Posted in curcol

Helm

Kita semua tahu bahwa helm wajib digunakan oleh pengendara motor. Tapi kenyataannya di jalanan sekitar tempat tinggal saya, sering terlihat pengendara motor tidak menggunakan helm. Tempat tinggal saya berada di  ujung wilayah DKI Jakarta, bisa dibilang daerah kampung lah. Jalanannya kecil-kecil dan sempit, bukan jalanan ibu kota yang luas dan lebar. Mungkin karena jalan kampung, maka banyak warga yang mengendarai motor tanpa menggunakan helm.

Suami saya adalah seorang biker. Setiap hari pergi dan pulang kantor menggunakan motor. Setiap pagi ia terlebih dahulu mengantar anak-anak ke sekolah. Suami saya memberlakukan aturan yang ketat terkait kemananan berkendara. Wajib hukumnya menggunakan helm ketika naik motor. Nggak ada alasan, mau itu jalan di gang sempit apalagi di jalan besar, jaraknya jauh atau pun dekat ya kalau naik motor HARUS pakai helm.

Alasan harus menggunakan helm bukan karena takut ditilang Polisi. Tetapi semata-mata untuk keselamatan diri sendiri. Helm melindungi kepala dari benturan yang terjadi jika tiba-tiba kita jatuh saat mengendarai motor (naudzubilahhimindzalik). Kecelakaan memang tidak bisa dicegah dan datangnya tiba-tiba. Apa salahnya melindungi kepala kita sendiri dengan helm. Jadi tidak ada hubungannya dengan Polisi, karena yang kita lindungi kan bukan kepalanya Polisi.

Sudah menjadi kebiasaan para warga mengabaikan hal yang satu ini. Mungkin karena menganggap sepele, apalagi naik motornya hanya ke warung untuk membeli kerupuk, repot amat harus pakai helm. Di sini kan nggak ada polisi, aman lah! Hal yang seperti ini nih menurut saya tidak tepat. Dan karena orang-orang nggak pada pakai helm maka kelihatannya aturan penggunaan helm pun seolah-olah berubah menjadi : tidak apa-apa tidak menggunakan helm karena anda naik motor di jalan kampung yang jaraknya kurang dari sekian kilometer.

Hal ini mempengaruhi pemikiran anak-anak saya. Mereka menolak menggunakan helm ketika akan dibonceng oleh Papanya. Alasannya : orang lain juga pada nggak pakai helm, ngapain kita harus repot-repot pakai helm? Si bungsu saya malah malu karena harus membawa-bawa helm ke sekolahnya. Sedangkan si sulung tidak mau menggunakan helm karena helm akan merusak gaya rambutnya yang sudah susah-susah ia tata sejak subuh. Hadeuhh.

Saya, suami dan anak-anak sering melihat di depan mata kami kejadian kecelakaan yang menimpa pengendara motor. Motor itu riskan sekali, kadang kesenggol sedikit langsung jatuh. Atau kalau melewati lubang motor akan oleng dan jatuh.

Sebagai orang tua, saya dan suami harus berkali-kali menjelaskan dan mengingatkan tentang peraturan ini. Sekarang alhamdulillah mereka sudah mengerti. Naik ojek online pun mereka selalu minta menggunakan helm.

Jika melihat perilaku para pengendara motor di daerah saya, mereka itu mengerikan. Yang membonceng anak, anaknya nggak dipakaikan helm, santai aja…itu nggak pernah kepikiran apa kalau ‘terjadi sesuatu’ kayak gimana itu ya. Belum lagi mereka yang suka menyerobot jalan, pengendara motor itu seperti tidak punya rem. Sudah tahu ada yang mau nyebrang jalan, masih digas, bukan direm. Mereka nggak mau memberi kesempatan kepada kendaraan lain untuk jalan, mungkin buat mereka jalan itu adalah hak mereka sepenuhnya. Atau ada lagi nih pengendara motor yang hobby sekali menerobos lampu merah, atau menerobos jalan yang ada rambu dilarang masuk. Kalau dipikir-pikir itu kan bahaya ya.

Nggak semua seperti itu sih, masih ada kok pengendara yang taat aturan dan santun dalam berkendara (tapi jumlahnya nggak banyak).

Intinya, aturan harus menggunakan helm ketika mengendarai motor itu sebetulnya untuk keselamatan kita sendiri. Karena kita nggak pernah tahu ada kejadian apa di depan nanti. Kita wajib berusaha melindungi diri kita dengan menaati aturan yang ada. Jangan sampai membenarkan hal yang kelihatan lumrah terjadi di lingkungan kita, padahal  hal itu salah dan melanggar peraturan.

 

 

 

 

Posted in #BukanSuperMom, curcol

Belajar Beradaptasi (bagian 2)

image

Ketika harus hijrah ke tempat baru, tak hanya anak-anak yang wajib beradaptasi dengan lingkungan baru. Kami, orang tuanya pun harus bisa cepat mengkondisikan diri dengan tempat yang baru. Kalau bukan karena rasa tanggung jawab yang besar sebagai orang tua dan memang kami sudah lebih dewasa dari pada anak-anak, sebetulnya hal ini tidaklah mudah untuk dilalui.

Mungkin saya adalah orang yang penakut, takut akan perubahan, takut keluar dari zona nyaman. Setiap kali pindah saya selalu dilanda perasaan khawatir. Apakah di tempat yang baru akan baik-baik saja? Dan ribuan perasaan galau memenuhi kepala saya. Tapi, saya harus kuat, saya harus tegar dan optimis di tempat yang baru saya akan baik-baik saja.

