Posted in Anak-Anak, Jakarta, Sekolah

Hari Pertama Sekolah Tahun Ajaran 2016/2017

Selamat siang!
Bagaimana pengalaman mengantarkan hari pertama anak ke sekolah ? Heboh? Seru? Atau malah terharu biru? Mudah-mudahan  semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana ya.

Kalau cerita saya sendiri tahun ini si sulung masuk SMP dan bungsu kelas 4 SD. Tidak terasa, rasanya baru kemarin saya dan suami mengantar si sulung di hari pertamanya sekolah di sekolah swasta Islam di daerah tempat kami tinggal. Dan rasanya baru kemarin si bungsu masuk kelas 1 SD di Balikpapan.

Alhamdulillah si sulung mendapatkan nilai USMBD yang bagus, dengan nilai rata-rata di atas 9. Sehingga memudahkan ia lulus seleksi PPDB SMP Negeri jalur umum di salah satu sekolah unggulan di daerah tempat kami tinggal. Sebelum libur hari raya urusan mencari sekolah SMPN sudah beres.

Kebetulan sehari sebelum hari pertama masuk sekolah saya pindah rumah. Kalau dibilang repot, wah repot sekali. Seminggu sebelumnya suami dan anak-anak sudah saya minta menyiapkan baju seragam yang akan dipakai selama seminggu ke depan, baju seragam dan perlengkapan tersebut saya masukkan ke dalam satu koper khusus. Tujuannya agar tidak bingung mencari karena semua barang masih di dalam kardus dan bertumpukkan.
Malam Senin dalam keadaan lelah, tetangga dan keluarga adik yang membantu kami sejak pagi sudah pulang. Tinggallah kami berempat di rumah baru yang barang-barangnya masih berantakan. 

Kami mulai menyiapkan seragam untuk dipakai besok, hari pertama masuk sekolah. Malam itu sekitar pukul 23 semua sudah konfirmasi ke saya bahwa seragam untuk hari Senin sudah siap dipakai. Saya saat itu sudah capek sekali, tidak men-chek seragam mereka, saya langsung tidur.

Esok harinya , sebelum subuh kami berempat sudah bangun. Saya langsung ke dapur masak sarapan dan bekal makan siang, suami dan anak-anak mandi dan siap-siap. Tiba-tiba suami keluar dari kamar memakai kemeja putih yang kekecilan, “Bu, ini kemejanya kok aneh ya?” Saya memperhatikan kemeja yang digunakan suami, “Loh Pa, ini kan seragam si sulung kok dipake sama Papa sih?” Saya baru-baru ke koper mencari kemeja putih milik suami. Alhamdulillah tidak lama kemudian saya berhasil menemukan kemeja putih milik suami, saya setrika dulu. Setelah disetrika, saya serahkan ke suami. Eh, suami saya protes lagi, “Bu, ini kan celana yang sobek..kok Papa disuruh pake celana yang ini sih?” Ya ampuuun…saya kembali ngubek-ubek koper mencari celana hitam dan menyetrikanya. 

Anak-anak alhamdulillah seragamnya udah benar semua, mereka sarapan , setelah itu siap-siap memakai sepatu di teras. Tiba-tiba si bungsu lari ke gudang, ternyata sepatu yang ia siapkan kemarin salah (dia salah ambil, yang diambil sepatunya yang sudah rusak). Dia tidak berhasil menemukan sepatu sekolahnya. Saya ikut membantu si bungsu mencari sepatu di dalam kardus. Akhirnya ketemu, cepat-cepat ia pakai karena waktu sudah hampir setengah enam, waktunya berangkat. 

Waktu itu saya masih di dapur, si sulung mendatangi saya, “Bu, itu di depan ada tetangga ingin ketemu sama Ibu.” Saya cepat-cepat keluar rumah, benar saja ada seorang Ibu usianya sudah paruh baya berdiri di depan gerbang rumah kami. Intinya Ibu itu protes karena saya membuang sampah di tempat dia. Dan Ibu itu minta saya segera mengambil dan memberikan semua sampah kardus milik saya itu. Aduh…nyebelin banget, subuh-subuh sudah diomelin orang, lagi pula saya tidak tahu yang membuang sampah kardus itu bukan saya tapi yang membantu kami kemarin pindahan. Tapi ya sudah lah, itu menang sampah milik saya, ya saya harus bertanggung jawab. 

