Posted in #BukanSuperMom

Hadiah Dari Sahabat Blogger

Yang namanya kehidupan penuh dengan dinamika. Tidak monoton baik terus atau jelek terus. Termasuk kehidupan saya dan keluarga sehari-hari. Ada masanya kami baik-baik saja, namun sering juga kami mendapatkan masalah.

Setiap hari ketika pak suami dan anak-anak sudah berangkat, saya memulai aktivitas pagi dengan sarapan sambil ditemani oleh siaran tausyiah dari televisi. Sengaja memilih program ini daripada acara lain karena katanya yang namanya iman itu naik turun, jadi supaya iman ini stabil dan naik terus maka harus rajin dipupuk dan disirami dengan segala sesuatu yang bisa menambah kedekatan kita pada Allah SWT. Jadi saya nonton program tausyiah dalam rangka menjaga keimanan saya.

Setiap hari saya selalu mendengar ustad dan ustadzah penceramah berkata : “setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya,” dan satu lagi yang ini :”manusia yang sedang ditimpa masalah jika ia bersabar dan tawakal kepada Allah pasti akan mendapatkan jalan keluarnya”.

Yang namanya kehidupan penuh dengan dinamika. Tidak monoton baik terus atau jelek terus. Termasuk kehidupan saya dan keluarga sehari-hari. Ada masanya kami baik-baik saja, namun sering juga kami mendapatkan masalah. 

Seperti yang saya hadapi belakangan ini. Di rumah anak-anak lagi ‘soleh banget’. Ada aja kelakuan mereka yang memancing emosi saya. Karena hal sepele saja bisa membuat mereka berdua berantem sampai ‘bak-bik-buk’ (pukul-pukulan), baru sedetik dilerai mereka sudah mulai mau berantem lagi (maklum anak laki-laki semua). Atau ketika mereka banyak melanggar aturan di rumah dan nggak mau dikasih tahu (nggak mau tahu, maunya ayam goreng Ma! 😎). 

Kalau sedang terpancing esmosi sama kelakuan mereka, kami di rumah udah kayak kucing lagi berantem, bersahut-sahutan berisik banget. Kepala rasanya jadi keriting….pening sekali.

Tapi kadang-kadang saya bisa menahan esmosi dan tidak terpancing sama ulah mereka yang aduhai bikin gemezzz itu. 

Biasanya ini terjadi kalau tiba-tiba di kepala saya muncul perkataan ustad/ustadzah yang tadi saya sebutkan di atas. Perkataan itu muncul berkali-kali seperti running text yang ada di program berita televisi. Running text ini yang kemudian menahan gejolak esmosi jiwa saya yang saat itu nyaris meledak-ledak.

Saya langsung diam, tidak menanggapi kelakuan dan menghindar dari mereka (lari ke kamar atau ke dapur). Saya cari-cari kesibukan di kamar atau di dapur, atau ambil wudhu, istighfar dan menangis meluapkan esmosi saya sendirian. Jika perasaan saya sudah enakan, baru saya keluar tapi saya diam saja tidak menanggapi mereka. Biasanya mereka tahu diri lalu bersikap baik terhadap saya. Masalah selesai.

Eits, jangan dikira selesai sampai situ. Karena beberapa menit kemudian terjadi lagi hal error dan memancing emosi saya. LAGI 😦 .

Diam-diam, dalam setiap kesempatan saya selalu berdoa minta ampun dan pertolongan kepada Allah. Kata pak ustad juga kan kalau ada masalah tidak boleh berburuk sangka pada Allah, berdoa saja terus meminta jalan keluarnya. Allah akan menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita jika kita sabar dan tawakal kepada-Nya.

Dan hari itu pertolongan Allah datang. 

Kurir ekspedisi mengantarkan sesuatu untuk saya. Saya pikir yang datang adalah buku pesanan yang saya beli di toko online. Buru-buru saya buka sampulnya. 

Tapi…

What???!! Ini bukan buku pesanan saya!!!! 

Saya ambil lagi sampulnya yang sudah sobek, saya baca pengirimnya…kok gak kenal ya. Saya baca dokumen ekspedisinya. Hah? Dikirim dari Makassar?? Hmm….

Setelah mengingat-ingat, akhirnya saya baru sadar ini buku hadiah giveaway dari seorang sahabat blogger yang beberapa waktu lalu mengadakan giveaway di blognya. Dan saya menjadi salah satu yang dipilih untuk mendapatkan buku ini.

ALHAMDULILLAH 🙂 

Sebuah buku komik Islam berjudul “Pengen Jadi Baik 3” karyanya  Squ. Berisi tentang cerita sehari-hari keluarga Om Squ. Lucu, ringan dan penuh makna karena  disisipi dengan penjelasan Al-Qur’an dan hadits. 

Saya tersenyum lebar dan mengucap syukur berulang kali. Buku ini memberi secercah  harapan pada persoalan yang sedang saya hadapi belakangan ini.

Pulang sekolah, anak-anak saya sodorkan buku itu. Mereka antusias sekali membacanya. Alhamdulillah tidak sampai rebutan. Dalam waktu tiga hari buku itu tamat dibaca oleh mereka. Ada perubahan? Ada, Alhamdulillah.

Benar kata pak ustad tadi,”manusia yang sedang ditimpa masalah jika ia bersabar dan tawakal kepada Allah pasti akan mendapatkan jalan keluarnya”. .

Terima kasih hadiah bukunya Mas Ismail Hasan, jazakumullah khayran.

 
 

Posted in #BukanSuperMom

Cerita Minggu Ini

Beberapa hari belakangan saya *sok* sibuk sekali. Salah satu kesibukan saya adalah menemani si sulung belajar. Dia sedang sibuk dengan try out, mengerjakan tugas-tugas sekolah dan latihan menari. Hampir setiap minggu kerjanya try out terus. Perasaan jaman saya kelas 6 SD nggak sesibuk ini deh. Iyaaa Bu, itu kan dulu, sekarang mah udah beda lagi jamannya keleus.

Meskipun si sulung ikut bimbel (bimbingan belajar) dan pm (pendalaman materi), tapi dia merasa nyaman kalau belajar dengan saya dan papanya di rumah. Jadi ya saya dan papanya menemani dia belajar di rumah. Saya dan suami bagi-bagi tugas, saya mengajarkan Bahasa Indonesia, IPA, dan pelajaran lainnya, suami kebagian Matematika. Sejak awal tahun ajaran kemarin, saya singkirkan jauh-jauh keinginan untuk membeli dan membaca novel *padahal saya hobby sekali baca novel*. Apalagi merajut….saya sembunyikan hakpen dan semua benang rajut koleksi saya. Buku novel diganti dengan buku-buku kumpulan soal ujian 😀 . Saya juga ikut membaca buku teks pelajaran si sulung, soalnya kalau enggak baca nanti nggak asyik kalau si sulung tanya-tanya atau mengajak saya diskusi soal pelajaran dan saya nggak bisa jawab. “Nggak nyambung.” begitu kata si sulung kalau saya nggak tahu sama apa yang ia tanyakan. Dari pada dibilang nggak nyambung, saya memilih untuk membaca buku pelajaran 😀 .