Kenangan indah dan semua kenyamana di tempat lama harus saya tinggalkan. Mengingat-ingatnya hanya akan menciutkan hati saya. Pada kenyataannya tak mudah beradaptasi di tempat baru. Tapi bukan berarti saya tidak bisa melewatinya.

Saya pikir, masalah pertemanan hanya dialami oleh anak-anak saja. Misalnya ada yang suka berkelompok, ada yang suka pamer, ada yang suka iri, ada yang suka mengadu domba dst. Karena   menurut saya orang yang lebih tua umurnya pasti lebih dewasa dan bijaksana. Ternyata prasangka saya meleset. Pertemanan diantara orang dewasa (baca : ibu-ibu) itu kadang tak ada bedanya seperti anak-anak, lebih tepatnya kekanak-kanakan.

Persoalan bullying juga saya alami, iya saya pernah dibully oleh sesama ibu. Apa pasalnya? Rata-rata karena sosok saya yang sederhana dan apa adanya. Saya suka tampil apa adanya, asalkan nyaman ya nggak masalah buat saya. Tapi ternyata gara-gara hal ini saya pernah dipelototin dari ujung kaki sampai ujung kepala sama seorang ibu.  Saya padahal sudah berusaha berpakaian rapi dan tidak norak. Memang saya tidak pernah memakai perhiasan, karena memang tidak suka, dan tas yang saya pakai adalah tas murah merk lokal, bukan tas bermerk yang harganya jutaan. Mungkin di mata mereka saya ini orang apalah…yang patut dipandang sebelah mata. Sehingga ketika berpapasan, meskipun saya melemparkan senyum, ibu tersebut pura-pura tidak melihat saya. Lain waktu saya pernah ditegur oleh seorang ibu istri asisten manager sebuah perusahaan minyak, gara-gara penampilan saya yang biasa ini. Begini kira-kira tegurannya, “Kamu itu sebetulnya punya wajah manis *ehem*, tapi coba deh lihat pakaian kamu biasa banget, pakai kerudung juga yang polosan kayak gini, cobalah diperbaiki.” sambil pegang-pegang jilbab yang sedang saya kenakan. Soal HP (hand phone), saya juga pernah diolok-olok karena hp saya bukan blackberry yang saat itu lagi naik daun. Hp saya hp jadoel, tapi masih bisa dipakai komunikasi. Gara-gara hp ini, saya sampai curhat sama suami. Kemudian suami menawarkan untuk membelikan saya BB baru. Saya tolak tawarannya, karena hal ini bukan masalah yang urgent dan ya ampun suami saya aja masih bertahan dengan hp nokianya meskipun kini ia sudah naik jabatan, masa saya yang cuma emak-emak aja minta yang melebihi suami?? Istri macam apa aku ini?…Enggak lah, kemuliaan seseorang bukan terletak pada tas bermerk, perhiasan atau hp (bagi saya sih begitu).

Lalu bagaimana menghadapinya? Ya slow kayak di pulau aja sih *padahal di rumah curhat melulu sama suami*…huhuhu. Ya nggak apa-apa kan kalau curhatnya ke suami. Alhamdulillah suami selalu menguatkan hati saya, beliau selalu bisa membuat saya berdiri tegak menghadapi segala macam tantangan di luar sana.

Bagi saya bersosialisasi alias berteman adalah hal penting dalam hidup. Jadi, tantangan di atas yang pernah saya alami tidak membuat saya kapok. Saya terus bergaul, mencari teman yang lebih baik lagi, yang membuat saya lebih nyaman. Kenapa? Karena saat itu saya hidup merantau jauh dari tanah kelahiran dan para sanak saudara. Saya harus menemukan saudara baru di perantauan.

Saya jadi ingat pesan tetangga sepuh di tempat tinggal kami terdahulu. Ia berkata seperti ini pada saya, “Jeng itu orang baik *uhuk*, jangan takut, orang baik itu pasti mendapat tempat yang baik pula.”

Seiring dengan berjalannya waktu saya pun akhirnya bertemu dengan orang-orang yang baik terhadap saya. Teman-teman yang sejalan dengan saya dan saya nyaman dengan mereka. Teman yang ikhlas mau berteman dengan saya yang selalu tampil apa adanya dan bukan karena melihat apa yang saya miliki ( mobil, rumah, perhiasan, tas dll). Teman yang selalu menghibur dikala sedih dan selalu ada dikala saya sedang kesusahan. Saya merasa bahagia sekali, perkataan nenek itu benar! Mereka, teman-teman saya adalah saudara baru saya.

