Posted in Taekwondo

Serunya Acara Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 | ICE BSD City Tangerang

Pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016 yang lalu anak-anak mengikuti acara Taekwondo Korea Ambassador Cup yang diselenggarakan di ICE BSD City Tangerang.

Kerempongan saya sebagai emaknya mereka sudah dimulai sejak H-1 yaitu hari Jum’at. Rempong apaan? Kan yang mau ikut bertanding anak-anak. Apakah si emak juga ikut bertanding? Oh bukan, emak-emak mah biasaa repot sama urusan dapur. Saya mempersiapkan bekal makan kami berempat untuk acara ini. Inilah kerempongan saya : Jumat pagi pulang olah raga saya bikin arem-arem mie. Sabtu sebelum subuh sudah di dapur lagi bikin sarapan, nasi timbel, sambel goreng kentang+ati, tumis kacang panjang+toge+tempe, dan telor dadar (penting banget ya sampe harus ditulis segala).

Pukul 6.30 kami siap berangkat menuju venue di ICE BSD City Tangerang.

Sampai di tempat acara, para atlit dari berbagai tempat latihan (ada yang dari luar kota juga) sudah berdatangan. Sebagian ada yang sudah melakukan pemanasan, sebagian lagi masih berkumpul sesuai dengan groupnya masing-masing.

Acara Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 ini adalah rangkaian dari kegiatan Korea-Indonesia Festival 2016 yang diselenggarakan oleh Kedutaan besar Korea bekerja sama dengan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Acara ini diikuti oleh sekitar 1.204 peserta, 1150 atlet mengikuti Kyorugi dan 54 atlet poomsae. Para atlet yang mengikuti pertandingan ini berasal dari 8 propinsi se-Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Yogyakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Riau, Jambi dan Bali.

Pagi-pagi acara dimulai dengan pertandingan Kyorugi dan poomsae. Kedua anak saya sama-sama mengikuti kategori Kyorugi atau bertarung. Si bungsu mendapat giliran di awal partai Alhamdulillah ia berhasil mendapatkan medali emas.

Sebelumnya bungsu sudah pernah ikut Kyorugi. Yang pertama di Kejuaraan Taekwondo yang diselenggarakan oleh Diknas Balikpapan dan PT. NGL Badak tahun 2014 ( baca juga di sini ), kemudian pada Indonesia Youth & Sports Taekwondo Festival 2015 dan yang ketiga pada acara ini Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 . Satu kali kalah dan dua kali menang. 

Sementara si sulung  kebagian partai 300-an sekitar pukul 15.30. Si sulung juga lumayan sering ikut kejuaraan, yang pertama Kejuaraan Walikota Cup se- Kota Balikpapan tahun 2013 ( baca juga : di sini ). Lalu Kejuaraan Taekwondo yang diselenggarakan oleh Diknas Balikpapan dan PT. NGL Badak tahun 2014 ( baca juga di sini ), kemudian pada Indonesia Youth & Sports Taekwondo Festival 2015 dan yang keempat pada acara ini Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 . Dua kali mendapatkan medali perak. 

Sekitar pukul 10 pagi semua pertandingan dihentikan karena akan ada upacara pembukaan. Taekwondo Korea Ambasador Cup 2016 dibuka oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Bapak Cho Taiyoung serta Ketua Umum PBTI, Bapak Letjen TNI (purn) Marciano Norman. 

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Cho Taiyoung
Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (purn) Marciano Norman

Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Korea Selatan

Dan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua yang hadir di acara ini adalah pertunjukan demonstrasi taekwondo oleh N-Lion dan para mahasiswa dari Universitas Korea Selatan. Pertunjukannya bagussss sekali, saya terpana melihatnya sampai-sampai lupa tidak sempat mengambil gambarnya (maaf ya).

Peserta Demonstrasi Taekwondo dari Universitas Korea Selatan dan N-Lion Indonesia

Setelah upacara pembukaan selesai pertandingan dilanjutkan kembali. 

