Posted in #BukanSuperMom, curcol

Mengambil Rapot Anak

Hari ini sebagian sekolah sudah ada pengambilan rapot semester ganjil. Kalau anak-anak saya baru besok dibagi rapotnya. Status bbm, wa, fb, path dll hari ini hampir semua sama isinya, yaitu tentang hasil rapot anak-anak.

Setiap kali hari pengambilan rapot ada hal yang bikin saya gemes dan jadi ingin curhat di sini..hehehe. Saya menemukan beberapa kali dan hampir di semua sekolah (anak saya kan sekolahnya pindah-pindah) ada ibu yang menjelek-jelekkan anaknya di depan guru karena nilai rapot. Terus yang bikin saya nggak  ngerti sama sekali adalah, si ibu itu mengadukan anaknya ke guru karena belajarnya kurang serius jadi nilainya kurang memuaskan.  Padahal, anaknya si ibu itu sedang menenteng piala karena ia masuk rengking tiga besar. Begini contoh percakapan si ibu dengan guru, sementara si anak duduk manis di sebelah ibunya sambil menggendong piala.
Ibu  : ” Aduh, kok nilai kamu sekarang turun sih? Kamu sih belajarnya nggak serius (sambil nunjuk-nunjuk ke hidung anaknya). Bu guru, ini anak saya sekarang banyak main ya di sekolah, belajarnya nggak serius, jadi nilainya turun.”
Bu Guru : (senyam -senyum aja)
Saya yang duduk gak jauh dari mereka lalu tepok jidat.

Saya nggak ngerti ini ibu maksudnya apa ya? Mau pamer karena anaknya berprestasi, jadi pura-pura complain tentang anak di depan guru dan ortu lainnya. Atau dia tipe ibu yang nggak puas sama hasil kerja keras anaknya. Aneh aja, udah jelas anaknya dapet piala masuk rengking tiga besar, masih ngomel seperti itu. Kalau anak saya bisa dapat piala, saya mah bakalan sujud syukur dan mengucapkan terima kasih pada bu guru dan anak saya tentunya. Udah itu aja cukup, nggak pakai complain lagi dah.

Lalu bagaimana dengan nasib anak yang nggak mendapatkan rengking? Mau kecewa seperti apa ibunya? Malu udah pasti, sedih iyaa, pengen ngomelin anaknya…bangett. Tapi bagaimana ya memang hasilnya sudah seperti itu. Jadi galau kan?

Menurut saya begini, yang berkaitan dengan hasil rapot anak dulu ya. Buat saya kalau mau berusaha dan ‘memecut’ anak sebaiknya dilakukan ketika belum bagi rapot, tepatnya pada saat belajar dan ujian. Bikin kesepakatan sama anak deh, “Nak, kalau kamu rajin belajar dan nilainya bagus nanti Mama kasih kamu…..kalau kamu belajarnya malas uang jajan Mama kurangi ya.” (ini contohnya). Jangan lupa biasakan anak untuk selalu mengingat Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Belajar keras diiringi berdoa pada Allah. Nanti selesai ujian tinggal berdoa sambil menunggu hasil. Tetaplah berdoa meminta hasil yang terbaik. Lalu ketika pembagian rapot, ajarkan anak untuk bisa menerima semua hasil kerja keras dan doa yang selama ini udah diusahakan (bukan cuma anak sih, ortunya juga harus bisa menerima kenyataan).

Kalau hasilnya baik, ajak anak untuk bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada guru. Jangan lupa untuk menepati janji sesuai kesepakatan yang sudah dibuat. Ucapkan terima kasih pada anak atas kerja kerasnya. Jangan membiasakan mengeluh ini itu apalagi di depan anak. Nanti anak nggak belajar bersyukur. Nggak usah berlebihan mengekspresikan kebahagiaan kita, santai…biasa ajaa.

Kalau hasilnya jelek, ya sudah terima saja apa adanya. Jangan menjelek-jelekkan anak di depan guru, teman-temannya dan orang tua murid. Ingat, anak juga punya harga diri loh! Sebelumnya kan sudah punya kesepakatan dengan anak, penuhi kesepakatan itu, nggak usah ngomel-ngomel. Anak akan belajar bersepakat dan menerima konsekwensi dari apa yang telah diperbuatnya.

Kalau curiga ada salah nilai, sebaiknya kumpulkan bukti-bukti nilai ulangan, datangi guru, lalu cross cek bersama. Jangan bisanya cuma menjelek-jelekkan guru di belakang.