Dalam bergaul ada pakem-pakem yang selalu saya taati. Diantaranya adalah :
1. Jangan sok eksklusif
Apa pun latar belakang kita, kaya, jenius, cantik, keturunan darah biru dst, jangan sombong. Dunia ini luasss…yang hebat itu nggak hanya kita. Jadi jangan sombong lah yaw!
2. Jangan rendah diri
Ok, nggak boleh sombong bukan berarti boleh rendah diri. Meskipun secara duniawi nggak punya harta berlimpah dst, jangan bikin kita rendah diri. Ingat, kita ini sama-sama ciptaan Tuhan dan Tuhan menciptakan kita dengan berbagai potensi. Menurut saya salah satu bentuk rasa syukur kita atas nikmat Allah adalah dengan tidak sombong dan tidak rendah diri. Soalnya kalau rendah diri bakalan bikin diri kita nggak maju, dan cenderung dekat dengan yang namanya iri hati.
3. Jadilah diri sendiri
Ini kasus yang paling banyak menimpa ibu-ibu karena mereka nggak tahan untuk tampil menjadi dirinya sendiri. Banyak ibu-ibu yang “tergelincir” karena hal ini. Karena nggak mau kalah gengsi, nggak tahan dibully terus menerus oleh lingkungannya, akhirnya memutuskan untuk mengikuti arus. Menurut saya, teman yang baik adalah yang bisa menerima kelebihan dan kekurangan kita. Kalau mereka nggak bisa menerima keadaan/diri kita yang sebenarnya, tinggalkan saja, carilah teman lain. Jangan mau dijajah.
4. Bersikap amanah
Diakui atau tidak, yang namanya ibu-ibu itu rumpi abis. Senangnya mengobrol, apalagi kalau yang diobrolin itu hot gosip. Kadang-kadang tanpa terasa, rahasia teman kita yang lain yang sudah diamanatkan untuk tidak diceritakan pada orang lain…bocor. Padahal, kebayang nggak kalau rahasia kita yang bocor, lalu kita dipergunjingkan di sana-sini oleh teman kita?? Pasti rasanya nggak enak banget kan? Belum lagi hal ini bisa dijadikan bahan untuk mengadu domba. Haduhh…runyam…runyam..jangan sampai begitu lah. Amanah itu harus dijaga. Agar orang percaya pada kita dan reputasi kita baik di mata orang lain.
5. Tidak sembarangan curhat
Bagi saya tidak semua hal mengenai urusan pribadi kita harus diketahui oleh teman. Terutama urusan rumah tangga dan hubungan kita dengan suami. It is BIG NO! Urusan rumah tangga cukup kita dan suami yang tahu, makanya penting sekali membangun komunikasi yang baik dengan suami. Harus nurut dan kompak sama suami. Jangan apa-apa bocor ke teman. Saya sangat tidak suka kalau ada ibu-ibu yang suka membicarakan urusan ranjang, meskipun itu hanya guyonan. Aduh, saru banget sih, kayak nggak ada topik lain apa ya?
Menurut saya hubungan yang baik dengan teman adalah apabila kita menjaga batas dengan teman kita. Saling menghormati, menghargai dan mengerti satu sama lain.
6. Berbuat baik karena mengharap ridha Allah bukan ridhanya manusia
Dalam sebuah hubungan pertemanan, sering kali kita berharap banyak pada teman karena kita merasa sudah berbuat banyak untuk mereka. Menurut saya hal ini tidak tepat, karena selayaknya ketika kita berbuat baik itu hanya semata-mata karena kita ingin mengharap ridha Allah. Jika berharap pada manusia, harus siap-siap kecewa.

Buat sahabat-sahabat ku, terima kasih banyak ya 🙂 . Semoga kita semua diberikan kemudahan ketika harus beradaptasi di tempat yang baru.

– tamat –

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, curcol

Belajar Beradaptasi (Bagian 1)

image
Samboja – Kutai Kartanegara (foto : koleksi pribadi)

Salah satu tantangan hidup berpindah-pindah adalah harus berulang kali belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Urusan pindah bukan perkara mudah, selain membutuhkan biaya juga menguras waktu dan tenaga. Mau pindah kemana pun tantangannya sama saja, harus belajar beradaptasi supaya bisa bertahan hidup. Dimana pun kita berada pasti ada yang membuat senang dan betah ada juga yang menyebalkan,  tidak ada yang 100% sempurna.

Beberapa minggu belakangan saya sering mendengar si Sulung mengatakan ,”Orang yang nggak kepake.” Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya. Kemudian Sulung bercerita kalau di kelasnya ia termasuk dalam golongan “orang yang nggak kepake” . Ia menjelaskan maksud dari “orang yang nggak kepake” itu adalah orang-orang yang nggak punya teman di kelas, misalnya kalau ada tugas berkelompok  nggak ada yang mau mengajak gabung kelompoknya dan  selalu ditolak di sana sini. Di kelas si Sulung ada beberapa anak yang masuk dalam golongan ini, termasuk si Sulung sendiri.

Lain waktu, ketika sedang mengerjakan tugas membuat pidato perpisahan Sulung bicara kepada saya, “Ma, aku kan orang baru di sini. Aku belum terlalu kenal sama teman-teman di kelas, jadi nggak ada kesan dan kenangan sama mereka.” Di dalam teks pidatonya anak-anak disuruh menyebutkan kenangan-kenangan bersama teman-teman sekelasnya, sementara anak saya baru pindah ke sini.

Saya setiap hari mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Kebetulan jam belajarnya Sulung dan Bungsu berbeda, Sulung selalu masuk pagi dan Bungsu ada masuk paginya ada masuk siangnya. Waktu mengantar Bungsu ke sekolah, pas waktunya anak-anak sitirahat. Dari kejauhan saya melihat si Sulung sedang bersama temannya, tidak seperti anak-anak yang lain….dia kebanyakan diam di pinggir sambil melihat temannya bermain. Waktu saya tanya kenapa dia cuma berdiri saja nggak ikut main sama teman-taman lainnya? Jawabnya, ” Kadang aku nggak dibolehin ikut main sama teman-teman ku.”

Itulah beberapa contoh ungkapan ketidaknyamanan si Sulung dengan lingkungan barunya. Sebagai seorang ibu, saya suka merasa sedih dan kasihan sama dia apalagi waktu dia bilang bahwa dirinya termasuk dalam golongan anak yang nggak kepake itu.  Sulung harus pindah saat kenaikan kelas 6, dimana dalam waktu dekat ia akan menghadapi Ujian nasional dan Ujian Sekolah. Selain harus menyiapkan diri dengan belajar, ia harus bisa survive dengan lingkungan di sekolah barunya ini. Urusan pergaulan dengan teman-temannya nggak bisa danggap remeh, soalnya ini urusan hati. Saya nggak mau mentalnya down gara-gara masalah pertemanan.

