Posted in Ramadan, Renungan

Catatan Ramadan 1437 H

Sebelum sibuk, pagi ini saya sengaja menyempatkan diri untuk menulis catatan Ramadan 1437 H. Catatan ini sengaja selalu  ditulis agar saya bisa memperbaiki diri dan melakukan hal-hal yang lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya.

Tahun ini saya menjalankan Ramadan dengan kondisi badan yang tidak fit. Mungkin karena sebelum masuk bulan Ramadan kesibukan saya luar biasa (si sulung UN, rencana pindah rumah, jadi panitia wisuda, anak-anak pada sakit, dll). Si sulung sejak selesai UN sakit demam-batuk-pilek agak parah nggak sembuh-sembuh selama hampir sebulan. Saya harus bolak-balik ke rumah baru untuk bersih-bersih dan mencat. Sementara si bungsu mulai UAS.

Ramadan minggu pertama saya masih sehat. Si sulung juga sudah sembuh, tapi adiknya ketularan. Giliran adik yang sakit, suami ketularan juga sampai saya juga ketularan tapi belum terlalu parah. Ramadan minggu ke-2 semua sudah sembuh termasuk saya. Tapi mungkin karena saya terlalu capek, saya sakit lagi. 

Badan saya demam setiap pagi dan siang. Batuk-batuk saya agak parah. Apalagi saat itu sedang puasa. Dua hari saya terpaksa batal puasa karena badan saya sudah tidak kuat. 

Meskipun sedang sakit, life must go on. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap beraktivitas, belanja, masak dll mengerjakan semua tugas saya sebelum libur lebaran tiba. Beruntung anak-anak sangat pengertian, mereka selalu membantu saya. 

Dalam keadaan kurang sehat, saya hanya fokus pada ibadah dan tugas utama saya. Saya pikir mumpung masih kuat apa yang bisa ya harus saya kerjakan. Karena sebentar lagi semua libur dan mudik ke kampung halaman. 

Selebihnya saya berbaring di kasur ditemani demam dan batuk-batuk yang kadang membuat saya sampai muntah-muntah. Anak-anak yang menemani saya merasa kasihan melihat kondisi saya yang seperti itu. Saya bilang pada mereka agar mereka mendoakan saya supaya lekas sehat. Sakit ini insyaallah saya ikhlas menerimanya. Mudah-mudahan bisa menggugurkan dosa-dosa saya. 

Gara-gara sakit, saya jadi lebih khusyuk beribadah. Setiap kali sedang menggigil saya berdzikir sebanyak-banyaknya. Waktunya adzan saya segera mengambil wudhu dan shalat. Ketika sedang istirahat di kamar Al-Qur’an selalu saya baca. Entahlah, saat itu saya tidak ingin apa-apa selain mendekatkan diri pada Allah.

Mungkin saya tampak riya menuliskan hal di atas, tapi sebetulnya saya tulis niatnya bukan untuk riya kok. Untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa SEHAT itu sangat berharga. Karena ketika badan dan pikiran kita sehat, kita bisa enak dan lancar melakukan semua aktivitas.

Tapi, ketika saya diberi sakit saya tidak mau mengeluh pada Allah. Saya tetap bersyukur, mungkin dengan cara ini Allah mengingatkan saya untuk memberikan haknya tubuh saya yaitu beristirahat. Mungkin dengan cara ini saya lebih fokus beribadah dan mengingat Allah setiap detiknya. 

Menjelang lebaran, sementara kebanyakan orang  sibuk menyiapkan kue, hidangan, baju dll. Saya saat itu sedang bergumul dengan rasa sakit. Berusaha menyelesaikan tugas-tugas sebelum mudik ke Bandung. Dan selebihnya saya berusaha ibadah sebanyak mungkin. Memanfaatkan waktu dan kesempatan yang masih Allah berikan kepada saya.

