Posted in #NulisRandom2015, Balikpapan

Angkot Mengejar Taxi | #NulisRandom2015

Pada hari-hari terakhir saya di Balikpapan ada aja kejadian konyol yang bikin deg-degan sekaligus lucu. Salah satunya adalah kejadian yang saya alami ini.

Hari itu saya masih sibuk berkemas, dari kemarin kok berkemas melulu nggak beres-beres ya? Hehehe, iya nggak beres-beres karena saya mengerjakannya sendiri lagi puasa pula alasan. Kebetulan hari itu saya udah janji dengan Mas Deny orang tata usaha sekolah untuk mengambil dokumen.

Sampai pukul 10.30 saya belum dapat kabar dari Mas Deny apakah dokumen sudah bisa saya ambil atau belum. Karena takut keburu petugas di sekolah pada pulang (kalau libur sekolah biasanya hanya setengah hari), maka saya telpon Mas Deny. Yang menjawab telpon saya suara perempuan, bukan Mas Deny.

“Mas Deny nggak ke sekolah hari ini, karena sakit,” kata perempuan itu.
“Maaf, saya sudah janji mau mengambil dokumen hari ini di sekolah.” kata saya.
“Oh yang dokumen itu disiapkan Bu.” jawabnya lagi.
“Jam berapa saya bisa ke sana dan bertemu dengan siapa kalau nggak ada Mas Deny?”
“Ibu sekarang ada di sekolah kah?” lanjutnya.
“Saya masih di rumah.” jawab saya.
“Kalau begitu Ibu harus segera ke sekolah, karena sebetulnya kemarin sudah dititipkan ke Dita, tapi baru saja Dita mengabarkan dia sudah pulang.” katanya.
Saya terkejut sekali, sejak pagi nggak ada kabar dari Mas Deny, dan sekarang orang yang dititipi dokumen sudah pulang. Ini gimana sih, coba kalau dari pagi saya dikasih kabar, saya pasti pagi-pagi datang ke sekolah. Agak emosi, karena tinggak beberpa hari lagi saya ada di Balikpapan. Bagaimana ceritanya jika saya pergi belum membawa dokumen itu.

“Kalau begitu bisa kah saya minta teleponnya Dita?” tanya saya, sambil mencari-cari pulpen untuk mencatat nomor telepon Dita. “Bisa, sebentar ya Bu….ini nomornya 08xxxxxxx” jawab perempuan itu.  “Baik, terima kasih.” Saya menutup mengakhirir pembicaraan dengan perempuan itu.

Lalu saya menelpon Dita. Benar saja, Dita sudah tidak ada di sekolah. Tapi kata Dita kalau saya segera ke sekolah sekarang juga,  ada bapak kepala sekolah, saya bisa mengambil dokumen itu ke beliau, tapi kalo nggak cepat-cepat takutnya bapak kepala sekolah keburu pulang. Waduh harus buru-buru nih!

Saya segera pergi ke sekolah, hanya si bungsu yang ikut, si sulung tidur di rumah. Saya berjalan bersama si bungsu ke tempat mencegat taxi argo. Di pinggir jalan saya dan si bungsu berharap bisa mencegat taxi argo. Orang Balikpapan menyebut taxi yang berupa mobil sedan dan ber-AC dengan sebutan taxi argo. Sedangkan kalau taxi  artinya angkutan kota alias angkot.

Sejak saya berdiri di pinggir jalan sampai sepuluh menit kemudian belum ada satu pun taxi argo yang melintas,  hanya taxi alias angkot saja yang hilir mudik. 

Sudah lama kami berdiri, akhirnya melintas di hadapan kami sebuah angkot jelek yang disopiri oleh seorang pemuda berkulit hitam. Sambil menyeringai menunjukkan giginya yang berwarna kuning, si sopir angkot menawarkan saya dan si bungsu untuk naik angkotnya. 

Saat itu saya pikir dari pada kelamaan nunggu taxi argo, mungkin lebih baik saya naik angkot saja siapa tahu saya bisa borong angkotnya untuk mengantarkan saya ke sekolah. Kemudian saya dan si bungsu naik angkot itu, duduk di depan.

Di dalam angkot yang sedang berjalan :
“Bang, saya lagi buru-buru nih mau ke Lapangan Merdeka. Bisa langsung antar saya ke sana kah?” tanya saya pada supir angkot.
“Kalau langsung nggak bisa Bu, saya cuma sampai terminal BP”, jawabnya.
“Tolongin saya lah Bang, saya lagi buru-buru nih, saya borong deh angkotnya.” saya keukeuh memaksa.
“Nggak mau Bu, saya takut distop sama polisi.” katanya juga keukeuh nggak mau.

Ketika kami sedang berdebat di dalam angkot, tiba-tiba dari belakang muncul sebuah taxi argo berwarna merah melaju dengan kecepatan rendah menyalip angkot. 

Taxi argo itu kosong tidak ada penumpangnya. Mata saya terbelalak melihat taxi argo. Tanpa pikir panjang, “Bang, itu ada taxi argo….tolong stop taxinya saya mau naik itu aja!!” pinta saya ke sopir angkot.

Sopir angkot lantas tancap gas mengejar taxi argo, tangannya melambai-lambai keluar jendela dan berteriak-teriak, “Woooi…..taxi….berhentiiiiiii!!!!!!”
Walaupun sudah di gas pol, angkot tidak bisa menyalip taxi argo yang melaju pelan di depan kami. Mungkin karena kondisi angkot yang sudah jelek. Namun sopir angkotnya tetap semangat ’45 berusaha mengejar taxi argo itu.

Adegan selanjutnya adalah aksi sopir angkot mengejar-ngejar taxi argo sambil berteriak-teriak dan sesekali membunyikan klakson yang suaranya bikin sakit telinga. Saya jadi ngeri, karena takut remnya blong. 

Tiba-tiba di depan angkot ada mobil, saya dan si bungsu spontan berteriak, “Awaaaaassss  mobil!!!”

Sopir angkot cepat menginjak rem. Alhamdulillah angkot berhasil direm dan tidak menabrak mobil.

Akhirnya taxi argo yang sejak tadi dikerjar-kejar dan diteriaki berhasil menepi. 

Hufffffhh………. saya dan si bungsu turun dari angkot masih dengan perasaan deg-degan.

“Terima kasih ya!” kata saya sambil menyerahkan uang enam ribu rupiah kepada sopir angkot. Sopir angkot menerima uang dari saya sambil menyeringai lebar menunjukkan gigi-giginya yang berwarna kuning. Tampak wajahnya penuh kemenangan. -_-“

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

2 thoughts on “Angkot Mengejar Taxi | #NulisRandom2015

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s