Posted in curcol

Helm

Kita semua tahu bahwa helm wajib digunakan oleh pengendara motor. Tapi kenyataannya di jalanan sekitar tempat tinggal saya, sering terlihat pengendara motor tidak menggunakan helm. Tempat tinggal saya berada di  ujung wilayah DKI Jakarta, bisa dibilang daerah kampung lah. Jalanannya kecil-kecil dan sempit, bukan jalanan ibu kota yang luas dan lebar. Mungkin karena jalan kampung, maka banyak warga yang mengendarai motor tanpa menggunakan helm.

Suami saya adalah seorang biker. Setiap hari pergi dan pulang kantor menggunakan motor. Setiap pagi ia terlebih dahulu mengantar anak-anak ke sekolah. Suami saya memberlakukan aturan yang ketat terkait kemananan berkendara. Wajib hukumnya menggunakan helm ketika naik motor. Nggak ada alasan, mau itu jalan di gang sempit apalagi di jalan besar, jaraknya jauh atau pun dekat ya kalau naik motor HARUS pakai helm.

Alasan harus menggunakan helm bukan karena takut ditilang Polisi. Tetapi semata-mata untuk keselamatan diri sendiri. Helm melindungi kepala dari benturan yang terjadi jika tiba-tiba kita jatuh saat mengendarai motor (naudzubilahhimindzalik). Kecelakaan memang tidak bisa dicegah dan datangnya tiba-tiba. Apa salahnya melindungi kepala kita sendiri dengan helm. Jadi tidak ada hubungannya dengan Polisi, karena yang kita lindungi kan bukan kepalanya Polisi.

Sudah menjadi kebiasaan para warga mengabaikan hal yang satu ini. Mungkin karena menganggap sepele, apalagi naik motornya hanya ke warung untuk membeli kerupuk, repot amat harus pakai helm. Di sini kan nggak ada polisi, aman lah! Hal yang seperti ini nih menurut saya tidak tepat. Dan karena orang-orang nggak pada pakai helm maka kelihatannya aturan penggunaan helm pun seolah-olah berubah menjadi : tidak apa-apa tidak menggunakan helm karena anda naik motor di jalan kampung yang jaraknya kurang dari sekian kilometer.

Hal ini mempengaruhi pemikiran anak-anak saya. Mereka menolak menggunakan helm ketika akan dibonceng oleh Papanya. Alasannya : orang lain juga pada nggak pakai helm, ngapain kita harus repot-repot pakai helm? Si bungsu saya malah malu karena harus membawa-bawa helm ke sekolahnya. Sedangkan si sulung tidak mau menggunakan helm karena helm akan merusak gaya rambutnya yang sudah susah-susah ia tata sejak subuh. Hadeuhh.

Saya, suami dan anak-anak sering melihat di depan mata kami kejadian kecelakaan yang menimpa pengendara motor. Motor itu riskan sekali, kadang kesenggol sedikit langsung jatuh. Atau kalau melewati lubang motor akan oleng dan jatuh.

Sebagai orang tua, saya dan suami harus berkali-kali menjelaskan dan mengingatkan tentang peraturan ini. Sekarang alhamdulillah mereka sudah mengerti. Naik ojek online pun mereka selalu minta menggunakan helm.

Jika melihat perilaku para pengendara motor di daerah saya, mereka itu mengerikan. Yang membonceng anak, anaknya nggak dipakaikan helm, santai aja…itu nggak pernah kepikiran apa kalau ‘terjadi sesuatu’ kayak gimana itu ya. Belum lagi mereka yang suka menyerobot jalan, pengendara motor itu seperti tidak punya rem. Sudah tahu ada yang mau nyebrang jalan, masih digas, bukan direm. Mereka nggak mau memberi kesempatan kepada kendaraan lain untuk jalan, mungkin buat mereka jalan itu adalah hak mereka sepenuhnya. Atau ada lagi nih pengendara motor yang hobby sekali menerobos lampu merah, atau menerobos jalan yang ada rambu dilarang masuk. Kalau dipikir-pikir itu kan bahaya ya.

Nggak semua seperti itu sih, masih ada kok pengendara yang taat aturan dan santun dalam berkendara (tapi jumlahnya nggak banyak).

Intinya, aturan harus menggunakan helm ketika mengendarai motor itu sebetulnya untuk keselamatan kita sendiri. Karena kita nggak pernah tahu ada kejadian apa di depan nanti. Kita wajib berusaha melindungi diri kita dengan menaati aturan yang ada. Jangan sampai membenarkan hal yang kelihatan lumrah terjadi di lingkungan kita, padahal  hal itu salah dan melanggar peraturan.

 

 

 

 

Advertisements