H-3 sebelum lebaran kami mudik ke Bandung. Di Bandung saya banyak istirahat di rumah saja. Alhamdulillah orang tua dan mertua saya dalam keadaan sehat wal afiat, demikian juga dengan saudara-saudara kami. Lebaran adalah momen dimana kami bisa berkumpul dengan keluarga besar, baik dari keluarga saya maupun suami. Kalau tidak lebaran, belum tentu kami bisa berkumpul seperti ini karena masing-masing punya kesibukan dan tempat tinggal yang berjauhan.

Di tengah-tengah kebahagiaan berkumpul bersama di hari lebaran, terselip kabar duka. Neneknya suami (kami menyebutnya dengan panggilan Emak) yang tinggal di Sumedang telah meninggal dunia di hari pertama Ramadan ini 😭😭😭😭. Emak menjadi korban meninggal karena musibah kebakaran di rumahnya. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Selain itu salah satu orang terdekat keluarga saya yang sudah kami anggap sebagai saudara, sedang sakit  berat. Saat ini beliau sedang menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto. Semoga lekas sehat kembali Om Rohmat.

H-1 sebelum kembali ke Jakarta, di rumah orang tua saya dilaksanakan acara halal bihalal keluarga besar dari almarhum Nenek. Selain acara silahturahim, pada kesempatan ini kerabat yang hadir mendengarkan siraman rohani dari  Ustad Nur Muttaqin. Isinya tentang 11 hal yang bisa dilakukan setelah Ramadan, yaitu :

1. Menjaga sholat (wajib & sunah)

2. Puasa sunah (syawal, senin-kamis, dll)

3. Sodaqoh

4. Silahturahim 

5. Membaca Al-Qur’an 

6. Memaafkan

7. Tolabul Ilmi (mendatangi majelis maklum untuk mendapatkan ilmu agama)

8. Senantiasa beristigfar

9. Menjaga emosi / sabar

10. Membiasakan berdzikir

11. Tidak membicarakan kejelekan orang lain.

Sebelah poin tersebut adalah amalan yang biasanya kita lakukan di bulan Ramadan, maka setelah Ramadan berakhir kita harus melanjutkan mengerjakan amalan tersebut sampai tiba pada Ramadan berikutnya.

Seminggu mudik di Bandung, akhirnya tiba saatnya kami kembali ke Jakarta. Di Jakarta kami bersilaturahim dengan tetangga. Kebetulan tetangga saya kebanyakan sudah sepuh. Setiap berkunjung ke rumah mereka, kami selalu dioleh-olehi berbagai nasehat. Nasehat yang kami dapatkan kali ini adalah tentang pentingnya mendoakan anak dan kenapa kita harus mengingat mati. 

Para Eyang ini tidak segan-segan mengeluarkan semua rahasia kesuksesan hidupnya serta cara mendidik anak sampai menjadi berhasil. Ada satu eyang yang sampai membawa Al-Qur’an dan menunjukkan kepada kami ayat-ayat tentang keutamaan mendoakan serta mendidik anak. Beliau menuturkan bahwa anak adalah investasi dunia dan akherat. Sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk merawat dan mendidik anak agar menjadi anak yang soleh dan solehah serta menjadi orang yang berhasil di kemudian hari. 

Sedangkan Eyang yang lain lagi bercerita tentang pengalamannya sebagai koordinator fardhu kifayah di komplek kami. Beliau salah satu orang yang bertugas memandikan jenazah laki-laki. Dari pengalamannya ini beliau menasehati kami agar menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Karena ketika Allah mencabut nyawa kita, hanya 3 hal yang akan dibawa mati, yaitu amal baik, doa anak-anak soleh dan ilmu yang bermanfaat. 

Biasanya berkunjung ke satu rumah memakan waktu berjam-jam lamanya. Para Eyang tetangga tampaknya senang menerima kedatangan kami. Kami pun senang karena mendapatkan sesuatu yang berharga dari mereka. Terima kasih Eyang, sehat-sehat selalu ya.

Seminggu setelah kembali ke Jakarta, saya sudah sehat dan kami sekeluarga mulai sibuk lagi persiapan pindah rumah. Rumah baru, lingkungan baru dengan harapan baru yang lebih baik lagi.

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

6 thoughts on “Catatan Ramadan 1437 H

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s