Selain dengan doa, saya berusaha mensupport dia dengan cara membesarkan hatinya. Saya selalu bilang bahwa kalau dia mau dianggap oleh teman-temannya, maka dia harus buktikan dengan prestasi. Bukan dengan membalas olok-olok dan perbuatan temannya yang tidak menyenangkan itu. Tidak mudah bagi si Sulung untuk mencerna kata-kata saya ini dan mempraktekkannya di kehidupan nyatanya. Jatuh bangun lah saat itu menghadapi dia yang menjadi rewel dan banyak tingkah.  Iya, jatuh bangun karena berbarengan dengan tingkahnya ini, ia harus tetap saya ingatkan untuk belajar dan belajar agar nilainya bagus. Kadang ia marah ketika saya ingatkan untuk belajar. Kadang ia malah sengaja tidur, bukannya belajar….padahal besok harus menghadapi ulangan. Nggak jarang saya dan dia beradu mulut gara-gara urusan ini. Tapi kadang ia dengan kesadaran sendiri belajar sampai tengah malam (padahal keesokan harinya sebelum subuh ia harus sudah bangun untuk persiapan berangkat sekolah).

Saya juga mengingatkan ia untuk selalu ingat kepada Tuhannya. Karena kepada Tuhan lah tempat manusia bergantung dan meminta permohonan. Alhamdulillah Sulung rajin shalat dan mengaji. (Teruskan ya Nak sampai akhir hayat mu!)

Support saya dalam bentuk lain adalah berusaha aktif bergaul dengan ibu-ibu orang tua murid kelas 6. Karena di sini keberadaan forum orang tua sangat penting dalam menunjang kegiatan anak-anak di sekolah. Semua informasi tentang kegiatan sekolah datangnya cepat sekali dari para ibu yang tergabung dalam forum ini. Karena saya orang baru, saya sadar diri dan harus mau ikut serta bergabung  dengan ibu-ibu ini. Padahal sebetulnya saya orang yang nggak mudah bergaul. Alhamdulillah beberapa orang pengurusnya baik sekali pada saya. Mereka yang memasukkan saya ke dalam group bbm kelas 6, sehingga kalau ada informasi tentang sekolah saya bisa cepat tahu.  Saya sendiri berusaha untuk pro aktif lah, kalau ada apa-apa cepat tanggap, nggak banyak protes dan rewel ini itu.

Salah satunya yang sempat bikin saya khawatir adalah ketika anak-anak kelas 6 harus membuat kelompok menari tarian tradisional untuk ujian sekolah bulan Maret nanti. Anak saya cerita ke saya kalau dia nggak dapat kelompok. Teman-temannya nggak ada yang mau menerima dia sebagai anggota kelompoknya. Waaa….saya sedih sekali mendengarnya 😦 😦 😦 . Ya sudah, saya bilang…kalau memang nggak punya kelompok ya nggak apa-apa. Jangan khawatir, don’t be sad (ini yang sad malah Emaknya), kamu nari aja sendiri, nanti kita belajar sendiri dari youtube kan bisa! Si Sulung setuju dengan usulan saya, kami pun mulai mencari tarian tradisional yang gampang dipelajari dari youtube. Eh, nggak lama kemudian saya tiba-tiba dapat bbm dari ortu murid kelas 6 yang mengajak si Sulung untuk bergabung dengan anaknya. Alhamdulillah, lega sekali rasanya (ini beneran ya yang rempong malah Emaknya…hahaha). Lalu saya bilang ke Sulung, “Ini nih Mamanya si A ngajakin kamu gabung ke kelompok tarinya, besok kalian sudah mulai latihan”. Mendengar hal ini si Sulung malah galau, “Memang boleh sama si A? Soalnya kemarin aku ditolak masuk kelompoknya A. Ditolak berkali-kali.” Saya bilang, “Ya, nanti kamu bilang aja sama si A, yang ngajak kamu gabung itu Mamanya dia, bukan kamu yang minta-minta diajakin gabung.” sambil saya perlihatkan bbm dari Mamanya A ke si Sulung. Alhamdulillah urusan menari beres.

Pak Suami selalu mengingatkan saya untuk tetap mengambil ‘jarak’ dengan si Sulung. Maksudnya agar saya tidak terlalu mengkhawatirkan dia. Saya harus bisa melepaskan dia supaya dia bisa merasakan asam garam dalam pergaulan. Kalau saya lindungi terus justru kasihan dia nggak bisa survive. Iya, benar juga sih.

Nak, hidup dimana pun itu sama. Kita harus belajar beradaptasi dengan lingkungan. Nggak boleh membanding-bandingkan tempat yang lama dengan yang baru. Tempat yang lama akan menjadi kenangan kita selamanya dan di tempat yang baru kita mulai lagi berjuang dari NOL. Jangan takut, teruslah berbuat kebaikan, karena kebaikan itu sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri. Bantulah orang lain yang kesulitan , karena dikala kita mendapatkan kesulitan, ada orang lain yang menolong kita. Permudah urusan orang lain, karena ketika urusan kita dipermudah kita merasakan bahagia bukan? Kamu juga harus tahu, yang hidupnya berpindah-pindah itu bukan cuma kita saja. Banyak teman-teman mu yang harus mengalami ini.  Ibu dan Papa mu juga sejak kecil harus ikut berpindah-pindah, karena Mbah Akung dan Eyang Papap  harus pindah-pindah dinasnya. Sama kok, kami juga dulu harus  merasakan nggak nyaman ketika berjuang dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda.

