Posted in Renungan

Catatan Idul Adha 1437 H

Foto terakhir bersama Om R, istri dan anaknya

Hidup itu penuh kejutan. Seperti yang saya alami menjelang Idul Adha kemarin .Saat semua orang berkumpul dan bersuka cita merayakannya bersama keluarga. Tahun ini saya memiliki cerita yang berbeda.

(Baca : Idul Adha 1436 H)

Hari Raya Idul Adha 1437 H sudah di ujung mata. Saya dan suami siap-siap mudik ke Bandung karena tahun ini kami berencana merayakan Idul Adha di Bandung di rumah orang tua. Berangkat hari Sabtu pagi, jalanan sangat lancar pukul 9.30 kami sudah tiba di Bandung. Cerahnya udara pagi itu dan lengangnya jalalan membuat hati kami bersuka cita. Kerinduan untuk bertemu orang tua sudah tak tertahankan.Tak ada yang ingin kami cari selain bertemu dengan mereka.

Hari Minggu pagi sama seperti pagi-pagi sebelumnya ketika berada di rumah orang tua kami, suasananya santai dan tidak ingin terburu-buru pergi karena masih ingin menikmati kesempatan berkumpul bersama mereka.

Tidak ada satu pun diantara kami yang memiliki firasat. Pagi itu Om Lan mampir. Kami bertemu sebentar di lantai bawah  lalu ia terburu-buru pamit untuk berangkat ke rumah sakit.

Sebetulnya keluarga saya tidak punya hubungan darah dengan keluarga besar Om Lan, Om Lan ini adik kandungnya Om R. Dulu waktu saya masih SMA Om R menjadi petugas bersih-bersih di rumah dinas bapak di Bandung. Dan jauh sebelum bertemu dengan Om R,  Yu S yang kini menjadi istrinya, sudah terlebih dahulu bekerja di keluarga kami sejak saya masih SD. Om R dan Yu S bertemu ketika kami tinggal di Bandung. Status mereka saat itu sudah sama-sama PNS, dan bertugas di rumah bapak. Atas saran bapak, Om R belajar nyupir mobil, agar bisa menjadi sopir bukan petugas bersih-bersih lagi. Akhirnya Om R berhasil mendapatkan SIM.Tak lama kemudian ia menikahi Yu S. Seiring dengan berjalannya waktu mereka berdua yang tadinya tinggal bersama keluarga kami, akhirnya membeli sebuah rumah di Bandung. Karena kerja keras mereka, Om R dipercaya menjadi sopir direktur dan Yu S bekerja di kantor masih satu instansi dengan suaminya. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang kini sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, seorang anak perempuan yang solehah. Mereka berdua orang yang sangat baik, tidak pernah lupa asal usulnya. Meskipun telah tinggal terpisah dengan keluarga kami dan mempunyai kesibukan, mereka tetap menganggap bapak dan mama seperti orang tuanya sendiri. Om R sangat dekat dengan bapak saya, bisa dibilang salah satu orang kepercayaan bapak. Menyaksikan jalan hidup mereka sejak dahulu saya pribadi ikut bahagia, karena mereka bisa mengangkat derajat hidupnya atas kerja keras, kejujuran serta sifat amanah yang dimiliki oleh keduanya.

Setelah Om R dan Yu S meninggalkan rumah, adiknya Om R (Om Lan) dan kakaknya Yu S (Yu M) yang menggantikan membantu mama dan bapak di rumah. Kini Om Lan sudah jadi pegawai dan sudah memiliki tempat tinggal sendiri.Sedangkan Yu M masih bekerja di rumah.

Sejak tiga bulan yang lalu Om R sakit, ia divonis menderita lekeumia. Berkali-kali harus masuk rumah sakit dan transfusi darah karena HB-nya drop. Semua merasa bersedih termasuk kami. Padahal selama ini ia sehat-sehat saja, jarang sakit malah. Lebaran idul fitri tahun ini Om R dan Yu S tidak datang ke rumah karena Om R masih sakit. Waktu itu kami menengok ke rumahnya. Om R baru seminggu keluar dari rumah sakit. Tapi kondisinya masih demam dan sangat lemas. Beberapa hari setelah kami tengok, kondisinya drop lagi dan harus menjalani rawat inap lagi. Karena fasilitas untuk pemeriksaan di rumah sakit di Cimahi kurang lengkap, ia harus dirujuk ke RSPAD Jakarta. Di sana Om R diopname selama seminggu. Lalu kembali ke Bandung, setelah itu Om R keluar-masuk RS karena kondisinya memburuk.

Sudah dua minggu ini ia diopname lagi di RSHS Bandung. Pagi itu Om Lan adiknya bercerita sejak malam Om R sudah dipasang selang oksigen. Om Lan mau segera ke rumah sakit mengantarkan cemilan titipan mama dan bubur ayam pesanan Om R.

Setelah Om Lan pergi saya mengajak bapak, mama, adik dan pak suami untuk menjenguk Om R. Pukul 10.00 kami sudah berada di gerbang pintu masuk RSHS dengan belasan orang yang sudah lebih dahulu berdiri di depan pintu yang masih tertutup. Pintu baru dibuka pukul 10.30, waktunya kunjungan keluarga.

Melalui telepon genggam Yu S sambil menangis mengabari saya bahwa Om R saat itu sedang kritis. Akhirnya bapak dan Mama diijinkan oleh satpam untuk masuk, sedangkan saya, suami dan adik harus menunggu di luar gerbang. Om Lan sendiri saat itu sudah tidak di rumah sakit.