Kadang-kadang sesi belajar dengan si sulung diselingi sama curhat, kata si sulung “Curhat donk Mah!” persis kayak acara curhatnya Mama Dedeh. Mungkin karena kegiatannya sangat padat sehingga kepalanya penuh dan dia butuh ngobrol sama saya. Saya senang dia mau terbuka menceritakan semua uneg-unegnya pada saya. Ngobrolin apa aja sama si sulung? Sssst…..itu rahasia saya dan sulung ya 🙂 .

Di sela-sela kegiatan belajar, mereka (sulung dan bungsu) tetap bermain. Mainan yang sekarang lagi nge-trend di sekolah adalah yoyo. Mereka ngumpulin uang jajan untuk beli yoyo. Harga yoyo itu bermacam-macam dari yang paling murah Rp 20.000, – sampai ratusan ribu. Mereka punya cita-cita ingin ngumpulin uang jajan untuk beli yoyo yang harganya ratusan ribu dan ikut kompetisi. Saya mah senyum aja mendengar cita-cita mereka itu 🙂 . Di rumah setiap saat main yoyo, menggunakan kaos tangan mereka berlatih macam-macam gaya bermain yoyo. Kalau main yoyo sudah bosan, mereka main bola di teras rumah sambil ditonton sama anak-anak kucing. Sementara ini kegiatan memanjat pohon dihentikan karena sedang banyak ulat. Kalau main bola sudah bosan mereka masuk rumah mengambil kertas+spidol dan mulai corat-coret membuat gambar atau tulisan. Bosan dengan kertas dan spidol mereka main lego. Mereka bermain berduaan saja, karena di sini nggak punya teman main *tetangga kanan-kiri-depan-belakang sudah sepuh semua*. Sedangkan bermain game komputer hanya dilakukan hari Jumat siang sepulang shalat Jumat sampai pukul 4 sore karena mereka harus ngaji. Game yang sedang mereka gandrungi saat ini adalah Zootopia. Saya  membatasi mereka main game, membatasi bukan melarang sama sekali. Lucunya, kalau waktu bermain game sudah habis, mereka akan menyerahkan gadget ke saya atau mematikan komputer (kalau mereka menggunakan komputer), lalu mereka lanjut main ‘game’ lewat gambar. Jadi mereka membuat gambar di whiteboard atau kertas, isinya tentang game yang tadi mereka mainkan di gadget or komputer . Mereka asyik aja corat-coret sambil mulutnya nggak berhenti bersuara seperti dalam game.

kuburan nickey
menggali kuburan untuk Nickey

Tanggal 11 Maret 2016 yang lalu Nickey salah satu anak kucing yang paling bungsu mati kena mesin mobil 😦 . Aduh kejadiannya bikin saya trauma, soalnya saya yang menyalakan mesin. Jadi ceritanya waktu itu saya mau jemput anak-anak ke sekolah. Sebelumnya saya mau ‘panasin’ dulu mobilnya, saya lihat ke kolong mobil kosong nggak ada anak-anak kucing, saya pikir mereka sedang main di luar sama ibunya. Kemudian saya nyalakan mobil, tiba-tiba keluar suara ‘glodak-glodak’ dari mesinnya. Segera saya matikan lagi, udah curiga jangan-jangan anak kucing. Eh taunya benar, pas saya matikan mesin, Nickey terlempar dari bawah mesin badannya kejang-kejang lalu mati. Astagfirullah……ngeri sekali 😦 Badannya utuh, mengeluarkan darah entah dari mana. Saya ambil lalu saya kepinggirkan, karena saya mau jemput anak-anak dulu. Pulang sekolah, di bawah rintik hujan…anak-anak menggali kuburan untuk Nickey. Anak-anak sedih banget. Saya juga nggak menyangka bakalan kejadian seperti ini. Padahal sudah saya eman-eman supaya anak-anak kucing nggak kegeleng ban mobil, eh taunya si Nickey saat itu lagi tidur di mesin 😦 . Duh beneran saya trauma. Sekarang sebelum menyalakan mesin, saya klakson dulu beberapa kali untuk memastikan anak-anak kucing nggak lagi ada di mesin atau di kolong mobil. Agak ribut sih jadinya klakson-klakson, tapi dari pada kejadian kayak gitu lagi….hiyyy amit-amit.

Beberapa hari bekalangan ini banyak sekali kabar duka cita, baik yang datangnya dari tetangga sekitar rumah, maupun dari teman kerja suami dan teman di group alumni. Belum lagi kabar dari teman-teman yang sedang mengalami sakit. Membuat saya semakin menyadari bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan hidup. Selama nafas masih dikandung badan, selama kesempatan itu masih ada, selama tubuh masih dalam keadaan sehat, selama masih diberi rejeki, selama masih diberi kelapangan waktu….semua harus dimanfaatkan untuk ibadah dan berbuat kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu kapan kontrak dengan kehidupan ini akan berakhir.

Akhir kata, “Selamat berakhir pekan!”

 

 

 

 

 

 

Posted in #BukanSuperMom, curcol

Belajar Beradaptasi (bagian 2)

image

Ketika harus hijrah ke tempat baru, tak hanya anak-anak yang wajib beradaptasi dengan lingkungan baru. Kami, orang tuanya pun harus bisa cepat mengkondisikan diri dengan tempat yang baru. Kalau bukan karena rasa tanggung jawab yang besar sebagai orang tua dan memang kami sudah lebih dewasa dari pada anak-anak, sebetulnya hal ini tidaklah mudah untuk dilalui.

Mungkin saya adalah orang yang penakut, takut akan perubahan, takut keluar dari zona nyaman. Setiap kali pindah saya selalu dilanda perasaan khawatir. Apakah di tempat yang baru akan baik-baik saja? Dan ribuan perasaan galau memenuhi kepala saya. Tapi, saya harus kuat, saya harus tegar dan optimis di tempat yang baru saya akan baik-baik saja.

Kenangan indah dan semua kenyamana di tempat lama harus saya tinggalkan. Mengingat-ingatnya hanya akan menciutkan hati saya. Pada kenyataannya tak mudah beradaptasi di tempat baru. Tapi bukan berarti saya tidak bisa melewatinya.

Saya pikir, masalah pertemanan hanya dialami oleh anak-anak saja. Misalnya ada yang suka berkelompok, ada yang suka pamer, ada yang suka iri, ada yang suka mengadu domba dst. Karena   menurut saya orang yang lebih tua umurnya pasti lebih dewasa dan bijaksana. Ternyata prasangka saya meleset. Pertemanan diantara orang dewasa (baca : ibu-ibu) itu kadang tak ada bedanya seperti anak-anak, lebih tepatnya kekanak-kanakan.