Alhamdulillah hasil semester ganjil kemarin memuaskan, walaupun tidak menduduki peringkat kelas, si Sulung tidak termasuk ke dalam kelompok anak-anak yang harus dikarantina.

Terima kasih ya Nak! Benar kan, kamu BISA! Pasti bisa, iya…kamu pasti bisa!!!

We love you.

Posted in #BukanSuperMom, curcol, Sahabat

Jangan Lupakan Hal Ini, Ibu | Dalam Rangka Hari Ibu 22 Desember

me and my friends
“selamat hari ibu”

Ibu, di pundak seorang ibu terdapat kemuliaan dan pengorbanan yang tidak mungkin terbalaskan oleh anaknya. Kasih sayang ibu, mengantarkan anak-anak menjadi manusia seutuhnya di masa depan. Saya bisa seperti sekarang ini adalah berkat perjuangan dan doa dari ibu saya. Dan semua orang (termasuk saya) yang hari ini mengucapkan “Selamat Hari Ibu” memiliki perasaan sama dan berkeinginan mengungkapkan rasa terima kasih kepada ibu atas semua jasa-jasanya.

Pada kesempatan ini saya tidak akan menulis tentang sosok ibu atau ibu mertua saya. Kali ini saya ingin menulis sedikit tentang hal-hal yang sering kali dilupakan oleh ibu dalam menjalani tugasnya sehari-hari. Jangan khawatir, ini bukan tentang working mom versus full time mom, tapi ini tentang semua orang yang disebut ibu.

Ketika saya menjadi seorang ibu, secara alami dari dalam diri saya muncul naluri keibuan. Naluri yang berupa perasaan kasih sayang, perasaan ingin melindungi, menjaga dan merawat anak saya. Perubahan dalam diri saya pun terjadi, kalau dulunya saya bisa digolongkaan sebagai makhluk yang cuek, setelah menjadi ibu saya tidak lagi demikian. Saya berubah 180 derajat. Pikiran tentang anak mendominasi 90% isi kepala saya. Saya anak sulung dan termasuk orang yang cuek, saya awam sekali dengan urusan anak. Tapi sejak memiliki anak, saya mulai mencari tahu bagaimana A sampai Z tentang seluk beluk merawat anak.

Sejak saat itu waktu yang saya miliki tidak sepenuhnya milik saya, karena sebagian besar saya gunakan untuk mengurus anak-anak dan suami. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Saya yakin nggak cuma saya tapi hampir semua ibu selalu bangun lebih pagi dan tidur paling malam dari pada suami dan anak-anaknya.

Menjadi ibu harus memiliki tubuh yang kuat, bagaimana tidak? Setiap hari jam tidurnya kurang, beban pekerjaan rumah (dan kantor bagi working mom) sangat besar, belum lagi harus mengurus anak, menjadi manager keuangan rumah tangga, guru privatnya anak-anak, sopir pribadi antar jemput anak dan seterusnya nggak ada habisnya. Tapi sering mendengar tidak, banyak ibu yang lupa mengurus dirinya sendiri? Karena semua waktu dan tenaganya terkuras demi mengurus suami, anak, rumah tangga.

Kalau lagi kumpul sama teman-teman sesama ibu, di sela-sela ngobrol ngalor ngidul suka terselip percakapan seperti ini :
“Aku nggak sempat sarapan, tadi di rumah sibuk ngurusin anak mau sekolah dan suami yang mau berangkat ke kantor.”
Ya sebetulnya nggak jauh-jauh sih contohnya saya sendiri :D. Dan saya nggak sendirian, karena banyak teman-teman saya sesama ibu yang juga seperti saya, lupa mengurus diri sendiri.

Contoh : saya setiap pagi memasak bekal makan siang untuk suami dan anak-anak, tapi saya sering lupa memasak makan siang untuk saya sendiri akhirnya saya sering makan mie instan *kayak anak kost aja* padahal keseringan makan mie instan nggak bagus untuk kesehatan. Waktu menunggu anak di sekolah seharian, saya suka lupa minum air putih akibatnya saya dehidrasi. Badan saya suka tiba-tiba drop *ya itu sih salah sendiri* iya sih. Tapi mengerti kan kenapa saya sampai lupa sama diri saya sendiri? Karena saya lebih memikirkan orang lain, yaitu anak dan suami. Tapiii…kalau sudah drop kan kasihan anak-anak dan suami jadi keteteran, nah loh!

Menurut saya kurang tepat kalau seorang ibu harus mengorbankan segala-galanya untuk keluarga sampai-sampai melupakan dirinya sendiri. Bukan apa-apa, seorang ibu kan dituntut untuk kuat jasmani dan rohani untuk menjalankan semua tugas dan kewajibannya. Usahakan untuk hidup seimbang dan tidak berlebihan *self reminder*. Dan berikut hal-hal yang menurut saya tidak boleh dilupakan oleh seorang ibu dalam kesehariannya :

1. Tepat waktu dalam menjalankan shalat 5 waktu
Tugas ibu itu banyakkk sekali dan rasanya nggak ada habisnya. Sampai muncul istilah “Rasanya 24 jam itu masih kurang”. Masih banyak ibu *termasuk saya* yang suka menunda shalat karena tanggung lagi ngerjain ini…sebentar lagi selesai, padahal urusannya itu tidak kunjung selesai sampai suara adzan berkumandang. Disitulah ibu baru sadar…astagfirullah, aku belum sempat shalat, sudah adzan lagi. Saya salut sama Mama saya, sesibuk apa pun selalu shalat di awal waktu. Ketika adzan berkumandang beliau tinggalkan pekerjaannya lalu cepat-cepat mengambil air wudhu dan shalat. Mama bilang, biasakan kalau dengar adzan cepatlah wudhu dan shalat, jangan menunggu ini itu, kalau sudah shalat hati jadi lebih tenang dan pekerjaan cepat selesai.