Itu soal hasil rapot. Selanjutnya tentang sikap empati kita sama ortu yang anaknya nggak dapat rengking. Pernahkah membayangkan ibu berada di posisi itu? Bagaimana rasanya jika kita ketimpa musibah lalu di depan kita melihat orang lain dapat rejeki lebih terus berlebihan mengekspresikannya (ya, bahasa lugasnya mah sombong). Rasanya pediiih Jendral!!
Iya, begitulah rasanya. Apalagi kalau sampai membuat orang lain menjadi iri hati. Aduhhh perasaan cuma urusan rapot anak-anak ya, kok jadi kemana-mana sih?
Intinya mengekspresikan bahagia boleh…itu hak kita kok, tapi…ingat tidak berlebihan, ingatlah perasaan orang lain.

Buat yang kebetulan nilai rapot anaknya kurang bagus juga jangan putus asa ayo evaluasi diri. Mungkin selama ini kurang memperhatikan anak (atau terlalu menyerahkan anak pada les bimbel dan kurang dikontrol). Berarti semester depan harus diperbaiki. Anaknya diajak untuk lebih rajin lagi belajarnya, diperhatikan dan ditemani. Dilihat juga kemampuan anak, percayalah Tuhan tidak menciptakan anak bodoh. Semua anak punya potensi berbeda, nggak semua harus jadi rengking satu dalam bidang akademis. Pertajam feeling ibu/bapak untuk mengenali bakat dan minat anaknya. Selalu bersyukur, alhamdulillah anak saya walaupun nilainya biasa aja tapi anaknya soleh banget, shalat nggak pernah ditinggalin dan rajin mengaji (misalnya). Nggak usah iri sama yang anaknya rengking. Iri hati nggak bakal mengantarkan anak-anak kita menjadi sukses.

Oh iya menghargai sebuah proses itu menurut saya penting ya. Karena hidup ini nggak ada yang instan. Jangan sampai kita menjerumuskan anak menjadi anak yang frustasi karena kecewa dengan hasil yang nggak sesuai dengan harapannya. Atau malah menjadikannya anak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, karena selalu berpatokan pada hasil. Naudzubillah himindzalik!

Pilih mana anaknya sukses tapi kurang bahagia atau sukses dan bahagia?
Saya pribadi menginginkan anak-anak saya menjadi anak yang soleh dan bahagia dunia akherat…aamiin.

Sudah siap menerima hasil rapot anak-anak? Semoga hasilnya bagus yaa…
Selamat berlibur.

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

18 thoughts on “Mengambil Rapot Anak

  1. Tadi pagi ibu mengambil rapot adik yang duduk di bangku kelas 6 SD. Hasilnya bikin ketawa saya sendiri. Dapat rangking 3. Padahal kalau saya perhatikan adik saya yang satu ini jarang belajar ha ha ha.

    Tapi bersyukur deh hasilnya memuaskan.

    Like

    1. Alhamdulillah, selamat ya untuk adiknya. Sepantaran anak saya, kelas 6 juga 🙂 .
      Biasanya kalau anak yg kelihatan jarang belajar tp prestasinya bagus itu nangkap pelajarannya di kelas ketika guru sedang menerangkan, biasanya begitu.

      Like

  2. saya memilih sekolah dasar yang memang tidak ada sistem rangking2an dan kompetisi…kalaupun ada dilarang kerasa menyebarkan..sistem seperti ini juga ada di negara2 skandinavia…rangking2an di SD menurut saya ya adalah hal yg lebih bnyk mudhoratnya daripada bagusnya…selalu ada anak yg akhirnya memiliki imej buruk terhadap dirinya sendiri, padahal semua anak memiliki keahlian berbeda, ada 9 jenis kecerdasan kalau tidak salah…masa sd justru adalah saat kita mendeteksi 9 kecerdasan itu, bukan melulu nge-push di beberapa jenis kecerdasan yg selama ini sgt dihargai masyarakat dan dianggap sebagai faktor sukses.

    dan kabar buruk buat ibu itu, saya sering dengar dari psikolog anak bahwa anak yg sering dibanding2kan dan dipermalukan di depan orang lain jarang yang sukses…biasanya mereka mengalami halangan psikis di kemudian hari..

    Like

  3. Terus yang bikin saya nggak ngerti sama sekali adalah, si ibu itu mengadukan anaknya ke guru karena belajarnya kurang serius jadi nilainya kurang memuaskan. Padahal, anaknya si ibu itu sedang menenteng piala karena ia masuk rengking tiga besar <— saya kemarin juga mengalami hal yang persis sama Mak. Ibunya ngadu anaknya malas belajar, padahal anaknya ranking 2.

    Like

  4. Semoga kita belajar banyak dari cerita yang Mbak Irai tulis..
    Jadi ingat ceramah yang saya dengar beberapa hari yang lalu, kita ini terlalu pelit memuji orang lain..
    😦

    Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s