Persoalan bullying juga saya alami, iya saya pernah dibully oleh sesama ibu. Apa pasalnya? Rata-rata karena sosok saya yang sederhana dan apa adanya. Saya suka tampil apa adanya, asalkan nyaman ya nggak masalah buat saya. Tapi ternyata gara-gara hal ini saya pernah dipelototin dari ujung kaki sampai ujung kepala sama seorang ibu.  Saya padahal sudah berusaha berpakaian rapi dan tidak norak. Memang saya tidak pernah memakai perhiasan, karena memang tidak suka, dan tas yang saya pakai adalah tas murah merk lokal, bukan tas bermerk yang harganya jutaan. Mungkin di mata mereka saya ini orang apalah…yang patut dipandang sebelah mata. Sehingga ketika berpapasan, meskipun saya melemparkan senyum, ibu tersebut pura-pura tidak melihat saya. Lain waktu saya pernah ditegur oleh seorang ibu istri asisten manager sebuah perusahaan minyak, gara-gara penampilan saya yang biasa ini. Begini kira-kira tegurannya, “Kamu itu sebetulnya punya wajah manis *ehem*, tapi coba deh lihat pakaian kamu biasa banget, pakai kerudung juga yang polosan kayak gini, cobalah diperbaiki.” sambil pegang-pegang jilbab yang sedang saya kenakan. Soal HP (hand phone), saya juga pernah diolok-olok karena hp saya bukan blackberry yang saat itu lagi naik daun. Hp saya hp jadoel, tapi masih bisa dipakai komunikasi. Gara-gara hp ini, saya sampai curhat sama suami. Kemudian suami menawarkan untuk membelikan saya BB baru. Saya tolak tawarannya, karena hal ini bukan masalah yang urgent dan ya ampun suami saya aja masih bertahan dengan hp nokianya meskipun kini ia sudah naik jabatan, masa saya yang cuma emak-emak aja minta yang melebihi suami?? Istri macam apa aku ini?…Enggak lah, kemuliaan seseorang bukan terletak pada tas bermerk, perhiasan atau hp (bagi saya sih begitu).

Lalu bagaimana menghadapinya? Ya slow kayak di pulau aja sih *padahal di rumah curhat melulu sama suami*…huhuhu. Ya nggak apa-apa kan kalau curhatnya ke suami. Alhamdulillah suami selalu menguatkan hati saya, beliau selalu bisa membuat saya berdiri tegak menghadapi segala macam tantangan di luar sana.

Bagi saya bersosialisasi alias berteman adalah hal penting dalam hidup. Jadi, tantangan di atas yang pernah saya alami tidak membuat saya kapok. Saya terus bergaul, mencari teman yang lebih baik lagi, yang membuat saya lebih nyaman. Kenapa? Karena saat itu saya hidup merantau jauh dari tanah kelahiran dan para sanak saudara. Saya harus menemukan saudara baru di perantauan.

Saya jadi ingat pesan tetangga sepuh di tempat tinggal kami terdahulu. Ia berkata seperti ini pada saya, “Jeng itu orang baik *uhuk*, jangan takut, orang baik itu pasti mendapat tempat yang baik pula.”

Seiring dengan berjalannya waktu saya pun akhirnya bertemu dengan orang-orang yang baik terhadap saya. Teman-teman yang sejalan dengan saya dan saya nyaman dengan mereka. Teman yang ikhlas mau berteman dengan saya yang selalu tampil apa adanya dan bukan karena melihat apa yang saya miliki ( mobil, rumah, perhiasan, tas dll). Teman yang selalu menghibur dikala sedih dan selalu ada dikala saya sedang kesusahan. Saya merasa bahagia sekali, perkataan nenek itu benar! Mereka, teman-teman saya adalah saudara baru saya.

Dalam bergaul ada pakem-pakem yang selalu saya taati. Diantaranya adalah :
1. Jangan sok eksklusif
Apa pun latar belakang kita, kaya, jenius, cantik, keturunan darah biru dst, jangan sombong. Dunia ini luasss…yang hebat itu nggak hanya kita. Jadi jangan sombong lah yaw!
2. Jangan rendah diri
Ok, nggak boleh sombong bukan berarti boleh rendah diri. Meskipun secara duniawi nggak punya harta berlimpah dst, jangan bikin kita rendah diri. Ingat, kita ini sama-sama ciptaan Tuhan dan Tuhan menciptakan kita dengan berbagai potensi. Menurut saya salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat Allah adalah dengan tidak sombong dan tidak rendah diri. Soalnya kalau rendah diri bakalan bikin diri kita nggak maju, dan cenderung dekat dengan yang namanya iri hati.
3. Jadilah diri sendiri
Ini kasus yang paling banyak menimpa ibu-ibu karena mereka nggak tahan untuk tampil menjadi dirinya sendiri. Banyak ibu-ibu yang “tergelincir” karena hal ini. Karena nggak mau kalah gengsi, nggak tahan dibully terus menerus oleh lingkungannya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti arus. Menurut saya, teman yang baik adalah yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kalau mereka nggak bisa menerima keadaan/diri kita yang sebenarnya, tinggalkan saja, carilah teman lain. Jangan mau dijajah.
4. Bersikap amanah
Diakui atau tidak, yang namanya ibu-ibu itu rumpi abis. Senangnya mengobrol, apalagi kalau yang diobrolin itu hot gosip. Kadang-kadang tanpa terasa, rahasia teman kita yang lain yang sudah diamanatkan untuk tidak diceritakan pada orang lain…bocor. Padahal, kebayang nggak kalau rahasia kita yang bocor, lalu kita dipergunjingkan di sana-sini oleh teman kita?? Pasti rasanya nggak enak banget kan? Belum lagi hal ini bisa dijadikan bahan untuk mengadu domba. Haduhh…runyam…runyam..jangan sampai begitu lah. Amanah itu harus dijaga. Agar orang percaya pada kita dan reputasi kita baik di mata orang lain.
5. Tidak sembarangan curhat
Bagi saya tidak semua hal mengenai urusan pribadi kita harus diketahui oleh teman. Terutama urusan rumah tangga dan hubungan kita dengan suami. It is BIG NO! Urusan rumah tangga cukup kita dan suami yang tahu, makanya penting sekali membangun komunikasi yang baik dengan suami. Harus nurut dan kompak sama suami. Jangan apa-apa bocor ke teman. Saya sangat tidak suka kalau ada ibu-ibu yang suka membicarakan urusan ranjang, meskipun itu hanya guyonan. Aduh, saru banget sih, kayak nggak ada topik lain apa ya?
Menurut saya hubungan yang baik dengan teman adalah apabila kita menjaga batas dengan teman kita. Saling menghormati, menghargai dan mengerti satu sama lain.
6. Berbuat baik karena mengharap ridha Allah bukan ridhanya manusia
Dalam sebuah hubungan pertemanan, sering kali kita berharap banyak pada teman karena kita merasa sudah berbuat banyak untuk mereka. Menurut saya hal ini tidak tepat, karena selayaknya ketika kita berbuat baik itu hanya semata-mata karena kita ingin mengharap ridha Allah. Jika berharap pada manusia, harus siap-siap kecewa.

Buat sahabat-sahabat ku, terima kasih banyak ya 🙂 . Semoga kita semua diberikan kemudahan ketika harus beradaptasi di tempat yang baru.

