Posted in Bandung

Mengejar Pemilik Mata Teduh Di Kota Bandung

bumi pasundan
Foto koleksi pribadi

Siapa yang tak kenal dengan Bandung? Kalau ngomongin soal kota yang satu ini pasti tak ada habisnya. Terkenal dengan berbagai kulinernya yang enak-enak, tempat wisatanya, warga kotanya yang ramah, peninggalan gedung-gedung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, mojang Bandung yang cantik-cantik, fashionnnya,  dan lain-lain. Ah, siapa sih yang tidak kenal dengan Walikota Bandung Kang Ridwan Kamil yang tersohor itu? Hampir setiap orang yang pernah menginjakkan kaki di Bandung memiliki kesan tersendiri yang tersimpan di berbagai sudut kotanya.

Begitu juga dengan saya. Sejak kuliah saya tinggal di kota Bandung. Punya suami orang Bandung, anak-anak saya lahir di Bandung. Bahkan tim sepak bola favorit saya adalah PERSIB si Maung Bandung. Bisa dibilang kalau tentang Bandung, saya nyaris khatam. *nyaris soalnya baru-baru ini KTP saya sudah bukan KTP Bandung*

Saya tidak akan bercerita tentang kuliner atau tempat wisata di Bandung. Karena bukan itu sih daya tarik Bandung untuk saya. Saya ingin menulis tentang Bandung awalnya karena postingan status saya di FB beberapa tahun yang lalu. Yang isinya bertapa beratnya saya meninggalkan kota ini ketika harus hijrah. Ada apa sih dengan kota Bandung sampai saya segitu cintanya sama kota yang satu ini??

Ketika saya hijrah meninggalkan Bandung, sejauh apa pun jaraknya dari  Bandung, saya dan suami selalu berdoa memohon kepada Sang Pencipta agar diberikan kemudahan untuk pulang ke Bandung. Wah, belum apa-apa kok sudah ingin pulang ke Bandung sih? Bukan, bukan itu masalahnya. Alasannya adalah hati kami tertambat di sana  pada belahan jiwa yang tinggal di Bandung yaitu kedua orang tua kami, para pemilik mata teduh (begitu saya menyebutnya).

Saya menyebut mereka pemilik mata teduh. Mata itu memang sudah tua. Mata yang terlebih dahulu melihat kehidupan ini jauh sebelum kami lahir ke bumi. Membuatnya seakan-akan bisa melihat masa depan. Kemudian mereka menceritakannya kepada kami yang kami maknai sebagai nasehat, bekal  untuk menapaki kehidupan. Dan mata itu akan berbinar-binar ketika mendengarkan kami bercerita tentang kesuksesan  di perantauan menaklukkan berbagai tantangan.

Waktu masih tinggal di Jakarta hampir dua minggu sekali ( kadang seminggu sekali) kami pulang ke Bandung untuk bertemu dengan orang tua. Kesempatan  ke Bandung kami manfaatkan sebanyak-banyaknya untuk bercengkrama bersama kedua orang tua. Sementara mungkin orang lain melancong ke tempat-tempat wisata dan kuliner di kota Bandung, saya dan suami memilih untuk berada di rumah, menikmati setiap detiknya bersama mereka.

Begitu juga ketika saya dan keluarga harus pindah ke Kalimantan  . Kadang-kadang suami harus dinas luar ke Jakarta dan sekitarnya. Kesempatan ini digunakan olehnya untuk mampir ke Bandung menengok orang tua. Sebetulnya selesai dinas ingin langsung pulang ke Balikpapan, karena di sana meninggalkan istri dan anak-anak hanya bertiga saja. Tetapi yang namanya kesempatan untuk menengok orang tua sayang untuk disia-siakan.

Setiap libur semester saya dan anak-anak pasti mudik ke Bandung. Sebetulnya agak berat untuk ekonomi keluarga kami, karena tiket pesawat Balikpapan-Jakarta pp harganya tidak murah apalagi di musim liburan. Belum lagi biaya hidup di Balikpapan sangat tinggi. Membuat kami tidak bisa menabung selama tinggal di sana, karena uangnya terpakai untuk membeli tiket pesawat. Tapi saya dan suami saling menguatkan satu sama lain. Kita punya niat yang sama, mumpung orang tua masih hidup, mumpung kami masih diberi kesempatan, ayo kita pulang kampung untuk menengok mereka. Kami mengatur hidup di perantauan supaya semuanya tetap cukup.  Dengan cara hidup sederhana dan tidak neko-neko.   Soal rejeki, kami serahkan pada Yang Maha Kuasa, yakin seyakin-yakinnya  Allah SWT tidak akan menelantarkan kami selama masih terus berusaha dan berdoa.