Banyak hal positif yang bisa diambil dari mengikuti acara seperti ini :

1. Menambah wawasan anak-anak. 

2. Memotivasi anak-anak agar selalu semangat dan rajin berlatih.

3. Melatih kesabaran

4. Menguji keberanian

5. Menambah rasa percaya diri

Untuk keluarga saya sendiri, sering mengikuti acara seperti ini menjadi salah satu alternatif rekreasi. Kami bisa berkumpul bersama, mulai pagi sampai malam bahkan keesokan harinya. Menjaga kekompakan keluarga, saling sabar dan menyemangati satu sama lain, merasakan susah dan senang bersama. 

Targetnya sih ingin anak-anak menjadi juara, tapi jika tidak maka tidak menjadi masalah buat saya dan pak suami. Toh mereka selalu menjadi juara di hati kami. Ada banyak pengalaman yang bisa mereka ambil dari kegiatan ini. Semoga berkesan di hati mereka hingga dewasa nanti.

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, Balikpapan, Taekwondo

Berkelahi Di Sekolah

fighting
http://www.pixgood.com

Pernah nggak mengalami hal yang seperti saya alami ini? Pulang sekolah anak mengadu kepada kita kalau di sekolah mereka habis dijahili atau berkelahi dengan temannya.

Sejak pindah ke Balikpapan 4 tahun yang lalu, setiap hari si sulung mengadu hal ini kepada saya. Waktu itu dia masih duduk di kelas 2 SD. Saya dan Papanya menanggapi semua pengaduannya dengan cara cross check ke wali kelasnya dan semua itu benar adanya. Anak saya nggak berdaya apa-apa ketika dijahili oleh teman-temannya. Mungkin karena anak saya anak baru pindah. Waktu itu anak saya sampai stress dan nggak mau sekolah. Wali kelas mengaku kalau persoalannya sudah diselesaikan di sekolah, temannya yang jahil pun sudah ditindaklanjuti. Kejadian ini berlanjut sampai dia naik kelas 3 SD dan mulai berhenti di kelas 4 SD.

Dulu di sekolah lamanya di Cibubur, lingkungan sekolah anak saya cukup baik, sehingga anak saya merasa nyaman sekolah di sana dan tidak pernah ada masalah dengan temannya. Pindah ke Balikpapan karena mengikuti Papanya yang dimutasi, kami nggak punya banyak waktu untuk mencari sekolah dan nggak punya banyak uang juga saat itu untuk memasukkan si sulung ke sekolah yang terlalu mahal, yang katanya jauh lebih terjamin lingkungannya.

Sebetulnya jika bicara tentang jaminan sekolah mahal akan menjanjikan lingkungan yang benar-benar nyaman dan ‘bersih’ dari kekerasan rasanya nggak bisa begitu juga, nggak bisa dipukul rata. Karena sudah banyak juga buktinya justru bersekolah di sekolah mahal banyak juga kasus-kasus kekerasan yang terjadi.

Saya sama Papanya berharap anak-anak kami bisa menjadi anak-anak yang tangguh, bisa beradaptasi dimana saja. Karena keadaan yang mengharuskan kami seperti ini. Pekerjaan Papa yang akan selalu dimutasi ke seluruh penjuru negeri mengharuskan kami siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi ke depan. Iya kalau kami punya uang banyak sehingga bisa menyekolahkan anak-anak ke sekolah bagus seperti ketika si sulung di Cibubur dahulu. Tapi kondisi pindah-pindah yang nggak bisa ditebak ini bikin uang tabungan kita habis di’jalan’.