– tamat –

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, curcol

Belajar Beradaptasi (Bagian 1)

image
Samboja – Kutai Kartanegara (foto : koleksi pribadi)

Salah satu tantangan hidup berpindah-pindah adalah harus berulang kali belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Urusan pindah bukan perkara mudah, selain membutuhkan biaya juga menguras waktu dan tenaga. Mau pindah kemana pun tantangannya sama saja, harus belajar beradaptasi supaya bisa bertahan hidup. Dimana pun kita berada pasti ada yang membuat senang dan betah ada juga yang menyebalkan,  tidak ada yang 100% sempurna.

Beberapa minggu belakangan saya sering mendengar si Sulung mengatakan ,”Orang yang nggak kepake.” Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya. Kemudian Sulung bercerita kalau di kelasnya ia termasuk dalam golongan “orang yang nggak kepake” . Ia menjelaskan maksud dari “orang yang nggak kepake” itu adalah orang-orang yang nggak punya teman di kelas, misalnya kalau ada tugas berkelompok  nggak ada yang mau mengajak gabung kelompoknya dan  selalu ditolak di sana sini. Di kelas si Sulung ada beberapa anak yang masuk dalam golongan ini, termasuk si Sulung sendiri.

Lain waktu, ketika sedang mengerjakan tugas membuat pidato perpisahan Sulung bicara kepada saya, “Ma, aku kan orang baru di sini. Aku belum terlalu kenal sama teman-teman di kelas, jadi nggak ada kesan dan kenangan sama mereka.” Di dalam teks pidatonya anak-anak disuruh menyebutkan kenangan-kenangan bersama teman-teman sekelasnya, sementara anak saya baru pindah ke sini.

Saya setiap hari mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Kebetulan jam belajarnya Sulung dan Bungsu berbeda, Sulung selalu masuk pagi dan Bungsu ada masuk paginya ada masuk siangnya. Waktu mengantar Bungsu ke sekolah, pas waktunya anak-anak sitirahat. Dari kejauhan saya melihat si Sulung sedang bersama temannya, tidak seperti anak-anak yang lain….dia kebanyakan diam di pinggir sambil melihat temannya bermain. Waktu saya tanya kenapa dia cuma berdiri saja nggak ikut main sama teman-taman lainnya? Jawabnya, ” Kadang aku nggak dibolehin ikut main sama teman-teman ku.”

Itulah beberapa contoh ungkapan ketidaknyamanan si Sulung dengan lingkungan barunya. Sebagai seorang ibu, saya suka merasa sedih dan kasihan sama dia apalagi waktu dia bilang bahwa dirinya termasuk dalam golongan anak yang nggak kepake itu.  Sulung harus pindah saat kenaikan kelas 6, dimana dalam waktu dekat ia akan menghadapi Ujian nasional dan Ujian Sekolah. Selain harus menyiapkan diri dengan belajar, ia harus bisa survive dengan lingkungan di sekolah barunya ini. Urusan pergaulan dengan teman-temannya nggak bisa danggap remeh, soalnya ini urusan hati. Saya nggak mau mentalnya down gara-gara masalah pertemanan.

Selain dengan doa, saya berusaha mensupport dia dengan cara membesarkan hatinya. Saya selalu bilang bahwa kalau dia mau dianggap oleh teman-temannya, maka dia harus buktikan dengan prestasi. Bukan dengan membalas olok-olok dan perbuatan temannya yang tidak menyenangkan itu. Tidak mudah bagi si Sulung untuk mencerna kata-kata saya ini dan mempraktekkannya di kehidupan nyatanya. Jatuh bangun lah saat itu menghadapi dia yang menjadi rewel dan banyak tingkah.  Iya, jatuh bangun karena berbarengan dengan tingkahnya ini, ia harus tetap saya ingatkan untuk belajar dan belajar agar nilainya bagus. Kadang ia marah ketika saya ingatkan untuk belajar. Kadang ia malah sengaja tidur, bukannya belajar….padahal besok harus menghadapi ulangan. Nggak jarang saya dan dia beradu mulut gara-gara urusan ini. Tapi kadang ia dengan kesadaran sendiri belajar sampai tengah malam (padahal keesokan harinya sebelum subuh ia harus sudah bangun untuk persiapan berangkat sekolah).

Saya juga mengingatkan ia untuk selalu ingat kepada Tuhannya. Karena kepada Tuhan lah tempat manusia bergantung dan meminta permohonan. Alhamdulillah Sulung rajin shalat dan mengaji. (Teruskan ya Nak sampai akhir hayat mu!)

Support saya dalam bentuk lain adalah berusaha aktif bergaul dengan ibu-ibu orang tua murid kelas 6. Karena di sini keberadaan forum orang tua sangat penting dalam menunjang kegiatan anak-anak di sekolah. Semua informasi tentang kegiatan sekolah datangnya cepat sekali dari para ibu yang tergabung dalam forum ini. Karena saya orang baru, saya sadar diri dan harus mau ikut serta bergabung  dengan ibu-ibu ini. Padahal sebetulnya saya orang yang nggak mudah bergaul. Alhamdulillah beberapa orang pengurusnya baik sekali pada saya. Mereka yang memasukkan saya ke dalam group bbm kelas 6, sehingga kalau ada informasi tentang sekolah saya bisa cepat tahu.  Saya sendiri berusaha untuk pro aktif lah, kalau ada apa-apa cepat tanggap, nggak banyak protes dan rewel ini itu.

Salah satunya yang sempat bikin saya khawatir adalah ketika anak-anak kelas 6 harus membuat kelompok menari tarian tradisional untuk ujian sekolah bulan Maret nanti. Anak saya cerita ke saya kalau dia nggak dapat kelompok. Teman-temannya nggak ada yang mau menerima dia sebagai anggota kelompoknya. Waaa….saya sedih sekali mendengarnya 😦 😦 😦 . Ya sudah, saya bilang…kalau memang nggak punya kelompok ya nggak apa-apa. Jangan khawatir, don’t be sad (ini yang sad malah Emaknya), kamu nari aja sendiri, nanti kita belajar sendiri dari youtube kan bisa! Si Sulung setuju dengan usulan saya, kami pun mulai mencari tarian tradisional yang gampang dipelajari dari youtube. Eh, nggak lama kemudian saya tiba-tiba dapat bbm dari ortu murid kelas 6 yang mengajak si Sulung untuk bergabung dengan anaknya. Alhamdulillah, lega sekali rasanya (ini beneran ya yang rempong malah Emaknya…hahaha). Lalu saya bilang ke Sulung, “Ini nih Mamanya si A ngajakin kamu gabung ke kelompok tarinya, besok kalian sudah mulai latihan”. Mendengar hal ini si Sulung malah galau, “Memang boleh sama si A? Soalnya kemarin aku ditolak masuk kelompoknya A. Ditolak berkali-kali.” Saya bilang, “Ya, nanti kamu bilang aja sama si A, yang ngajak kamu gabung itu Mamanya dia, bukan kamu yang minta-minta diajakin gabung.” sambil saya perlihatkan bbm dari Mamanya A ke si Sulung. Alhamdulillah urusan menari beres.