Suami sudah mengeluarkan motor, anak-anak bergantian salaman pamit pada saya, mereka bertiga berangkat ke sekolah dan tempat bekerja. Sedangkan saya cepat-cepat ke tempat sampah Ibu yang barusan protes itu, memunguti semua sampah milik saya dan memindahkannya ke depan rumah saya. Ah, untung hari masih gelap.

Selesai dengan urusan sampah, saya buru-buru masuk ke rumah, saya harus beres-beres rumah. Hari ini ada rapat di sekolah si sulung pukul 7. Suami Menyuruh saya berangkat menggunakan gojek saja, tidak boleh bawa mobil katanya karena jalanan macet.

Saya pesan gojek ketika sudah siap berangkat. Tiga menit kemudian gojek datang. “Mas, tolong antar saya ke SMPN * ya.” kata saya menjawab sapaan sopir gojek. “Bu, SMPN* itu di mana tempatnya?” kata sopir gojek. Saya bengong sebentar, berusaha mengingat alamat yang tertulis di surat undangan rapat. “Kalau nggak salah di jalan *** Mas, tahu kan?” Sopir gojek itu menjawab dengan polos, “Nggak tahu Bu.” “Ha??” Saya kaget mendengarnya, maklum karena saya belum hafal route sekolah baru anak saya ini. Rasanya lemas mendengar si Mas gojek juga tidak tahu. “Saya juga nggak tahu Mas…” jawab saya. Waduh ini gimana sih harusnya dia sebagai sopir ojek wajib tahu jalan donk kan dia juga pakai GPS. “Ya udah kita jalan aja sekarang, ini sudah hampir mulai rapatnya” , kata saya buru-buru pakai helm dan naik motor. 

Lima belas menit kemudian kami tiba di sekolah. Sudah ramai sekali, parkiran mobil dan motor sudah penuh. Setelah membayar gojek saya bergegas menuju gedung pertemuan tempat diselenggarakannya rapat. Di sana sudah penuh dan saya tidak kebagian tempat duduk. Saya mengikuti rapat sambil berdiri.

Eh…tunggu!!! Tulisan ini kan judulnya “Hari Pertama Sekolah”, kok isinya malah menceritakan saya sih?? 😂😂😂😂😂

Intinya sih begini, hari pertama masuk sekolah anak-anak diantar oleh suami. Alhamdulillah lancar semuanya. Saya bersyukur sekali menjadi warga DKI Jakarta karena sekolah di sini sangat mudah. Proses seleksi PPDB DKI juga saya rasa adil dan anak saya alhamdulillah berhasil masuk SMPN unggulan. Perhatian pemerintah tentang pelarangan praktek perploncoan di sekolah juga saya sambut dengan gembira. Karena menurut saya perploncoan terhadap anak baru itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Hal ini juga berulang Kali disampaikan oleh Ibu Kepala Sekolah dalam rapat kemarin. Bayangkan jika plonco masih berlaku bagi Siswa baru, nggak tahu bagaimana repotnya saya dan anak saya yang baru pindahan harus bikin ini itu, mencari ini itu untuk tugas MOS belum lagi berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kami sebagai orang tua murid juga tidak dibebani  kewajiban membeli seragam olah raga, batik, dan baju Muslim dari sekolah. Ibu Kepsek menegaskan berkali-kali bahwa hal ini sudah menjadi peraturan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Dan di sekolah tidak boleh ada pungutan. Ada satu kalimat yang disampaikan oleh Ibu Kepsek yang membuat saya kagum pada sekolah ini yaitu : ” Gaji guru serta tunjangan yang diberikan oleh pemerintah sudah sangat cukup, kami dibayar untuk melayani para murid anak didik kami, serta para orang tua. Saya siap 24 jam jika Ibu/Bapak ingin menghubungi saya tentang urusan anak-anak kita.”

