Posted in Jakarta, Jalan-Jalan

Mesjid Kubah Emas | Dian Al Mahri | Depok

image
dokumen pribadi

Hari Minggu kemarin kami berempat menghabiskan waktu dengan ‘mengukur jalan’ di daerah Depok. Pak Suami berbekal petunjuk dari Nokia Map hari gini masih pakai Nokia 🙂 menjelajah kota Depok. Depok sendiri sebetulnya nggak jauh dari rumah kami, tapi Depok yang bagian mana dulu. Rasanya kalau di bagian yang ini kok jauh  dan asing ya. Oke, baiklah kita ikuti saja akan dibawa kemana oleh Pak Suami.

Jalanan hari itu macet, dan saya nggak tahu saat itu berada di daerah mana. Karena selama di perjalanan mata saya nggak kuat menahan kantuk. Kalo nggak salah sejak dari pom bensin Jl. Raya Bogor saya sudah mulai tidur. Bangun-bangun kami berada di tengah-tengah kemacetan panjang, ya sudah saya tidur lagi. Begitu seterusnya selama beberapa jam entahlah saya lagi teler berat nggak enak badan. Merem-melek suasananya masih tetap sama, berada dalam kemacetan.

“Pa, kita sebetulnya mau kemana sih?” tanya saya kepada Pak Suami.

“Kita mau shalat dzuhur di Mesjid Kubah Emas.” jawab suami saya kalem sambil sesekali melihat  hpnya. mau shalat dzuhur aja jauh bener

“Dimana tempatnya?” tanya saya lagi.

“Nggak tau, kita ikuti saja petunjuk dari Nokia Map.” lanjutnya. ampun deh suami gw, kirain udah tau 

Mendapat jawaban itu saya kemudian merem lagi. Sampai kemudian Pak Suami membangunkan saya, “Bangun Bu, kita sudah sampai.”

Saya membuka mata dan melihat sebuah pintu gerbang, mobil kami memasuki gerbang tersebut dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,-. Dari kejauhan terlihat pemandangan sebuah mesjid megah  dengan kubahnya yang berwarna emas. Kami telah sampai di Mesjid Kubah Emas Dian Al Mahri Depok.

Mesjid yang didirikan oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten .  Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai  akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006 . Dengan luas kawasan 50 hektare, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. (Sumber : Wikipedia )

 

image
dokumen pribadi
image
dokumen pribadi
image
dokumen pribadi

Pintu masuk untuk laki-laki dan perempuan dipisah.  Melewati batas suci, saya menyimpan alas kaki di tempat penitipan yang ada di bagian lorong bawah tangga. Setelah mendapatkan kartu penitipan saya pun naik kembali ke atas menuju bagian dalam mesjid. Lalu saya berjalan di pelataran mesjid menuju tempat berwudhu. Setelah berwudhu saya masuk ke dalam mesjid. Laki-laki mulai dari anak kecil sampai yang sudah tua dilarang masuk ke dalam mesjid melewati pintu perempuan, begitu pun sebaliknya. Di depan pintu masuk wanita ada askar wanita berbaju dan berkerudung hitam yang siap menjaga ketertiban di dalam mesjid. Di dalam mesjid nggak boleh mengambil foto, jadi saya nggak ngambil foto bagian dalam mesjid.

Selesai shalat, saya keluar mengitari pelataran mesjid sambil mengabadikan keindahan mesjid dalam foto. Kemudian Pak Suami menelpon, meberitahu bahwa mereka sudah menunggu saya di aula yang ada di seberang mesjid. Saya bergegas ke sana.

image
aula di seberang mesjid (dokumen pribadi)

Di Aula ini banyak orang  yang membawa bekal makan siang lalu makan siang bersama keluarganya, kalau kata orang Sunda mah botram. Kami berempat duduk berkumpul membuka bekal makan siang yang sudah saya siapkan dari rumah. Dan inilah menu bekal makan siang kami  : nasi putih, tumis sayuran, semur daging, dan kentang mustofa. Kami istirahat di sini sambil menyantap bekal makan siang.

image
dokumen pribadi

Setelah makan siang dan beristirahat, di bawah terik matahari kami berjalan kaki mengelilingi bangunan mesjid. Menikmati kemegahan dan keindahan dari Mesjid Kubah Dian Al Mahri.

Advertisements

Author:

seorang ibu, suka membaca,menulis, jalan-jalan, mencoba berbagai kuliner, olah raga, dan sangat mendukung pemberian ASI eksklusif serta penggunaan obat secara rasional /RUM (Rational Use of Medicine)

12 thoughts on “Mesjid Kubah Emas | Dian Al Mahri | Depok

    1. Sepuluh ribu buat biaya masuk melewati gerbang, nanti di parkiran harus bayar parkir lagi, nah pas keluar gerbang dipungut biaya lagi….banyak preman, mengganggu keindahan mesjid, sayang deh 😦
      Saya pernah mengunjungi mesjid yg lebih bagus dari ini, yaitu mesjid islamic center samarinda di sana bebas pungutan liar

      Like

      1. Hah ._. kok banyak biayanya sih mbak buat ke masjid :’

        Aaah islamic center di samarinda itu masjid terbesar disana kan ya mbak? Kayaknya masjid di kalimantan itu bagus-bagus ya mbak :’

        Like

Terima kasih ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s