Pak Suami selalu mengingatkan saya untuk tetap mengambil ‘jarak’ dengan si Sulung. Maksudnya agar saya tidak terlalu mengkhawatirkan dia. Saya harus bisa melepaskan dia supaya dia bisa merasakan asam garam dalam pergaulan. Kalau saya lindungi terus justru kasihan dia nggak bisa survive. Iya, benar juga sih.

Nak, hidup dimana pun itu sama. Kita harus belajar beradaptasi dengan lingkungan. Nggak boleh membanding-bandingkan tempat yang lama dengan yang baru. Tempat yang lama akan menjadi kenangan kita selamanya dan di tempat yang baru kita mulai lagi berjuang dari NOL. Jangan takut, teruslah berbuat kebaikan, karena kebaikan itu sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri. Bantulah orang lain yang kesulitan , karena dikala kita mendapatkan kesulitan, ada orang lain yang menolong kita. Permudah urusan orang lain, karena ketika urusan kita dipermudah kita merasakan bahagia bukan? Kamu juga harus tahu, yang hidupnya berpindah-pindah itu bukan cuma kita saja. Banyak teman-teman mu yang harus mengalami ini.  Ibu dan Papa mu juga sejak kecil harus ikut berpindah-pindah, karena Mbah Akung dan Eyang Papap  harus pindah-pindah dinasnya. Sama kok, kami juga dulu harus  merasakan nggak nyaman ketika berjuang dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda.

Alhamdulillah hasil semester ganjil kemarin memuaskan, walaupun tidak menduduki peringkat kelas, si Sulung tidak termasuk ke dalam kelompok anak-anak yang harus dikarantina.

Terima kasih ya Nak! Benar kan, kamu BISA! Pasti bisa, iya…kamu pasti bisa!!!

We love you.

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, Jalan-Jalan

Terbang Bertiga

image

Pergi naik pesawat bersama anak-anak adalah hal yang biasa saja. Karena hal ini sering dilakukan oleh banyak orang. Tapi bagaimana kalau harus pergi di waktu yang tidak ramah anak? (tengah malam misalnya?)

Ketika tinggal di Balikpapan saya cukup sering pergi bertiga dengan anak-anak menggunakan pesawat. Tujuannya kemana lagi kalau bukan ke Bandung, tempat tinggal orang tua saya dan pak suami. Biasanya kami pergi ketika liburan semester dan hari raya. Karena anak-anak hari liburnya nggak sama dengan liburnya pegawai menyebabkan pak suami tidak bisa ikut atau kalaupun ikut biasanya menyusul. Jadi saya sering terbang bertiga saja dengan anak-anak.

Terbang bertiga dengan anak-anak adalah pengalaman yang seru buat saya. Kalau pergi dengan suami hati saya rasanya tenang sekali, karena ada yang menjaga anak-anak, mengurus barang-barang, mengurus ini itu dan ada yang bayarin kami jajan, pokoknya saya tinggal duduk manis aja 😀 😀 :D.

Kalau tidak ada suami, apa-apa harus saya lakukan sendiri.

Ini adalah pengalaman saya naik pesawat bertiga dengan anak-anak tanpa pak suami. Pengalaman yang tak terlupakan bagi saya karena harus pergi pada jam yang tidak ramah anak.

Untuk menuju kota Bandung, dari Balikpapan kami menggunakan penerbangan ke Jakarta, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam-an. Setelah itu dari bandara Soetta kami harus naik bis Primajasa pemandu moda menuju kota Bandung, kampung halaman kami, dengan waktu tempuh antara 3 sampai 4 jam tergantung ada macet di jalan tol atau tidak. Demikian sebaliknya ketika dari Bandung ke Balikpapan.

Biasanya kami dari Balikpapan ke Jakarta naik pesawat malam pukul 19 ke atas. Alasannya supaya saya dan anak-anak bisa kangen-kangenan dulu sama pak suami. Karena dalam beberapa hari ke depan kita kan nggak bertemu sementara waktu.

Kemudian kami dari Bandung kembali ke Balikpapan menggunakan pesawat paling pagi dari Jakarta, biasanya pada hari Sabtu atau Minggunya.

Di sebelah mana bagian yang rempongnya? Yang bikin rempong itu di bagian waktu keberangkatan yang tidak ramah anak. Menggunakan penerbangan malam (Balikpapan-Jakarta) dan yang paling pagi (Jakarta-Balikpapan).

Jakarta-Balikpapan ada perbedaan waktu satu jam, lebih cepat di Balikpapan (contoh : kalau di Balikpapan sudah pk 06.00 wita, di Jakarta baru pk 05.00 wib). Jadi kalau kami berangkat dari Balikpapan pk 19.00 wita (penerbangan 2 jam) tiba di Jakarta pk 20.00 wib. Setelah landing, menunggu bagasi, memakan waktu paling cepat 30-45 menit, lalu keluar ke pelataran bandara Soetta. Kira-kira pk 20.45 wib paling cepat, saya sudah ada di luar dan segera menuju counter tiket bis Primajasa di bandara. Kalau beruntung saya bisa langsung naik bis (bis ini berangkat setiap 30 menit sekali). Biasanya kami harus menunggu sekitar 30 menit-an. Misalnya saya dapat bis pk 21.30 wib, berarti kami akan tiba di Bandung pk 24.30 wib (tengah malam).
Itu kalau pesawatnya berangkat tepat pk 19.00 wita dari Balikpapan, kalau lebih malam berarti kami tiba di Bandung pk 1 atau 2 dini hari 😦 .

Sebaliknya, ketika melakukan perjalanan dari Bandung-Balikpapan. Kami selalu menggunakan pesawat paling pagi dari Jakarta (biasanya pesawat yang pk 05.30 wib). Artinya saya harus berangkat dari Bandung tengah malam menggunakan bis pemandu moda (saya memilih berangkat dari Bandung lebih awal karena musim liburan dan weekend biasanya terjadi kemacetan di jalan, dari pada terlambat dan tiket kami hangus lebih baik kami menunggu di bandara).

Anak-anak waktu itu masih kecil. Mereka bingung karena jadwal tidur mereka diacak. Yang seharusnya sudah istirahat, ini masih di jalan. Kalau sudah di dalam pesawat mereka jarang tidur, tapi kalau pesawat akan landing mereka baru tertidur pulas. Begitu juga perjalanan menggunakan bis pemandu moda dari dan akan ke Bandung. Inginnya saya begitu masuk bis, anak-anak langsung tidur supaya nanti pas sampai nggak susah dibangunin. Yang sering kami alami sama seperti di dalam pesawat, giliran masih jauh nggak mau pada tidur. Waktu sudah dekat mau turun bis, malah sedang tidur pulas 😦 . Ya namanya juga naik angkutan umum, kita tidak bisa seenaknya, waktunya turun harus cepat turun, karena bisnya akan segera pergi ke terminal berikutnya.

Waktu itu si sulung umurnya masih 7 tahun dan si bungsu umurnya masih 4 tahun. Sulung udah lumayan mengerti dan bisa membantu saya sedikit, tapi bungsu masih belom ngerti apa-apa.