Kembali ke persoalan pengaduan si sulung karena dijahili oleh teman-temannya. Dulu dia takut sekali dengan temannya itu. Saya dan Papa mensupport agar ia tidak takut untuk melawan temannya yang jahil dan melaporkan kepada guru. Anak saya nggak mau melakukan itu, dia lebih memilih untuk tidak melawan karena jika ia melawan ia akan mendapatkan balasan yang lebih sakit lagi. Dan kalau melapor ke guru akan mendapatkan ancaman atau olok-olok dari temannya. Peran saya dan Papanya selain mensupport si sulung dari rumah agar tidak takut menghadapi temannya ini kami barengi dengan menjalin komunikasi yang baik dengan wali kelasnya. Lama kelamaan si sulung berani melapor kepada gurunya jika ia dijahili oleh temannya di sekolah.

Kelas 3 SD semester genap, si sulung berkeinginan ikut ekskul taekwondo di sekolah. Kami turuti keinginannya dengan syarat ia nggak boleh keluar dari ekskul ini selama setahun. Dia setuju dan alhamdulillah sampai sekarang dia dan adiknya masih mengikuti kegiatan ini. Malah sejak akhir November 2014 anak-anak minta ditambah latihannya di luar sekolah. Jadi dalam seminggu anak-anak berlatih taekwondo 3x.

Banyak hal positif yang bisa anak-anak ambil dari kegiatan bela diri ini. Diantaranya fisik mereka lebih sehat dan kuat, disiplin, taat pada aturan, menghormati senior, percaya diri dan lain-lain.

Ceritanya hari ini ketika bubaran sekolah, si sulung mengadu kepada saya kalau dia habis berkelahi dengan temannya di sekolah. Jadi, temannya yang suka menjahili dia sejak kelas 2 SD itu masih tetap sering berbuat jahil sama anak saya. Karena sekarang mereka sudah nggak sekelas, interaksi mereka agak berkurang nggak seperti dulu. Sudah dua hari ini si anak itu menjahili anak saya. Puncaknya tadi siang ketika jam istirahat. Si sulung sedang main di dekat kelas dengan teman-teman sekelasnya, tiba-tiba ia didorong dari belakang oleh si anak yang suka jahil itu. Lalu anak jahil itu juga menarik permen loli yang sedang diemut oleh temannya anak saya. Melihat hal ini anak saya marah, lalu ia membalas si anak jahil ini dengan pukulan….dan seterusnya mereka berkelahi sampai berguling-guling. Lalu tak lama bel masuk kelas berbunyi, anak-anak masuk kelas….perkelahian bubar. Di dalam kelas anak saya merasa kasihan dan merasa bersalah karena sudah membalas si anak jahil tadi. Ketika bubar sekolah, anak saya mendatangi kelas anak jahil itu dengan maksud meminta maaf, ternyata responnya anak saya malah ditampar oleh anak jahil itu. Anak saya nggak terima, lalu membalas dan terjadilah perkelahian babak kedua. Untungnya kemudian ada guru yang datang dan melerai mereka berdua, sepertinya guru tersebut tahu siapa yang salah, ia meminta si anak jahil untuk minta maaf kepada anak saya. Tapi dasar anak jahil ini memang terkenal sudah banyak memakan ‘korban’, ia menolak minta maaf ke anak saya dan malah ia berani melawan bu guru dengan hampir saja mau memukul bu guru.

Mendengar cerita ini keluar dari mulut anak saya, rasanya campur aduk. Di satu sisi saya bersyukur akhirnya anak saya berani melawan anak yang jahil itu. Tapi di sisi lain saya khawatir takut si anak jahil tersebut mengadu yang bukan-bukan ke orang tuanya dan seterusnya…seterusnya… (na’udzubillah).

Oh iya selesai si sulung menceritakan perkelahiannya itu, kemudian saya bertanya, “Kok sekarang kamu berani melawan teman mu itu Nak?” Jawabannya, “Aku berani karena aku sudah sering latihan sparing dan pernah ikut kejuaraan taekwondo, aku sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya kepala, badan dan kaki ku kena tendangan dan pukulan, makanya aku nggak merasa takut lagi sama dia.”