Bu Kepsek, semoga apa yang Ibu sampaikan betul-betul sesuai dengan pelaksanaannya di lapangan….aamiin. Saya istri pegawai Negeri sipil dan suami saya selalu mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.

Sekian cerita hari pertama sekolah anak-anak saya. Hari berikutnya kami berempat masih sibuk dengan urusan beres-beres rumah 😂.

Bagaimana dengan cerita mu?

Advertisements
Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, curcol

Belajar Beradaptasi (Bagian 1)

image
Samboja – Kutai Kartanegara (foto : koleksi pribadi)

Salah satu tantangan hidup berpindah-pindah adalah harus berulang kali belajar beradaptasi dengan lingkungan baru. Urusan pindah bukan perkara mudah, selain membutuhkan biaya juga menguras waktu dan tenaga. Mau pindah kemana pun tantangannya sama saja, harus belajar beradaptasi supaya bisa bertahan hidup. Dimana pun kita berada pasti ada yang membuat senang dan betah ada juga yang menyebalkan,  tidak ada yang 100% sempurna.

Beberapa minggu belakangan saya sering mendengar si Sulung mengatakan ,”Orang yang nggak kepake.” Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya. Kemudian Sulung bercerita kalau di kelasnya ia termasuk dalam golongan “orang yang nggak kepake” . Ia menjelaskan maksud dari “orang yang nggak kepake” itu adalah orang-orang yang nggak punya teman di kelas, misalnya kalau ada tugas berkelompok  nggak ada yang mau mengajak gabung kelompoknya dan  selalu ditolak di sana sini. Di kelas si Sulung ada beberapa anak yang masuk dalam golongan ini, termasuk si Sulung sendiri.

Lain waktu, ketika sedang mengerjakan tugas membuat pidato perpisahan Sulung bicara kepada saya, “Ma, aku kan orang baru di sini. Aku belum terlalu kenal sama teman-teman di kelas, jadi nggak ada kesan dan kenangan sama mereka.” Di dalam teks pidatonya anak-anak disuruh menyebutkan kenangan-kenangan bersama teman-teman sekelasnya, sementara anak saya baru pindah ke sini.

Saya setiap hari mengantar jemput anak-anak ke sekolah. Kebetulan jam belajarnya Sulung dan Bungsu berbeda, Sulung selalu masuk pagi dan Bungsu ada masuk paginya ada masuk siangnya. Waktu mengantar Bungsu ke sekolah, pas waktunya anak-anak sitirahat. Dari kejauhan saya melihat si Sulung sedang bersama temannya, tidak seperti anak-anak yang lain….dia kebanyakan diam di pinggir sambil melihat temannya bermain. Waktu saya tanya kenapa dia cuma berdiri saja nggak ikut main sama teman-taman lainnya? Jawabnya, ” Kadang aku nggak dibolehin ikut main sama teman-teman ku.”

Itulah beberapa contoh ungkapan ketidaknyamanan si Sulung dengan lingkungan barunya. Sebagai seorang ibu, saya suka merasa sedih dan kasihan sama dia apalagi waktu dia bilang bahwa dirinya termasuk dalam golongan anak yang nggak kepake itu.  Sulung harus pindah saat kenaikan kelas 6, dimana dalam waktu dekat ia akan menghadapi Ujian nasional dan Ujian Sekolah. Selain harus menyiapkan diri dengan belajar, ia harus bisa survive dengan lingkungan di sekolah barunya ini. Urusan pergaulan dengan teman-temannya nggak bisa danggap remeh, soalnya ini urusan hati. Saya nggak mau mentalnya down gara-gara masalah pertemanan.