2. Makan makanan bergizi dan jangan lupa banyak minum air putih.
Makan makanan bergizi sering kali dilupakan oleh ibu, padahal ibu yang memasak makanan dan mengharuskan anggota keluarga menyantap makanan yang bergizi, biar nggak gampang sakit katanya, tapi kenapa ibu sering kali lupa untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi? Minum air putih yang banyak untuk mencegah dehidrasi, membuat kulit menjadi segar dan membantu dalam melakukan diet. Anak-anak aja setiap hari dibekali satu botol ukuran 1 liter yang isinya air putih dan mereka habiskan selama di sekolah, kenapa ibu sampai lupa nggak minum air putih seharian?

3. Olah raga teratur
Olah raga akan menjadikan tubuh ibu menjadi sehat dan bugar, selain itu membuat ibu awet muda. Tapi sering kali ada saja alasan untuk tidak berolah raga secara teratur. Akibatnya ibu sering mengeluh pusing dan sebagainya, coba deh olah raga supaya peredaran darahnya lancar.

4. Punya ‘Me Time”
Punya waktu sendiri untuk memanjakan diri itu penting untuk seorang ibu. Gunanya untuk refreshing, supaya ibu nggak jutek menghadapi rutinitas yang itu-itu saja di rumah. Coba luangkan waktu untuk melakukan sesuatu yang membaut ibu senang, misalnya ke salon, beli baju, bertemu dengan teman-teman, membaca novel, berkebun, merajut dan lain-lain. Oh iya, menurut salah seorang sahabat saya ‘me time’ yang sehat itu adalah yang tidak mengganggu dan merusak hak orang lain. Jadi, sediakan waktu yang cukup nggak usah sampai berlebihan ingin ‘me time’ terus, nanti kasihan anak dan suami nggak keurus.

5. Pintar membagi waktu
Mungkn kuncinya disiplin ya, karena waktu sehari semalam hanya tersedia 24 jam. Dalam 24 jam tersebut, ibu harus bisa mengatur kapan waktunya mengurus keluarga, kapan harus beribadah, kapan harus olah raga kapan harus ‘me time’ dan lainnya.

Kira-kira 5 hal di atas menurut saya tidak boleh dilupakan oleh seorang ibu (ada yang mau nambahin? Silahkan ya!). Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi ibu yang mampu mendampingi suami dan membesarkan serta menuntun anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh dan berhasil di kemudian hari.

Terima kasih yang tak terhingga saya sampaikan untuk Mama dan Mama Mertua saya atas pengorbanan dan doa tiada henti yang kalian panjatkan untuk kami anak-anak mu. Semoga Mama dan Mama Mertua sehat-sehat dan bahagia selalu….aamiin ya robbal alamin.

Untuk teman-teman ku sesama ibu, “Selamat Hari Ibu!”

Posted in #BukanSuperMom, curcol

Mengambil Rapot Anak

Hari ini sebagian sekolah sudah ada pengambilan rapot semester ganjil. Kalau anak-anak saya baru besok dibagi rapotnya. Status bbm, wa, fb, path dll hari ini hampir semua sama isinya, yaitu tentang hasil rapot anak-anak.

Setiap kali hari pengambilan rapot ada hal yang bikin saya gemes dan jadi ingin curhat di sini..hehehe. Saya menemukan beberapa kali dan hampir di semua sekolah (anak saya kan sekolahnya pindah-pindah) ada ibu yang menjelek-jelekkan anaknya di depan guru karena nilai rapot. Terus yang bikin saya nggak  ngerti sama sekali adalah, si ibu itu mengadukan anaknya ke guru karena belajarnya kurang serius jadi nilainya kurang memuaskan.  Padahal, anaknya si ibu itu sedang menenteng piala karena ia masuk rengking tiga besar. Begini contoh percakapan si ibu dengan guru, sementara si anak duduk manis di sebelah ibunya sambil menggendong piala.
Ibu  : ” Aduh, kok nilai kamu sekarang turun sih? Kamu sih belajarnya nggak serius (sambil nunjuk-nunjuk ke hidung anaknya). Bu guru, ini anak saya sekarang banyak main ya di sekolah, belajarnya nggak serius, jadi nilainya turun.”
Bu Guru : (senyam -senyum aja)
Saya yang duduk gak jauh dari mereka lalu tepok jidat.

Saya nggak ngerti ini ibu maksudnya apa ya? Mau pamer karena anaknya berprestasi, jadi pura-pura complain tentang anak di depan guru dan ortu lainnya. Atau dia tipe ibu yang nggak puas sama hasil kerja keras anaknya. Aneh aja, udah jelas anaknya dapet piala masuk rengking tiga besar, masih ngomel seperti itu. Kalau anak saya bisa dapat piala, saya mah bakalan sujud syukur dan mengucapkan terima kasih pada bu guru dan anak saya tentunya. Udah itu aja cukup, nggak pakai complain lagi dah.

Lalu bagaimana dengan nasib anak yang nggak mendapatkan rengking? Mau kecewa seperti apa ibunya? Malu udah pasti, sedih iyaa, pengen ngomelin anaknya…bangett. Tapi bagaimana ya memang hasilnya sudah seperti itu. Jadi galau kan?