Setelah emosi si sulung mereda, kami nasehati pelan-pelan. Kami bangga dan berterima kasih karena ia sudah berani melawan karena dijahili oleh anak itu. Setelah itu kami ingatkan agar berhati-hati jika melawan anak yang seperti itu, jangan berlebihan dan termakan kemarahan, karena akibatnya akan merugikan dirinya sendiri. Bahwa memaafkan dan tidak memiliki sifat balas dendam adalah sikap yang jauh lebih mulia. Tak lupa, selalu mengingatkan anak-anak untuk membersihkan hati dan niat agar apapun yang kita lakukan mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Semoga kamu bisa memahaminya ya Nak, we love u. Ibu dan Papa

Posted in Anak-Anak, Balikpapan, Taekwondo

Ujian Kesabaran Di Ujian Kenaikan Tingkat

Sudah dua tahun ini kedua anak saya menekuni kegiatan beladiri taekwondo. Yang pertama kali ikut taekwondo adalah si sulung, ia ikut ekskul di sekolah setiap hari Sabtu. Selang setahun kemudian ketika si bungsu masuk SD ia kami ikutkan ekskul taekwondo juga seperti kakaknya.

Kebetulan dulu si sulung begitu masuk ekskul ini, tak lama kemudian digelar kejuaraan piala walikota se-Kota Balikpapan. Ia turut menjadi peserta kejuaraan meskipun masih sabuk putih dan baru beberapa bulan saja ikut ekskul ini. Kemudian ia juga pernah mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) se-Kota Balikpapan untuk naik ke sabuk kuning. Dan pada Oktober 2014 kemarin ketika ada kejuaraan pra junior digelar di Balikpapan, keduanya (saat itu si bungsu usah ikut ekskul taekwondo) kami ikut sertakan untuk bertarung di arena kejuaraan.

Setelah mengikuti kejuaraan pra junior tahun 2014 kemarin, anak-anak termotivasi untuk mengikuti latihan di luar sekolah. Pilihan kami jatuh pada tempat latihan di Telkom Balikpapan karena kebetulan tempatnya juga dekat dengan rumah kami. Jadi, sejak November jadwal latihan taekwondo anak-anak bertambah menjadi seminggu 3 kali ( di sekolah setiap Sabtu pagi, dan di Telkom setiap Minggu dan Rabu malam).

Namanya juga anak-anak, motivasi mereka untuk datang ke tempat latihan naik-turun, apalagi kalau di sekolah ada kerja kelompok atau mereka punya banyak pekerjaan rumah apalagi ketika sedang ulangan. Saya dan Papanya anak-anak yang ‘pasang badan’ untuk sedikit ‘memaksa’ supaya anak-anak tetap konsisten dan disiplin datang ke tempat latihan. Sebetulnya mereka cuma males berangkatnya saja, buktinya jika mereka sudah di lapangan dan bergabung dengan teman-temannya latihan mereka terlihat senang. Latihan biasanya dilakukan selama dua jam dan pastinya sangat menguras keringat. Kalau latihan malam anak-anak kecapekan sekali, latihan dimulai pukul 19.00-21.00 wita. Dan kalau latihan Sabtu pagi di sekolah anak-anak juga malas karena mereka kalau hari Sabtu ingin bangun siang dan bermalas-malasan di rumah (hari Sabtu sekolah libur). Biasanya sepulang latihan saya menyiapkan air hangat untuk mandi, setelah mandi mereka bergiliran minta dibalur minyak kayu putih atau minyak tawon, setelah itu mereka tidur dengan nyenyak. Awal mengikuti latihan malam anak-anak susah sekali dibangunkan keesokan paginya, mungkin karena mereka belum terbiasa tidur pukul 22.00 dan selama dua minggu masa penyesuaian kondisi mereka agak kepayahan kondisi fisik pun jadi agak menurun.  Untuk menunjang agar kondisi mereka tetap fit saya berupaya untuk memberikan makanan sehat dan bergizi kepada anak-anak dan ‘mengawal’ jadwal mereka (jadwal istirahat, bikin PR, belajar dst). Sungguh berat pada awal-awal masa penyesuaian dengan jadwal latihan baru ini. Untungnya saya dan suami kompak (dan suami saya itu orangnya super disiplin), jadilah kami berdua maju terus pantang mundur.