Saya pernah menggendong bungsu turun dari pesawat, karena dia tidur pulas sekali. Badan si bungsu agak besar, lumayan berattt menggendong dia dari kursi pesawat sampai tempat mengambil barang bagasi. Beruntung, si sulung pengertian banget, dia membantu saya membawakan tas-tas yang masuk kabin, meskipun tasnya berat dan masih baru bangun tidur sulung tetap membantu saya.

Sekali waktu kami pernah berangkat dari Bandung pukul 1 dini hari naik bis pemandu moda ke bandara Soetta. Tiba di Bandara pukul 4.30 pagi. Kami bertiga turun dari bis di terminal F masih dalam keadaan mengantuk sekali. Barang-barang diturunkan oleh kernet bis di pembatas jalan yang berada di tengah jalan. Untuk mengambil troli saya harus menyeberang agak jauh. Agak khawatir sih, karena anak-anak masih ngantuk dan saat itu nggak ada orang kecuali kami bertiga. Saya lari mengambil troli di seberang sementara anak-anak menjaga barang (saya kalau mudik bawaannya suka banyak biasanya 2 ransel, 1 koper ukuran besar, 2 kardus ukuran kardus rokok yang besar 😀 😀 ). Cepat-cepat kami angkut barang ke atas troli lalu berjalan ke pelataran bandara. Si bungsu masih merem, si sulung yang masih ngantuk banget ya terpaksa membantu saya mendorong troli ke pelataran ruang cek in.

Lain waktu, kami juga pernah tiba di bandara Soetta kurang lebih sama lah waktunya, pk 4.30 an. Saat itu kami turun dari bis di terminal C, di sana ramai banyak orang. Meskipun turun dari bis masih dalam keadaan ngantuk dan harus menyeberang jalan untuk mengambil troli, karena banyak orang saya bisa menitipkan anak-anak ke orang yang sedang berdiri di dekat kami (ya lihat-lihat dulu sih orangnya, cari yang kira-kira orang baik). Lalu saya menyeberang jalan mencari troli.

Pernah juga kami bertiga sudah di ruang boarding, sudah dapat panggilan naik pesawat, eh…si bungsu menghilang. Panik banget, saya berdua si sulung keliling mencari bungsu, taunya dia lagi turun ke lantai bawah pakai eskalator sendirian…haduhhhh -__-“.

Menunggu di pintu yang salah juga pernah kami alami. Padahal kami menunggu di pintu yang benar sesuai yang tertulis pada tiket. Setelah menunggu cukup lama, di layar display ada pengumuman penerbangan terlambat beberapa menit. Setelah keluar pengumuman itu tak lama kemudian jadwal penerbangan pesawat kami tidak muncul di layar display. Saya dan beberapa calon penumpang beberapa kali menanyakan ke petugas tapi petugasnya hanya bilang, “Pesawatnya terlambat, silahkan tunggu.” Untung si sulung anaknya tanggap. Sambil menunggu ia selalu memperhatikan layar display keberangkatan pesawat. Ia minta ijin ke pintu lain untuk melihat jadwal penerbangan kita ada tidak tertera di display yang lain. Tidak lama kemudian si sulung datang berlari-lari pada kami. “Ma…pintunya ada di ujung sana, ayo cepat kita sudah disuruh naik pesawat!” Kami bertiga dan beberapa calon penumpang lainnya segera ke pintu yang berada di sebelah ujung.

Itulah beberapa pengalaman saya terbang bersama anak-anak pada jam yang tidak ramah anak. Semakin bertambah usia, anak-anak makin mengerti dan mudah diatur. Dan mereka akhirnya terbiasa berpergian pada jam segitu.

Pada tahun 2013 kalau nggak salah ada penerbangan langsung Balikpapan-Jakarta pp. Tapi kami tidak pernah naik penerbangan itu karena harga tiketnya muahaaal.

Sebetulnya lebih nyaman jika pergi pada waktu yang bersahabat dengan anak. Tapi bagaimana jika situasi dan kondisi mengharuskan kita pergi pada waktu tengah malam seperti pengalaman saya? Saya mau bagi-bagi tips bagaimana agar tetap nyaman berpergian pada waktu yang tidak ramah anak.

1. Mencari informasi yang lengkap tentang perjalanan. Ini penting banget, mulai dari jadwal keberangkatan, situasi jalan, posisi counter tiket, fasilitas umum, dan lainnya. Biasanya saya rajin tanya sama suami dan teman-teman saya sesama ibu yang sering melakukan perjalanan bersama anak-anak tanpa didampingi suami.

2. Informasikan semua info (jadwal keberangkatan, nomor penerbangan, nomor kursi dll) ke anak-anak. Ajarkan anak untuk selalu membaca jadwal dan rambu-rambu yang ada di papan display sepanjang perjalanan. Ajak anak untuk selalu aware sama situasi sekitar. Ajak anak untuk selalu membaca tata cara menghadapi situasi darurat yang biasanya brosurnya tersedia di kursi penumpang. Jangan biarkan dia cuma main game aja.

3. Buat aturan dan biasakan anak untuk disiplin. Misalnya akan melakukan perjalanan menggunakan bis selama 4 jam, sebelum naik bis anak-anak harus buang air kecil dan besar, karena di dalam bis tidak bisa. Atau, biasakan sebelum berpergian perut nggak boleh kosong, biasakan sebelum pergi makan dulu minimal makan roti, dan bawa bekal makanan secukupnya yang disukai anak.

4. Bagi-bagi tugas membawa barang. Karena kalau saya berpergian suka banyak bawa barang, mau nggak mau harus gotong royong melibatkan anak-anak. Lebih baik membawa barang secukupnya saja, jangan seperti saya -__- .

5. Ajak dan biasakan anak untuk berdoa sebelum dan selama di perjalanan. Agar Tuhan selalu melindungi dan memberikan kemudahan di perjalanan.

Meskipun repot pada awalnya, akhirnya saya dan anak-anak terbiasa dengan situasi berpergian seperti ini. Lama kelamaan sudah tidak repot apalagi anak-anak semakin besar. Mereka sudah lebih mengerti dan semakin asyik diajak kerja sama. Tapi saran saya sih selama masih bisa memilih, sebaiknya pilihlah waktu perjalanan yang ramah anak.

Selamat berlibur!

Posted in #BukanSuperMom, curcol, Sahabat

Jangan Lupakan Hal Ini, Ibu | Dalam Rangka Hari Ibu 22 Desember

me and my friends
“selamat hari ibu”

Ibu, di pundak seorang ibu terdapat kemuliaan dan pengorbanan yang tidak mungkin terbalaskan oleh anaknya. Kasih sayang ibu, mengantarkan anak-anak menjadi manusia seutuhnya di masa depan. Saya bisa seperti sekarang ini adalah berkat perjuangan dan doa dari ibu saya. Dan semua orang (termasuk saya) yang hari ini mengucapkan “Selamat Hari Ibu” memiliki perasaan sama dan berkeinginan mengungkapkan rasa terima kasih kepada ibu atas semua jasa-jasanya.

