Posted in Binatang Peliharaan

Belajar Dari “Ibu Kucing”

Ncan si kucing dan Bob si kelinci
Ncan si kucing dan Bob si kelinci

Kadang-kadang sesuatu yang baik itu justru datang dari hal-hal  sepele yang nggak pernah kita duga sebelumnya. Iya, seperti halnya dengan Ibu Kucing ini. Mungkin kalau dulu kami memusuhi beliau gara-gara kucing-kucingnya selalu pup di halaman rumah kami, kami nggak akan dapat “pelajaran” apa-apa.

Hai..hai..kenalkan, ini Ncan si kucing dan Bob si kelinci. Mereka berdua adalah binatang yang sedang kami pelihara di rumah.

Ncan adalah kucing betina  yang kakinya pincang. Umurnya kayaknya masih remaja, badannya aja masih kecil. Ncan ini sering dikejar-kejar sama kucing besar berwarna abu-abu. Karena nggak tega ngeliatnya, kami usir si kucing abu-abu. Si kucing abu-abu ini suka bikin onar, dia suka ngacak-acak tempat sampah kami. Padahal kami sudah kasih dia makan di tempat khusus untuk makan kucing, tapi tetap saja si abu-abu ngacak-ngacak tempat sampah. Lain halnya dengan si Ncan, dia tuh nurut banget. Kalau saya bilang “Ncan…ayoo keluar!” dia langsung lari ke luar halaman. “Ncan, jangan acak-acak sampah ya!” eh, beneran loh dia nggak berani acak-acak sampah. “Ncan, nggak boleh pup di rumah ya!” Dan dia pun nggak mau pup di rumah. Ncan nggak kami ijinkan masuk ke dalam rumah, dia hanya boleh main di teras dan taman depan rumah. Dia nurut, nggak pernah bikin kotor teras rumah. Kerjanya seharian main-main saja di teras.

Sedangkan Bob si kelinci kita beli di tukang jualan kelinci yang mangkal di pasar SOS yang cuma ada setiap hari minggu. Dulu waktu beli, Bob masih umur 1,5 bulan…masih baby dan masih imut-imut. Sekarang badannya sudah besar sekali. Waktu masih kecil dua minggu sekali  saya suka mandiin si Bob. Tapi lama-lama setelah badannya besar, nggak saya mandikan karena sudah besar dan berat. Bob suka makan, kalau kami terlambat ngasih makan, dia suka lompat-lompat di dalam kandangnya bikin kehebohan. Dia kami beri makan pelet, kadang-kadang kami beri sayuran. Kalau kami ke Bandung, kadang-kadang kami bawa. Dia senang sekali kalau ada di Bandung, mungkin karena suhu udara di sana lebih dingin ya. Pup dan kencingnya si Bob saya kumpulkan dan dijadikan pupuk. Kotoran kelinci bagus sekali untuk pupuk tanaman. Tanaman  jadi tumbuh subur.

Terus terang baru kali ini kami berhasil memelihara binatang berkaki empat. Soalnya dari dulu, kalau memelihara binatang berkaki empat hanya bertahan paling lama sebulan, karena pasti mati. Alhamdulillah, Ncan dan Bob sampai sekarang masih hidup. Semua ini gara-gara kami belajar dari “Ibu Kucing”.

“Ibu Kucing” apaan sih?

Waktu di Balikpapan, kami bertetangga dengan seorang ibu penyayang kucing. Kami sebut dia “Ibu Kucing”. Rumahnya persis di depan rumah kami.

Baca di sini : Tetanggaku Keluargaku

Kucing yang dipelihara adalah kucing liar. Ada belasan kucing liar yang dipelihara oleh Ibu ini. Dia memelihara tak pandang bulu, mulai dari anak kucing, kucing yang cacat, semua dipelihara dengan baik. Setiap kucing dia beri nama, kami sampai hafal nama-nama kucingnya. Awal-awal bertetangga dengan Ibu Kucing saya dan suami kesal sekali, karena kucing-kucing peliharaannya suka pup di halaman depan rumah kami.

Baca juga yang ini : Menanam Pohon Menanam Harapan

Tapi gimana ya, mau marah kan nggak enak sama tetangga sendiri. Lagi pula Ibu Kucing baik kepada keluarga kami. Dan dia juga suka membersihkan pup kucing yang ada di halaman rumah kami. Akhirnya ya sudah kami berusaha menerima apa adanya kondisi ini. Nggak mau ribut deh.

Bertetangga dengan Ibu kucing secara tidak langsung memberi kami pengalaman dan pelajaran baru tentang bagaimana merawat, memperlakukan dan menyayangi binatang. Beberapa kucing milik Ibu, kami biarkan bermain-main di halaman dan garasi rumah kami. Mereka suka membantu kami mengusir tikus-tikus yang masuk ke rumah kami. Kadang anak-anak juga ikut memberi makan kucing-kucing milik Ibu.

Kucing adalah biantang penurut, dia bisa kita ajari untuk tidak pup sembarangan, tidak masuk ke dalam rumah dll. Caranya dengan mengajak si kucing berbicara berulang-ulang. Lama-lama kucing mengerti apa maksud kita dan dia nurut. Apalagi kalau kita nggak lupa memberinya makan. Kalau ada kucing yang mengganggu kita, jangan ditendang atau dipukul, kasihan dia bisa merasakan sakit. Cara mengusirnya adalah dengan menyemprotkan air ke tubuhnya, sambil ngomong, “Hus, jangan main di sini…sana keluar!” lakukan ini berkali-kali, kucing pasti kapok nggak main di rumah kita.

Empat tahun kami sekeluarga akhirnya akrab dengan kucing dan sedikit-sedikit tau bagaimana cara memelihara binatang. Kadang-kadang sesuatu yang baik itu justru datang dari hal-hal  sepele yang nggak pernah kita duga sebelumnya. Iya, seperti halnya dengan Ibu Kucing ini. Mungkin kalau dulu kami memusuhi beliau gara-gara kucing-kucingnya selalu pup di halaman rumah kami, kami nggak akan dapat “pelajaran” apa-apa.

Terima kasih Ibu Kucing 🙂

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

5 thoughts on “Belajar Dari “Ibu Kucing”

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s