Melewati dua minggu masa penyesuaian, akhirnya mereka pun terbiasa dengan kegiatan barunya ini. Kondisi fisik mereka juga sudah mulai menyesuaikan, mereka sudah mulai kuat nggak ringgih seperti awal-awal latihan. Ya, mereka sudah mulai enjoy dengan jadwal 3 kali latihan dalam seminggu.

Nah minggu kemarin tanggal 18 Januari 2015 anak-anak mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat Taekwondo di Batalyon Infanteri 600  Raider yang berlokasi di Manggar. Pukul 7 wita kami sudah berada di tempat ujian. UKT ini diikuti oleh ratusan peserta yang datang dari seluruh penjuru kota Balikpapan. Aula yang menjadi tempat ujian diselenggarakan dipenuhi oleh para peserta yang kebanyakan usia sekolah mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Yang akan diuji pada hari itu adalah sabuk putih, kuning, hijau polos, hijau strip, biru dan biru strip. Anak-anak mendapat giliran ujian mejelang sore hari  karena yang duluan diuji adalah sabuk putih dan kuning (si sulung sudah sabuk biru dan si bungsu sabuk hijau). Seharian itu kami berempat menunggu giliran ujian sejak pagi sampai  sore hari. Duduk di lantai keramik aula milik Yonif 600 Raider tanpa alas (soalnya nggak tahu, kalau kami sejak awal tahu mungkin kami akan membawa tikar dan bantal…hehehe), belum lagi  harus berdempet-dempetan dengan orang tua dan para peserta ujian yang lain (bisa dibayangkan berjam-jam lamanya kami dalam posisi seperti itu). Pagi-pagi anak-anak masih pada semangat, tapi setelah pukul 14.00 anak-anak mulai pada manyun karena bosan. Mereka ingin pinjam tab milik saya untuk main game, nggak saya ijinkan karena rugi kalau menghabiskan waktu hanya untuk main tab, saya menganjurkan mereka memperhatikan teman-teman mereka yang sedang diuji terlebih dahulu. Sebetulnya nggak hanya anak-anak yang sudah mulai bosan tingkat dewa, saya dan suami pun sama aja sudah mulai bosan tingkat dewa. Di sinilah kesabaran kami diuji, dalam kondisi bosan dan capekkk harus menenangkan anak-anak yang mulai rewel dan keburu kecapekan padahal mereka belum mendapat giliran diuji. Kami menghabiskan waktu dengan menonton anak-anak yang sedang diuji, karena materi ujiannya sama dengan yang akan dihadapi oleh anak-anak nanti pada gilirannya. Sisanya kami jajan makanan yang ada di depan aula, ingin jalan-jalan keluar aula nggak bisa karena saat itu sedang hujan.

Alhamdulillah, kami sudah mengalami hal yang sama ketika dulu si sulung mengikuti kejuaraan piala walikota, ujian kenaikan tingkat yang sebelumnya dan pada kejuaraan pra junior. Kali ini mental kami jauh lebih siap dibandingkan dengan yang terdahulu. Sudah nggak kaget harus menunggu giliran selama lebih dari 10 jam dengan hanya duduk di lantai dempet-dempetan dengan orang lain. Anak-anak pun demikian, mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.