Bagi saya masih memiliki mereka di dunia ini adalah harta yang sangat berharga. Sebagai anak, saya pikir sampai kapan pun kita tidak pernah bisa membalas semua pengorbanan orang tua. Dan saya juga sadar mereka pun tidak mengharapkan balas budi dari anak-anaknya. Harapan mereka cuma satu, yaitu melihat anaknya sukses dan bahagia dunia akherat (kalau orang tua kami sih begitu). Tapi sebagai anak, kami punya keinginan untuk bisa berbakti kepada orang tua.

Tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, Allah SWT memuliakan kedudukan orang tua dan tertuang dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam surat Lukman : 14, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembali mu.”

Salah satu bentuk bakti kami kepada orang tua  yang masih hidup adalah dengan mengunjungi mereka. Sejauh mana  kami punya kesempatan untuk menengok mereka? Kalau menunggu kesempatan kayaknya susah. Apalagi di tengah-tengah kesibukan sehari-hari, belum lagi masalah biaya dan lainnya. Salah satu caranya adalah setiap kali ada kesempatan  segera meringankan langkah untuk bertemu mereka. Tentu saja saya dan suami harus kompak karena kita punya niat yang sama, harus saling mengingatkan agar sama-sama ikhlas menjalaninya.

Katanya diam-diam kedatangan kami sangat dinanti. Jika mendapat kabar mereka sedang sakit, begitu kami datang mereka kelihatan sehat dan ceria. Sepertinya kehadiran kami menjadi obat bagi mereka. Mungkin hanya semalam bisa bersama, tapi mudah-mudahan yang semalam itu bisa membahagiakan hati mereka….semoga.

Sering kali kami belum bisa membawakan mereka buah tangan yang layak, apalagi  memberikan mereka hadiah mewah. Kadang kami datang dengan tangan hampa, karena uang kami habis untuk tiket dan sebagainya.  Kami datang hanya membawa diri, hadir di hadapan mereka. Membawa kabar yang baik-baik dan segenap jiwa raga kami yang siap mendengarkan semua keluh kesah mereka. *maafkan kami  Ma, Pa*

Kami datang untuk menawarkan bahu kami. Ma, Pa, jangan khawatir semua pasti baik-baik saja. Ma, Pa, jangan bersedih….kami tidak akan pernah melupakan kalian. Orang yang paling berjasa dalam hidup kami. Orang yang paling sabar dan selalu memaafkan kesalahan kami. Orang yang selalu menerima kami dengan tangan terbuka, disaat orang lain menolak kami. Dan kalianlah orang yang siang malam selalu menyebut nama kami dalam doa. Tentu saja kami akan membantu kalian menghadapi masa tua  dengan sekuat tenaga, doakan kami Ma, Pa… semoga kami bisa menjadi anak-anak yang berbakti dan membahagiakan hidup kalian.

Saya datang ke Bandung karena rindu dan cinta. Rindu dan cinta kepada kedua orang tua dan mertua saya yang tinggal di sana. Mereka adalah magnet yang selalu menarik saya untuk datang dan datang lagi ke Kota Bandung. Bertemu dengan mereka adalah kebahagiaan saya. Senyuman dan peluk hangat mereka adalah oleh-oleh yang paling istimewa buat saya.