Pada kesempatan ini saya tidak akan menulis tentang sosok ibu atau ibu mertua saya. Kali ini saya ingin menulis sedikit tentang hal-hal yang sering kali dilupakan oleh ibu dalam menjalani tugasnya sehari-hari. Jangan khawatir, ini bukan tentang working mom versus full time mom, tapi ini tentang semua orang yang disebut ibu.

Ketika saya menjadi seorang ibu, secara alami dari dalam diri saya muncul naluri keibuan. Naluri yang berupa perasaan kasih sayang, perasaan ingin melindungi, menjaga dan merawat anak saya. Perubahan dalam diri saya pun terjadi, kalau dulunya saya bisa digolongkaan sebagai makhluk yang cuek, setelah menjadi ibu saya tidak lagi demikian. Saya berubah 180 derajat. Pikiran tentang anak mendominasi 90% isi kepala saya. Saya anak sulung dan termasuk orang yang cuek, saya awam sekali dengan urusan anak. Tapi sejak memiliki anak, saya mulai mencari tahu bagaimana A sampai Z tentang seluk beluk merawat anak.

Sejak saat itu waktu yang saya miliki tidak sepenuhnya milik saya, karena sebagian besar saya gunakan untuk mengurus anak-anak dan suami. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Saya yakin nggak cuma saya tapi hampir semua ibu selalu bangun lebih pagi dan tidur paling malam dari pada suami dan anak-anaknya.

Menjadi ibu harus memiliki tubuh yang kuat, bagaimana tidak? Setiap hari jam tidurnya kurang, beban pekerjaan rumah (dan kantor bagi working mom) sangat besar, belum lagi harus mengurus anak, menjadi manager keuangan rumah tangga, guru privatnya anak-anak, sopir pribadi antar jemput anak dan seterusnya nggak ada habisnya. Tapi sering mendengar tidak, banyak ibu yang lupa mengurus dirinya sendiri? Karena semua waktu dan tenaganya terkuras demi mengurus suami, anak, rumah tangga.

Kalau lagi kumpul sama teman-teman sesama ibu, di sela-sela ngobrol ngalor ngidul suka terselip percakapan seperti ini :
“Aku nggak sempat sarapan, tadi di rumah sibuk ngurusin anak mau sekolah dan suami yang mau berangkat ke kantor.”
Ya sebetulnya nggak jauh-jauh sih contohnya saya sendiri :D. Dan saya nggak sendirian, karena banyak teman-teman saya sesama ibu yang juga seperti saya, lupa mengurus diri sendiri.

Contoh : saya setiap pagi memasak bekal makan siang untuk suami dan anak-anak, tapi saya sering lupa memasak makan siang untuk saya sendiri akhirnya saya sering makan mie instan *kayak anak kost aja* padahal keseringan makan mie instan nggak bagus untuk kesehatan. Waktu menunggu anak di sekolah seharian, saya suka lupa minum air putih akibatnya saya dehidrasi. Badan saya suka tiba-tiba drop *ya itu sih salah sendiri* iya sih. Tapi mengerti kan kenapa saya sampai lupa sama diri saya sendiri? Karena saya lebih memikirkan orang lain, yaitu anak dan suami. Tapiii…kalau sudah drop kan kasihan anak-anak dan suami jadi keteteran, nah loh!

Menurut saya kurang tepat kalau seorang ibu harus mengorbankan segala-galanya untuk keluarga sampai-sampai melupakan dirinya sendiri. Bukan apa-apa, seorang ibu kan dituntut untuk kuat jasmani dan rohani untuk menjalankan semua tugas dan kewajibannya. Usahakan untuk hidup seimbang dan tidak berlebihan *self reminder*. Dan berikut hal-hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan oleh seorang ibu dalam kesehariannya :

1. Tepat waktu dalam menjalankan shalat 5 waktu
Tugas ibu itu banyakkk sekali dan rasanya nggak ada habisnya. Sampai muncul istilah “Rasanya 24 jam itu masih kurang”. Masih banyak ibu *termasuk saya* yang suka menunda shalat karena tanggung lagi ngerjain ini…sebentar lagi selesai, padahal urusannya itu tidak kunjung selesai sampai suara adzan berkumandang. Disitulah ibu baru sadar…astagfirullah, aku belum sempat shalat, sudah adzan lagi. Saya salut sama Mama saya, sesibuk apa pun selalu shalat di awal waktu. Ketika adzan berkumandang beliau tinggalkan pekerjaannya lalu cepat-cepat mengambil air wudhu dan shalat. Mama bilang, biasakan kalau dengar adzan cepatlah wudhu dan shalat, jangan menunggu ini itu, kalau sudah shalat hati jadi lebih tenang dan pekerjaan cepat selesai.

2. Makan makanan bergizi dan jangan lupa banyak minum air putih.
Makan makanan bergizi sering kali dilupakan oleh ibu, padahal ibu yang memasak makanan dan mengharuskan anggota keluarga menyantap makanan yang bergizi, biar nggak gampang sakit katanya, tapi kenapa ibu sering kali lupa untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi? Minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi, membuat kulit menjadi segar dan membantu dalam melakukan diet. Anak-anak aja setiap hari dibekali satu botol ukuran 1 liter yang isinya air putih dan mereka habiskan selama di sekolah, kenapa ibu sampai lupa nggak minum air putih seharian?

3. Olah raga teratur
Olah raga akan menjadikan tubuh ibu menjadi sehat dan bugar, selain itu membuat ibu awet muda. Tapi sering kali ada saja alasan untuk tidak berolah raga secara teratur. Akibatnya ibu sering mengeluh pusing dan sebagainya, coba deh olah raga supaya peredaran darahnya lancar.

4. Punya ‘Me Time”
Punya waktu sendiri untuk memanjakan diri itu penting untuk seorang ibu. Gunanya untuk refreshing, supaya ibu nggak jutek menghadapi rutinitas yang itu-itu saja di rumah. Coba luangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang membaut ibu senang, misalnya ke salon, beli baju, bertemu dengan teman-teman, membaca novel, berkebun, merajut dan lain-lain. Oh iya, menurut salah seorang sahabat saya ‘me time’ yang sehat itu adalah yang tidak mengganggu dan merusak hak orang lain. Jadi, sediakan waktu yang cukup nggak usah sampai berlebihan ingin ‘me time’ terus, nanti kasihan anak dan suami nggak keurus.

5. Pintar membagi waktu
Mungkn kuncinya disiplin ya, karena waktu sehari semalam hanya tersedia 24 jam. Dalam 24 jam tersebut, ibu harus bisa mengatur kapan waktunya mengurus keluarga, kapan harus beribadah, kapan harus olah raga kapan harus ‘me time’ dan lainnya.

Kira-kira 5 hal di atas menurut saya tidak boleh dilupakan oleh seorang ibu (ada yang mau nambahin? Silahkan ya!). Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi ibu yang mampu mendampingi suami dan membesarkan serta menuntun anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh dan berhasil di kemudian hari.

Terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan untuk Mama dan Mama Mertua saya atas pengorbanan dan doa tiada henti yang kalian panjatkan untuk kami anak-anak mu. Semoga Mama dan Mama Mertua sehat-sehat dan bahagia selalu….aamiin ya robbal alamin.

