sekali saya diajak ke Sukabumi, Purwakarta dan Bogor. Kami pergi menggunakan mobil dinas kijang kotak atau toyota hardtop kadang isinya berlima (bapak, mama, saya,adik dan supir) kadang harus bersempit-sempit dengan ibu-ibu yang turut serta. Saya kurang suka diajak bepergian, karena saya selalu mabok di mobil. Saya nggak kuat dengan jalan yang berkelok-kelok. Rasanya nggak sabar ingin segera sampai tujuan, tapi kok ya rasanya nggak sampai-sampai. Tersiksaaaa banget 😦 .

Saya  terbiasa mendengar suara dentuman meriam ketika om tentara sedang berlatih. Dan melihat pasukan tentara yang sedang latihan di lapangan. Mereka keren sekali, meskipun jumlahnya banyak gerakan mereka tetap kompak. Nggak seperti  saya dan teman-teman ketika latihan baris berbaris di sekolah, sudah latihan tiap hari masih aja ada yang nggak kompak….hedeuuuhhh.

Nggak terasa sekarang saya sudah jadi emak-emak. Kenangan masa kecil di lingkungan tentara masih melekat dalam ingatan. Suami saya bukan tentara, tapi masih sama sebagai abdi negara. Anak-anak sering saya bawa juga ke kantor papanya. Atau ikut saya di kegiatan DWP (Dharma Wanita Persatuan), karena  saya aktif di kegiatan DWP. Mungkin mereka juga nantinya punya kenangan tersendiri tentang lingkungan kerja ibu dan papanya.

Kehadiran anak-anak  membuka cakrawala dan wawasan mereka, akan memberi warna dalam hidup mereka  ketika dewasa kelak. Dan melahirkan cerita yang tak terlupakan semasa hidupnya.

 

 

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

4 thoughts on “Nostalgia Anak Kolong | #NulisRandom2015

  1. oh….. jadi itu cerita dibalik nama ‘anak kolong’. dari dulu saya penasaran dengan istilah yg digunakan untuk anak2 ABRI itu, baru sekarang dapat penjelasannya. makasih ya mbak ira infonya……

    Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s