Bandung…..kutitipkan orang-orang yang aku cintai ini pada mu.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

14 thoughts on “Mengejar Pemilik Mata Teduh Di Kota Bandung

  1. Aku terharu baca posting ini, Mbak…Dan jadi keinget diri sendiri. Kayak aku pernah cerita di berbagai posting aku, salah satu cita-citaku adalah kerja dan tinggal di Jepang. Tahun lalu malah pernah dapat tawaran kerja sebagai penterjemah bahasa Indonesia di sebuah perusahaan IT di daerah Fukushima, Jepang 🙂 Cuma langsung aku tolak, karena ingat kepada Ayah Bunda yang cuma tinggal berdua di rumah (Bertiga sama aku) 😦 Abang dan adikku sudah menikah dan tinggal di rumah mereka masing-masing, jadi kalo aku tinggal orang tua ke Jepang, siapa yang nemenin mereka di rumah. Secara Abang dan adikku paling cuma bisa berkunjung ke rumah seminggu sekali aja. Dan satu yang jadi pedomanku sekarang, karena sampai sekarang aku belum menemukan jodohku, insyaa Allah salah satu pintu menuju surga Allah buat aku adalah menemani dan berbakti kepada kedua orang tua di masa tua sampai akhir hayat mereka 🙂 Dan aku cuma bisa berdoa dan berkeyakinan bahwa Allah akan mengabulkan permintaanku untuk bekerja dan tinggal di Jepang pada saat yang tepat nanti..Aamiin…

    Like

  2. Duuh… Mewek bacanya. Saya juga perantau. Kalau Mbak Ira di Balikpapan saya di Banjarmasin. Belum tentu setahun sekali bisa pulang. Kalau nggak pulang biasanya orang tua yang saya boyong ke sini. Mertua atau orang tua sendiri buat saya sama saja. Apalagi masing2 dari saya dan suami tinggal punya satu orang tua. Saya tinggal punya ayah dan suami tinggal ibu saja. Sama2 berat saat harus pulang lagi ke sini setelah liburan panjng di kampung halaman. Apalagi anak2 lengket banget sama kakek neneknya. Makin berat aja.

    Saat berjauhan, nggak ada yang lain selain doa buat mereka Mbak. Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi mereka…. Amiin

    Like

  3. Terasa nyesak di dada membaca postingan ini mba, ketika teringat masa-masa awal kehidupan keluarga kecil saya. Begitu selesai kawin langsung berangkat ke kota lain demi tugas dan pekerjaan. Meninggalkan kedua orang tua kami berdua yang sebenarnya masih sangat ingin bersama dan bercengkerama dengan kami. Tapi apalah daya masa cuti saya yang diberikan oleh kantor sudah habis. Baru satu tahun tinggal bersama istri saya harus meninggalkannya untuk tugas belajar di Bandung. Sekian lama kami berjauhan dengan orang tua dan juga istri akhirnya kini alhamdulillah saya bisa berkumpul lagi dengan istri dan anak-anak, juga dengan orang tua karena tempat tinggal kami sudah cukup dekat dengan tempat tinggal kedua orang tua. Kisah kita mirip-mirip ya mba, hehee.
    Salam kenal dari saya di Dompu-NTB

    Like

    1. Salam kenal Mas Ar Syamsudin.
      Perjuangan ya Mas, berjauhan pun tak apa asalkan orang tua ridho. Dengan mengingat orang tua mudah-mudahan menjadi motivasi kita untuk bisa menjadi orang-orang soleh, sehingga doa kita untuk orang tua diijabah oleh Allah SWT

      Liked by 1 person

  4. Sebenarnya orang tua itu mungjin nggak pernah mengharap buah tangan atau barang-barang mewah karena orang tua kita sudah mengalamu manis pahit kehidupan sehingga punya perspektif yang berbeda berkaitan dg barang mewah. Mereka nggak butuh ini itu di hari tuanya.

    Hal yang membahafiakan mereka cuma kabar baik tentang anak2nya. Entahlah. Kadang saya juga bingung sama orang tua saya sendiri yang getol nyuruh cepet nikah ha ga ha maunya apa coba? Kan udah punya cucu juga(untung adik saya ada yang nikah dan punya anak).

    Liked by 1 person

    1. Harusnya bersyukur kalau disuruh nikah. Itu tandanya orang tua perhatiin sama anaknya dan ingin anaknya ada yang mendampingi. Bayangin aja jika sorangan sampai tua…? Kesepian Gan!
      Selain itu perlu diingat, dibalik keberhasilan seorang pria hebat ada wanita hebat yang berperan melalui doanya yaitu istri. Lha kalau belum nikah, istri siapa yang mau doain?
      Ayo wis, cepet nikah!#komporgas

      Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s