Selain dengan doa, saya berusaha mensupport dia dengan cara membesarkan hatinya. Saya selalu bilang bahwa kalau dia mau dianggap oleh teman-temannya, maka dia harus buktikan dengan prestasi. Bukan dengan membalas olok-olok dan perbuatan temannya yang tidak menyenangkan itu. Tidak mudah bagi si Sulung untuk mencerna kata-kata saya ini dan mempraktekkannya di kehidupan nyatanya. Jatuh bangun lah saat itu menghadapi dia yang menjadi rewel dan banyak tingkah.  Iya, jatuh bangun karena berbarengan dengan tingkahnya ini, ia harus tetap saya ingatkan untuk belajar dan belajar agar nilainya bagus. Kadang ia marah ketika saya ingatkan untuk belajar. Kadang ia malah sengaja tidur, bukannya belajar….padahal besok harus menghadapi ulangan. Nggak jarang saya dan dia beradu mulut gara-gara urusan ini. Tapi kadang ia dengan kesadaran sendiri belajar sampai tengah malam (padahal keesokan harinya sebelum subuh ia harus sudah bangun untuk persiapan berangkat sekolah).

Saya juga mengingatkan ia untuk selalu ingat kepada Tuhannya. Karena kepada Tuhan lah tempat manusia bergantung dan meminta permohonan. Alhamdulillah Sulung rajin shalat dan mengaji. (Teruskan ya Nak sampai akhir hayat mu!)

Support saya dalam bentuk lain adalah berusaha aktif bergaul dengan ibu-ibu orang tua murid kelas 6. Karena di sini keberadaan forum orang tua sangat penting dalam menunjang kegiatan anak-anak di sekolah. Semua informasi tentang kegiatan sekolah datangnya cepat sekali dari para ibu yang tergabung dalam forum ini. Karena saya orang baru, saya sadar diri dan harus mau ikut serta bergabung  dengan ibu-ibu ini. Padahal sebetulnya saya orang yang nggak mudah bergaul. Alhamdulillah beberapa orang pengurusnya baik sekali pada saya. Mereka yang memasukkan saya ke dalam group bbm kelas 6, sehingga kalau ada informasi tentang sekolah saya bisa cepat tahu.  Saya sendiri berusaha untuk pro aktif lah, kalau ada apa-apa cepat tanggap, nggak banyak protes dan rewel ini itu.

Salah satunya yang sempat bikin saya khawatir adalah ketika anak-anak kelas 6 harus membuat kelompok menari tarian tradisional untuk ujian sekolah bulan Maret nanti. Anak saya cerita ke saya kalau dia nggak dapat kelompok. Teman-temannya nggak ada yang mau menerima dia sebagai anggota kelompoknya. Waaa….saya sedih sekali mendengarnya 😦 😦 😦 . Ya sudah, saya bilang…kalau memang nggak punya kelompok ya nggak apa-apa. Jangan khawatir, don’t be sad (ini yang sad malah Emaknya), kamu nari aja sendiri, nanti kita belajar sendiri dari youtube kan bisa! Si Sulung setuju dengan usulan saya, kami pun mulai mencari tarian tradisional yang gampang dipelajari dari youtube. Eh, nggak lama kemudian saya tiba-tiba dapat bbm dari ortu murid kelas 6 yang mengajak si Sulung untuk bergabung dengan anaknya. Alhamdulillah, lega sekali rasanya (ini beneran ya yang rempong malah Emaknya…hahaha). Lalu saya bilang ke Sulung, “Ini nih Mamanya si A ngajakin kamu gabung ke kelompok tarinya, besok kalian sudah mulai latihan”. Mendengar hal ini si Sulung malah galau, “Memang boleh sama si A? Soalnya kemarin aku ditolak masuk kelompoknya A. Ditolak berkali-kali.” Saya bilang, “Ya, nanti kamu bilang aja sama si A, yang ngajak kamu gabung itu Mamanya dia, bukan kamu yang minta-minta diajakin gabung.” sambil saya perlihatkan bbm dari Mamanya A ke si Sulung. Alhamdulillah urusan menari beres.

Pak Suami selalu mengingatkan saya untuk tetap mengambil ‘jarak’ dengan si Sulung. Maksudnya agar saya tidak terlalu mengkhawatirkan dia. Saya harus bisa melepaskan dia supaya dia bisa merasakan asam garam dalam pergaulan. Kalau saya lindungi terus justru kasihan dia nggak bisa survive. Iya, benar juga sih.