Menurut saya begini, yang berkaitan dengan hasil rapot anak dulu ya. Buat saya kalau mau berusaha dan ‘memecut’ anak sebaiknya dilakukan ketika belum bagi rapot, tepatnya pada saat belajar dan ujian. Bikin kesepakatan sama anak deh, “Nak, kalau kamu rajin belajar dan nilainya bagus nanti Mama kasih kamu…..kalau kamu belajarnya malas uang jajan Mama kurangi ya.” (ini contohnya). Jangan lupa biasakan anak untuk selalu mengingat Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Belajar keras diiringi berdoa pada Allah. Nanti selesai ujian tinggal berdoa sambil menunggu hasil. Tetaplah berdoa meminta hasil yang terbaik. Lalu ketika pembagian rapot, ajarkan anak untuk bisa menerima semua hasil kerja keras dan doa yang selama ini udah diusahakan (bukan cuma anak sih, ortunya juga harus bisa menerima kenyataan).

Kalau hasilnya baik, ajak anak untuk bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada guru. Jangan lupa untuk menepati janji sesuai kesepakatan yang sudah dibuat. Ucapkan terima kasih pada anak atas kerja kerasnya. Jangan membiasakan mengeluh ini itu apalagi di depan anak. Nanti anak nggak belajar bersyukur. Nggak usah berlebihan mengekspresikan kebahagiaan kita, santai…biasa ajaa.

Kalau hasilnya jelek, ya sudah terima saja apa adanya. Jangan menjelek-jelekkan anak di depan guru, teman-temannya dan orang tua murid. Ingat, anak juga punya harga diri loh! Sebelumnya kan sudah punya kesepakatan dengan anak, penuhi kesepakatan itu, nggak usah ngomel-ngomel. Anak akan belajar bersepakat dan menerima konsekwensi dari apa yang telah diperbuatnya.

Kalau curiga ada salah nilai, sebaiknya kumpulkan bukti-bukti nilai ulangan, datangi guru, lalu cross cek bersama. Jangan bisanya cuma menjelek-jelekkan guru di belakang.

Itu soal hasil rapot. Selanjutnya tentang sikap empati kita sama ortu yang anaknya nggak dapat rengking. Pernahkah membayangkan ibu berada di posisi itu? Bagaimana rasanya jika kita ketimpa musibah lalu di depan kita melihat orang lain dapat rejeki lebih terus berlebihan mengekspresikannya (ya, bahasa lugasnya mah sombong). Rasanya pediiih Jendral!!
Iya, begitulah rasanya. Apalagi kalau sampai membuat orang lain menjadi iri hati. Aduhhh perasaan cuma urusan rapot anak-anak ya, kok jadi kemana-mana sih?
Intinya mengekspresikan bahagia boleh…itu hak kita kok, tapi…ingat tidak berlebihan, ingatlah perasaan orang lain.

Buat yang kebetulan nilai rapot anaknya kurang bagus juga jangan putus asa ayo evaluasi diri. Mungkin selama ini kurang memperhatikan anak (atau terlalu menyerahkan anak pada les bimbel dan kurang dikontrol). Berarti semester depan harus diperbaiki. Anaknya diajak untuk lebih rajin lagi belajarnya, diperhatikan dan ditemani. Dilihat juga kemampuan anak, percayalah Tuhan tidak menciptakan anak bodoh. Semua anak punya potensi berbeda, nggak semua harus jadi rengking satu dalam bidang akademis. Pertajam feeling ibu/bapak untuk mengenali bakat dan minat anaknya. Selalu bersyukur, alhamdulillah anak saya walaupun nilainya biasa aja tapi anaknya soleh banget, shalat nggak pernah ditinggalin dan rajin mengaji (misalnya). Nggak usah iri sama yang anaknya rengking. Iri hati nggak bakal mengantarkan anak-anak kita menjadi sukses.

Oh iya menghargai sebuah proses itu menurut saya penting ya. Karena hidup ini nggak ada yang instan. Jangan sampai kita menjerumuskan anak menjadi anak yang frustasi karena kecewa dengan hasil yang nggak sesuai dengan harapannya. Atau malah menjadikannya anak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, karena selalu berpatokan pada hasil. Naudzubillah himindzalik!

Pilih mana anaknya sukses tapi kurang bahagia atau sukses dan bahagia?
Saya pribadi menginginkan anak-anak saya menjadi anak yang soleh dan bahagia dunia akherat…aamiin.

Sudah siap menerima hasil rapot anak-anak? Semoga hasilnya bagus yaa…
Selamat berlibur.

Posted in curcol, Renungan

RUMAH

digambar oleh Raditya
Raditya

Dan….

Di mana pun rumah kita berada,  ada satu rumah yang selalu menantikan kehadiran mu.
Rumah itu ada di sini Nak, di hati Ibu dan Papa.

Rumah, apa arti sebuah rumah untuk mu?

Kamu mempunyai kesan yang mendalam dengan rumah ini. Ibu ingat empat tahun yang lalu ketika kita akan meninggalkan rumah ini. Kamu sangat sedih.

Kamu sangat sedih karena akan berpisah dengan semua memory indah yang sudah tertanam dalam kepala mu bersama rumah ini. Iya, Ibu tahu di sini kamu tumbuh dan berkembang, di sini di rumah ini. Kamu belajar banyak hal, kamu mendapatkan banyak pengalaman baru yang sangat berkesan. Yang selalu kamu ceritakan kepada kami berulang kali dengan sorot mata mu yang berbinar-binar. Ibu tahu itu adalah ungkapan rasa bahagia kamu.
Ibu ingat selama di perantauan kamu selalu sedih jika mengingat rumah ini. Hanya kamu yang memiliki perasaan seperti itu dan perasaan itu menetap di hati kamu. Kamu tuangkan kerinduan mu ke dalam tulisan yang kau goreskan pada kertas-kertas.