Pukul 15.00 wita giliran sabuk hijau diuji. Si bungsu maju bersama dengan puluhan teman-temannya sesama sabuk hijau ke tengah area pengujian. Peserta sabuk hijau dibagi menjadi 3 kelompok. Dengan penuh percaya diri si bungsu mengikuti tahapan demi tahapan pengujian (ini adalah pengalaman pertama kalinya mengikuti UKT di tingkat kota Balikpapan, biasanya dia hanya diuji kenaikan sabuk di sekolah). Saya yang duduk di pinggir matras lumayan deg-degan melihat si bungsu diuji. Apalagi ketika ia harus tampil sendirian di depan para sabeum. 45 menit berlalu….alhamdulillah si bungsu dengan keringat bercucuran bisa melewatinya dengan lancar….legaaa….tinggal si sulung nih. Si sulung dapat giliran pk. 16.30 dalam kondisi sudah mulai keluar batuk-batuknya (dia sedang nggak enak badan, hari Jumat dan Sabtu sempat demam dan batuk-batuk). Saya agak khawatir melihatnya, benar saja ketika harus memecahkan papan, baru pada tendangan ketiga ia bisa memecahkannya (nggak ada tenaga). Itu terjadi hanya pada awalnya saja, karena tak lama kemudian ia berhasil menguasai dirinya dan melaksanakan ujian dengan baik dan power full (yang jelas batuknya hilang setelah beberapa menit turun di arena pengujian). 45 menit berlalu si sulung bisa menyelesaikan ujian dengan baik…alhamdulillah.

Akhirnya selesai sudah UKT pada hari itu. Legaaaa…..sekali rasanya. Menjelang magrib kami bersiap pulang ke rumah. Di perjalanan anak-anak terlihat sangat senang, mereka ramai mengobrol tentang semua yang kami jalani pada hari itu. Sampai di rumah pk 19.00 wita (pergi saat matahari belum keluar dan pulang ketika matahari terbenam). Pulang ke rumah kami semua lelah, namun hati ini terasa senang karena pada hari itu kami berempat bisa bersama-sama melewati hari yang penuh dengan ujian 🙂

ukt
Ujian Sabuk Hijau
ukt1
Ujian Sabuk Biru

 

10945857_10204825149042211_9202034843217462674_o (1)
Ujian Kenaikan Tingkat di Aula Yonif 600 Raider Manggar

 

 

Posted in Anak-Anak, Balikpapan, Taekwondo

Anak-Anak di Kejuaraan Taekwondo Se-Balikpapan

image

image

Bulan September yang lalu anak-anak mengikuti kejuaraan taekwondo yang diselenggarakan di PT. Badak NGL yang disponsori oleh Diknas. Untuk Naufal ini adalah yang kedua kalinya dia mengikuti kejuaraan, sedangkan untuk Raditya untuk yang pertama kalinya.
Tujuan mengikuti kejuaraan kali ini selain untuk mengadu jurus dengan sesama takwondoin yang lain, juga sebagai ajang untuk melatih keberanian, kepercayaan diri dan kesabaran anak-anak. Karena anak-anak bisa langsung merasakan bagaimana ketatnya persaingan diantara para atlet,belum lagi mereka harus sabar menunggu giliran bertarung di dalam area pertandingan (mereka bisa menunggu selama berjam-jam lamanya untuk bertanding di arena yang waktu pertandingannya hanya dua menit, harus kuat dan tabah menahan panas dan debu di luar area).
Menjelang detik-detik pertandingan Radit sempat nggak mau bertanding karena keburu takut, tapi alhamdulillah akhirnya dia berani masuk area pertandingan. Naufal bertanding pada hari kedua, nyaris menang karena sejak awal sudah mendapatkan poin yang lebih unggul dari lawannya, tapi pada detik-detik terakhir tersusul oleh lawan. Radit juga belum berhasil mendapatkan juara.

Bukan juara semata tujuan yang saya dan Papanya anak-anak maksudkan, melainkan itu tadi untuk memberikan wawasan dan pengalaman pada anak-anak. Terima kasih ya Nak atas kerja keras kalian…..good job! Kita berlatih lebih giat lagi yaaa!