Perasaan saya saat itu menjadi sangat gelisah, ingin sekali menyusul bapak dan mama ke dalam, tapi dilarang oleh satpam.  Saya baru bisa masuk kalau gerbang sudah dibuka 30 menit lagi. Ya Allah rasanya saat itu adalah 30 menit terlama yang pernah saya rasakan 😦 .

Pukul 10.30 tepat akhirnya gerbang dibuka, saya berdesakan dengan orang lain yang ingin masuk. Setengah berlari kami bertiga mencari ruang perawatan Om R. Dari pintu ruangan, saya melihat Om R sedang dibantu pernafasannya menggunakan alat…Dokter menyatakan Om R sudah sangat kritis…tak terasa air mata saya menetes. Yu S dan anak perempuannya  berada di sisi kanan dan kiri telinganya, sambil tak putus melafalkan  “Laa illa haillallah”

Perasaan saya saat itu sedihhh sekali. Mulut saya komat-kamit tidak berhenti mendoakan Om R agar diberi kekuatan dan kesehatan. Siapa tahu Tuhan menurunkan keajaiban-Nya. Semua yang ada di ruangan tak berhenti berdoa. Memohon yang terbaik untuk Om R dan keluarganya.

Untuk yang kedua kalinya dokter datang ke ruangan dan memeriksa Om R. Dokter menjelaskan kondisi terakhir Om R kepada kami. Kondisinya semakin memburuk, detak jantung dan nafas saat itu masih terbaca oleh monitor karena Om R masih dipasang alat bantu. Dokter meminta agar keluarga mengikhlaskan Om R. Ya Allah…..air mata saya semakin deras, jantung ini berdegup sangat kencang….Ya Allah….kuatkan,kuatkan kami….saya peluk Yu S dan anaknya.

Perawat dengan hati-hati membuka semua peralatan yang menempel pada tubuh Om R. Kemudian memasangkan selimut.  Empat menit kemudian, Om R menghembuskan nafas terakhir. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Usai sudah perjalanan hidup dan perjuangannya melawan sakit. Om R telah kembali kepada Sang Pencipta. Spontan kami yang menungguinya menghadapi sakaratul maut, meneteskan air mata…air mata perpisahan. Perpisahan yang sesungguhnya, yaitu maut.

Saat itu yang menemani Om R bukan hanya saya sekeluarga. Hadir di tengah-tengah kami komandannya Om R, seorang jendral berbintang tiga bersama istri dan adik istrinya. Beliau turut mendampingi Om R saat sakaratul maut. Om R saat itu bertugas menjadi sopir istrinya. Begitu besar perhatian dari pak komandan yang baik hati dan low profile ini terhadap Om R dan keluarganya. Sejak Om R dirawat, saat sakaratul maut sampai jenazah siap dikirim ke kampung halaman.

Kami berbagi tugas. Bapak saya memandikan jenazah Om R di RS, sementara saya dan suami langsung bersiap ke rumah Om R untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya. Sementara pak komandan langsung kontak bawahannya untuk mempersiapkan ambulance, vooridjer, tenda kursi di rumah, mobil untuk mengantar ke kampung halaman Om R dan lain-lain.

Kami semua yang mengenal Om R termasuk para tetangga dan rekan kerjanya memiliki kesan yang sama, Om R yang juga menjabat sebagai ketua RT di lingkungan rumahnya adalah orang yang sangat baik, sangat amanah dan hidupnya berdedikasi tinggi.
Ketika jenazah dishalatkan di Mesjid komplek rumah, ketua DKM membocorkan sebuah rahasia yang selama ini tidak diketahui oleh warga. Om R selama hidupnya adalah orang yang sangat rajin beribadah di mesjid. Dan selama ini ia yang membayar tagihan listrik di mesjid menggunakan uang pribadinya supaya mesjid tetap hidup dan jama’ah bisa mengaji , shalat dan beribadah dengan nyaman di dalamnya…..masyaAllah.

Ya Allah, sehari menjelang Idul Adha 1437 H Engkau  memberikan kepada saya pelajaran yang sangat berharga.

  • Tuhan menunjukkan kekuasan-Nya, sehebat apa pun manusia, pasti akan bertemu dengan ujungnya yaitu kematian”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (Al-Anbiya : 35)
  • Memberi peringatan kepada saya agar lebih rajin dan khusyuk beribadah. Karena ketika mati semua urusan di dunia terputus kecuali sedekah jariyah, doa anak soleh dan ilmu yang bermanfaat. Berbuat amal sebanyak-banyaknya selama Allah masih memberikan kesempatan hidup.
  • Kemuliaan seseorang bukan ditentukan dari harta, pangkat atau pun jabatan. Kemuliaan seseorang didapatkan dari kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, amanah yang selalu dijaga dan kesungguhan dalam menjalankan semua kewajiban. (Baca : Pak Djun)

Selamat jalan Om R…Allahummagfirlahu warhamhu wa’fu anhu

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

18 thoughts on “Catatan Idul Adha 1437 H

  1. Saya selalu takut membaca cerita tentang kematian. Meskipun cepat atau lambat saya akan mati, tetap saja takut. Seolah menyadarkan saya bahwa Tuhan benar2 berkuasa atas segalanya. Kebenaran yang menyedihkan bagi orang seperti saya.

    Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s