Kami sempat kelihangan kata-kata untuk membujuk mu agar tidak bersedih.
Lalu kami meminta mu untuk berdoa, menambatkan harapan mu pada Tuhan. Sejak saat itu kamu pun selalu berdoa, meminta kepada Sang Maha Kuasa agar kamu bisa kembali lagi ke rumah ini.
“Kapan kita kembali ke rumah itu, kapan?” tanya mu berulang-ulang pada kami. Entahlah Nak, kami pun tak tahu. Sudah, berdoa saja…berdoa…

Akhirnya doa mu terkabul Nak. Tuhan mengabulkan doa kamu, kita kembali ke rumah ini, rumah yang selalu kamu rindukan. Senyum mu mengembang, bahagia sekali kami melihatnya.

Namun senyum mu kini hilang, karena kita akan meninggalkan rumah ini (lagi) dan mungkin tidak akan kembali, entahlah kami pun tidak tahu.
Kamu mulai sedih. “Aku nggak mau pindah.”

Nak, kamu masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa manusia ditakdirkan untuk selalu bergerak dan berpindah tempat. Jangankan kamu Nak, kami saja yang sudah dewasa terkadang merasa takut dan sedih untuk berpisah dengan sesuatu yang sudah meberikan kenyamanan dan kenangan indah.

Jangan sedih ya Nak, kita pindah untuk menyongsong sesuatu yang lebih baik.
Akan ada rumah baru yang menampung kita berempat. Kita yang akan mengisinya dengan kebahagiaan.

Dan….

Di mana pun rumah kita berada, ada satu rumah yang selalu menantikan kehadiran mu.
Rumah itu ada di sini Nak, di hati Ibu dan Papa.

 

Posted in curcol, Renungan

Perempuan Dan Buku Katalog

image

Siang itu di halaman sekolah, saya sedang duduk bersama beberapa ibu yang menjemput anaknya. Tiba-tiba beberapa anak perempuan datang dan mereka mengambil posisi duduk di dekat saya. Salah seorang dari mereka membawa sebuah majalah. Mereka berebutan tak sabar ingin membuka majalah itu.
“Ini-ini”, salah seorang dari mereka menunjuk sesuatu dalam majalah.
” Bagus ya!” yang lain menimpali.
“Kalau aku ingin yang ini”, kata yang lainnya. Mereka membuka lembaran demi lembaran majalah dengan saling berkomentar.

Karena cukup heboh, saya pun penasaran. Baca majalah apa sih? Saya menengok dan berusaha melihat majalah apa yang sedang mereka baca. Oohhh…ternyata mereka sedang membuka lembaran katalog salah satu produk tas, baju dan sepatu. Saya tersenyum melihat tingkah polah anak-anak ini.

Perempuan dan buku katalog hubungan keduanya cukup akrab. Mengingat salah satu hobby dari kebanyakan perempuan adalah belanja. Bahkan semenjak usia anak-anak pun sangat antusias melihat-lihat, mengagumi dan memilih-milih gambar yang ada dalam katalog.

Keberadaan katalog untuk konsumen menurut saya sangat penting. Terutama untuk yang sedang mencari barang yang dibutuhkan. Misalnya ketika saya akan membeli pompa air. Tentu sebelum membeli saya harus tahu beberapa merk pompa beserta detil barangnya sebagai pertimbangan mana yang cocok untuk saya beli. Dari mana saya bisa tahu kalau bukan dari katalog.

Tapi, yang bahaya dari kegiatan melihat-lihat katalog adalah ketika hal ini dilakukan untuk iseng. Bahaya karena yang tadinya cuma iseng melihat- lihat katalog, lama-lama timbul rasa ingin memiliki. Padahal  tidak  membutuhkan barang itu. Parahnya lagi kalau mata dan logika lagi nggak nyambung.  Lagi nggak punya duit juga nggak peduli, pokoknya harus beli barang itu titik. Atau hanya karena nggak mau kalah gengsi sama teman kita yang ngeborong. Ikutan ngeborong juga padahal lagi ngga ada uang. Ah, kan uangnya bisa pinjam dulu sama teman. Wah, kebetulan bayarnya bisa dicicil. Tak terasa kita pun diseret ke dalam dunia hutang piutang. Waduh, bisa runyam kalau sudah begini.

Apalagi kalau eksis dalam komunitas. Sering kali eksistensi seseorang itu diukur dari seberapa mampu tingkat ekonominya. Jadi, masalahnya karena nggak mau kalah gengsi dan perasaan nggak enak karena nggak mampu ikut-ikut beli ini itu. Perasaan ini akhirnya membuat banyak perempuan  terjebak dalam urusan hutang piutang yang ujung-ujungnya buntu alias nggak bisa melunasi hutangnya. Parahnya lagi, urusan hutang yang tidak bisa dibayar ini bisa melebar kemana-mana sampai menghancurkan  rumah tangga. 😦

Lalu bagaimana dengan yang masuk dalam katagori mampu? Menurut saya sih sama saja. Tetap harus mempertimbangkan apakah perlu membeli atau tidak. Jangan sampai barang-barang  menumpuk di rumah dan menjadi mubazir.

Katalognya sih nggak salah, selama kita  mampu mengontrol diri sendiri. Mampu membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan keinginan. Mau ada setumpuk katalog di depan mata nggak jadi masalah. Perempuan nggak harus identik dengan sifat boros.  Justru perempuan harus pintar memanfaatkan katalog. Misalnya untuk memcari barang yang kualitasnya bagus dan harganya lebih murah. Atau malah sebaliknya, katalog digunakan untuk mencari penghasilan tambahan.

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27).