Posted in Ramadan, Renungan

Masa Tua

 

“Mungkin jika saya tidak dipertemukan dengan para sesepuh seperti kemarin, nggak terpikir oleh saya bahwa suatu saat nanti saya akan seperti mereka saat ini. Iya lah saat ini usia saya masih lebih muda beberapa kali lipat dengan mereka, raga saya masih segar bugar dan kuat, dan pikiran saya masih dalam kondisi prima. Saya bisa menggenggam dunia, melenggang di atasnya dengan bersuka cita.”

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali Hari Raya Idul Fitri saya dan keluarga kecil saya selalu pulang kampung. Berkumpul bersama orang tua dan keluarga untuk sama-sama merayakan Idul Fitri. Alhamdulillah pada lebaran kali ini kami masih diberi kesempatan untuk pulang kampung, berkumpul dan bersilahturahim dengan keluarga besar.

Dari tahun ke tahun selalu ada yang berubah. Ada beberapa anggota keluarga yang pada tahun ini sudah tidak bisa lagi kumpul berlebaran bersama karena sudah meninggal dunia. Keponakan yang tahun lalu masih imut-imut tahun ini ketika bertemu lagi sudah beranjak menjadi anak baru gede (abg). Sepupu yang beberapa tahun lalu masih baru masuk kuliah, sekarang sudah lulus dan diwisuda. Anak-anak yang dulu masih bayi, kini sudah menjadi balita berlarian kesana kemari sangat ceria. Ada juga beberapa saudara yang tahun kemarin masih terlihat sehat wal’afiat, ketika bertemu tahun ini kelihatan kurus dan lesu karena sedang sakit. Pada wajah kedua orang tua yang kami cintai serta para om dan tante kami semakin banyak guratan-guratan yang tergores di sana. Rambutnya yang rasanya kemarin nggak terlalu beruban, kini semakin banyak ditumbuhi uban. Semuanya berubah tak terkecuali.

Lebaran kali ini terasa istimewa karena saya lebih banyak dipertemukan dengan orang-orang yang sudah sepuh. Mereka adalah para orang tua, saudara dan tetangga saya. Saya dan suami menyempatkan diri untuk menemui mereka satu per satu. Mengunjungi orang yang sudah sepuh rasanya seperti melihat kehidupan di masa depan. Ya, suatu hari nanti saya pasti akan tua seperti mereka. Umur saya akan semakin berkurang, tubuh semakin renta, wajah saya akan keriput, rambut saya akan ditumbuhi uban serta tubuh saya mungkin tidak sesehat sekarang….wallohualam.

Berbincang-bincang dengan mereka menarik sekali. Biasanya mereka bercerita tentang anak-anak mereka yang sudah tidak lagi bersama-sama mereka. Kini mereka tinggal berdua saja suami-istri, atau kalau salah satu sudah ada yang meninggal, mereka tinggal seorang diri dengan ditemani salah satu anaknya atau dengan pembantu. Sesekali anak-anak dan cucu mereka akan datang untuk mengunjungi. Jika ada yang sedang sakit, mereka bercerita panjang lebar tentang suka duka menghadapi penyakitnya. Tak jarang mereka juga nostalgia bercerita tentang pengalaman masa mudanya ketika masih seumuran kami.

Mendengar para sesepuh bercerita buat saya seperti sedang membaca sebuah kamus besar kehidupan. Banyak hal yang diungkapkan oleh mereka yang belum pernah terpikirkan oleh saya. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya dengarkan dari mereka. Salah satu yang kemarin cukup menohok pikiran saya adalah ungkapan seorang nenek berusia 80 tahun yang sudah ditinggal oleh suaminya beberapa tahun lalu.
Beliau berkata, “Nak, dulu waktu saya masih muda saya orangnya gesit. Saya terbiasa aktif dibanyak kegiatan dan organisasi. Saya terbiasa berfikir cepat dan tanggap menghadapi segala hal. Saya nggak pernah nyangka nantinya saya akan dimakan oleh umur. Badan saya semakin tua renta, penglihatan saya semakin kabur dan lihat sekarang saya hanya bisa berjalan jika menggunakan tongkat.”
“Menjadi tua itu pasti Nak. Makanya gunakan masa muda mu untuk bekerja dan beribadah sebanyak-banyaknya. Didik anak-anak mu menjadi anak-anak yang soleh.”

Iya Nenek betul, menjadi tua itu pasti. Dan sekarang saya sendiri belum bisa membayangkan akan seperti apa kehidupan saya jika tua nanti. Iya kalau saya diberi umur panjang, jika tidak apakah saya siap, apakah bekal saya sudah cukup untuk kehidupan di akherat kelak?

Mungkin jika saya tidak dipertemukan dengan para sesepuh seperti kemarin, nggak terpikir oleh saya bahwa suatu saat nanti saya akan seperti mereka saat ini. Iya lah saat ini usia saya masih lebih muda beberapa kali lipat dengan mereka, raga saya masih segar bugar dan kuat, dan pikiran saya masih dalam kondisi prima. Saya bisa menggenggam dunia, melenggang di atasnya dengan bersuka cita.

Masa tua tak bisa dihindari. Bahkan harus dipersiapkan dari sekarang, mau apa nanti kalau sudah tua? Mulai sekarang harus banyak menabung. Menabung harta dan kebaikan. Kalau pun saat muda sedang besenang-senang, jangan sampai lupa semua akan ada akhirnya. Mau jadi baik atau buruk itu mah pilihan kita masing-masing.

Jadi ingat lirik lagunya Raihan yang berjudul “Demi Masa”.

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan nasehat kepada kebenaran dan kesabaran

Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali

Ingat lima perkara sebelum lima perkara
Sehat sebelum sakit
Muda sebelum tua
Kaya sebelum miskin
Lapang sebelum sempit
Hidup sebelum mati

Demi masa sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan beramal sholeh
Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita takkan menyesal
Masa usia kita jangan disiakan kerna ia takkan kembali

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

7 thoughts on “Masa Tua

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s