Untuk teman-teman ku sesama ibu, “Selamat Hari Ibu!”

Posted in #BukanSuperMom, curcol

Mengambil Rapot Anak

Hari ini sebagian sekolah sudah ada pengambilan rapot semester ganjil. Kalau anak-anak saya baru besok dibagi rapotnya. Status bbm, wa, fb, path dll hari ini hampir semua sama isinya, yaitu tentang hasil rapot anak-anak.

Setiap kali hari pengambilan rapot ada hal yang bikin saya gemes dan jadi ingin curhat di sini..hehehe. Saya menemukan beberapa kali dan hampir di semua sekolah (anak saya kan sekolahnya pindah-pindah) ada ibu yang menjelek-jelekkan anaknya di depan guru karena nilai rapot. Terus yang bikin saya nggak  ngerti sama sekali adalah, si ibu itu mengadukan anaknya ke guru karena belajarnya kurang serius jadi nilainya kurang memuaskan.  Padahal, anaknya si ibu itu sedang menenteng piala karena ia masuk rengking tiga besar. Begini contoh percakapan si ibu dengan guru, sementara si anak duduk manis di sebelah ibunya sambil menggendong piala.
Ibu  : ” Aduh, kok nilai kamu sekarang turun sih? Kamu sih belajarnya nggak serius (sambil nunjuk-nunjuk ke hidung anaknya). Bu guru, ini anak saya sekarang banyak main ya di sekolah, belajarnya nggak serius, jadi nilainya turun.”
Bu Guru : (senyam -senyum aja)
Saya yang duduk gak jauh dari mereka lalu tepok jidat.

Saya nggak ngerti ini ibu maksudnya apa ya? Mau pamer karena anaknya berprestasi, jadi pura-pura complain tentang anak di depan guru dan ortu lainnya. Atau dia tipe ibu yang nggak puas sama hasil kerja keras anaknya. Aneh aja, udah jelas anaknya dapet piala masuk rengking tiga besar, masih ngomel seperti itu. Kalau anak saya bisa dapat piala, saya mah bakalan sujud syukur dan mengucapkan terima kasih pada bu guru dan anak saya tentunya. Udah itu aja cukup, nggak pakai complain lagi dah.

Lalu bagaimana dengan nasib anak yang nggak mendapatkan rengking? Mau kecewa seperti apa ibunya? Malu udah pasti, sedih iyaa, pengen ngomelin anaknya…bangett. Tapi bagaimana ya memang hasilnya sudah seperti itu. Jadi galau kan?

Menurut saya begini, yang berkaitan dengan hasil rapot anak dulu ya. Buat saya kalau mau berusaha dan ‘memecut’ anak sebaiknya dilakukan ketika belum bagi rapot, tepatnya pada saat belajar dan ujian. Bikin kesepakatan sama anak deh, “Nak, kalau kamu rajin belajar dan nilainya bagus nanti Mama kasih kamu…..kalau kamu belajarnya malas uang jajan Mama kurangi ya.” (ini contohnya). Jangan lupa biasakan anak untuk selalu mengingat Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Belajar keras diiringi berdoa pada Allah. Nanti selesai ujian tinggal berdoa sambil menunggu hasil. Tetaplah berdoa meminta hasil yang terbaik. Lalu ketika pembagian rapot, ajarkan anak untuk bisa menerima semua hasil kerja keras dan doa yang selama ini udah diusahakan (bukan cuma anak sih, ortunya juga harus bisa menerima kenyataan).

Kalau hasilnya baik, ajak anak untuk bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada guru. Jangan lupa untuk menepati janji sesuai kesepakatan yang sudah dibuat. Ucapkan terima kasih pada anak atas kerja kerasnya. Jangan membiasakan mengeluh ini itu apalagi di depan anak. Nanti anak nggak belajar bersyukur. Nggak usah berlebihan mengekspresikan kebahagiaan kita, santai…biasa ajaa.

Kalau hasilnya jelek, ya sudah terima saja apa adanya. Jangan menjelek-jelekkan anak di depan guru, teman-temannya dan orang tua murid. Ingat, anak juga punya harga diri loh! Sebelumnya kan sudah punya kesepakatan dengan anak, penuhi kesepakatan itu, nggak usah ngomel-ngomel. Anak akan belajar bersepakat dan menerima konsekwensi dari apa yang telah diperbuatnya.

Kalau curiga ada salah nilai, sebaiknya kumpulkan bukti-bukti nilai ulangan, datangi guru, lalu cross cek bersama. Jangan bisanya cuma menjelek-jelekkan guru di belakang.

Itu soal hasil rapot. Selanjutnya tentang sikap empati kita sama ortu yang anaknya nggak dapat rengking. Pernahkah membayangkan ibu berada di posisi itu? Bagaimana rasanya jika kita ketimpa musibah lalu di depan kita melihat orang lain dapat rejeki lebih terus berlebihan mengekspresikannya (ya, bahasa lugasnya mah sombong). Rasanya pediiih Jendral!!
Iya, begitulah rasanya. Apalagi kalau sampai membuat orang lain menjadi iri hati. Aduhhh perasaan cuma urusan rapot anak-anak ya, kok jadi kemana-mana sih?
Intinya mengekspresikan bahagia boleh…itu hak kita kok, tapi…ingat tidak berlebihan, ingatlah perasaan orang lain.

Buat yang kebetulan nilai rapot anaknya kurang bagus juga jangan putus asa ayo evaluasi diri. Mungkin selama ini kurang memperhatikan anak (atau terlalu menyerahkan anak pada les bimbel dan kurang dikontrol). Berarti semester depan harus diperbaiki. Anaknya diajak untuk lebih rajin lagi belajarnya, diperhatikan dan ditemani. Dilihat juga kemampuan anak, percayalah Tuhan tidak menciptakan anak bodoh. Semua anak punya potensi berbeda, nggak semua harus jadi rengking satu dalam bidang akademis. Pertajam feeling ibu/bapak untuk mengenali bakat dan minat anaknya. Selalu bersyukur, alhamdulillah anak saya walaupun nilainya biasa aja tapi anaknya soleh banget, shalat nggak pernah ditinggalin dan rajin mengaji (misalnya). Nggak usah iri sama yang anaknya rengking. Iri hati nggak bakal mengantarkan anak-anak kita menjadi sukses.

Oh iya menghargai sebuah proses itu menurut saya penting ya. Karena hidup ini nggak ada yang instan. Jangan sampai kita menjerumuskan anak menjadi anak yang frustasi karena kecewa dengan hasil yang nggak sesuai dengan harapannya. Atau malah menjadikannya anak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, karena selalu berpatokan pada hasil. Naudzubillah himindzalik!

Pilih mana anaknya sukses tapi kurang bahagia atau sukses dan bahagia?
Saya pribadi menginginkan anak-anak saya menjadi anak yang soleh dan bahagia dunia akherat…aamiin.

Sudah siap menerima hasil rapot anak-anak? Semoga hasilnya bagus yaa…
Selamat berlibur.