Nak, hidup dimana pun itu sama. Kita harus belajar beradaptasi dengan lingkungan. Nggak boleh membanding-bandingkan tempat yang lama dengan yang baru. Tempat yang lama akan menjadi kenangan kita selamanya dan di tempat yang baru kita mulai lagi berjuang dari NOL. Jangan takut, teruslah berbuat kebaikan, karena kebaikan itu sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri. Bantulah orang lain yang kesulitan , karena dikala kita mendapatkan kesulitan, ada orang lain yang menolong kita. Permudah urusan orang lain, karena ketika urusan kita dipermudah kita merasakan bahagia bukan? Kamu juga harus tahu, yang hidupnya berpindah-pindah itu bukan cuma kita saja. Banyak teman-teman mu yang harus mengalami ini.  Ibu dan Papa mu juga sejak kecil harus ikut berpindah-pindah, karena Mbah Akung dan Eyang Papap  harus pindah-pindah dinasnya. Sama kok, kami juga dulu harus  merasakan nggak nyaman ketika berjuang dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda-beda.

Alhamdulillah hasil semester ganjil kemarin memuaskan, walaupun tidak menduduki peringkat kelas, si Sulung tidak termasuk ke dalam kelompok anak-anak yang harus dikarantina.

Terima kasih ya Nak! Benar kan, kamu BISA! Pasti bisa, iya…kamu pasti bisa!!!

We love you.

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak, Jalan-Jalan

Terbang Bertiga

image

Pergi naik pesawat bersama anak-anak adalah hal yang biasa saja. Karena hal ini sering dilakukan oleh banyak orang. Tapi bagaimana kalau harus pergi di waktu yang tidak ramah anak? (tengah malam misalnya?)

Ketika tinggal di Balikpapan saya cukup sering pergi bertiga dengan anak-anak menggunakan pesawat. Tujuannya kemana lagi kalau bukan ke Bandung, tempat tinggal orang tua saya dan pak suami. Biasanya kami pergi ketika liburan semester dan hari raya. Karena anak-anak hari liburnya nggak sama dengan liburnya pegawai menyebabkan pak suami tidak bisa ikut atau kalaupun ikut biasanya menyusul. Jadi saya sering terbang bertiga saja dengan anak-anak.

Terbang bertiga dengan anak-anak adalah pengalaman yang seru buat saya. Kalau pergi dengan suami hati saya rasanya tenang sekali, karena ada yang menjaga anak-anak, mengurus barang-barang, mengurus ini itu dan ada yang bayarin kami jajan, pokoknya saya tinggal duduk manis aja 😀 😀 :D.

Kalau tidak ada suami, apa-apa harus saya lakukan sendiri.

Ini adalah pengalaman saya naik pesawat bertiga dengan anak-anak tanpa pak suami. Pengalaman yang tak terlupakan bagi saya karena harus pergi pada jam yang tidak ramah anak.

Untuk menuju kota Bandung, dari Balikpapan kami menggunakan penerbangan ke Jakarta, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam-an. Setelah itu dari bandara Soetta kami harus naik bis Primajasa pemandu moda menuju kota Bandung, kampung halaman kami, dengan waktu tempuh antara 3 sampai 4 jam tergantung ada macet di jalan tol atau tidak. Demikian sebaliknya ketika dari Bandung ke Balikpapan.

Biasanya kami dari Balikpapan ke Jakarta naik pesawat malam pukul 19 ke atas. Alasannya supaya saya dan anak-anak bisa kangen-kangenan dulu sama pak suami. Karena dalam beberapa hari ke depan kita kan nggak bertemu sementara waktu.

Kemudian kami dari Bandung kembali ke Balikpapan menggunakan pesawat paling pagi dari Jakarta, biasanya pada hari Sabtu atau Minggunya.

Di sebelah mana bagian yang rempongnya? Yang bikin rempong itu di bagian waktu keberangkatan yang tidak ramah anak. Menggunakan penerbangan malam (Balikpapan-Jakarta) dan yang paling pagi (Jakarta-Balikpapan).

Jakarta-Balikpapan ada perbedaan waktu satu jam, lebih cepat di Balikpapan (contoh : kalau di Balikpapan sudah pk 06.00 wita, di Jakarta baru pk 05.00 wib). Jadi kalau kami berangkat dari Balikpapan pk 19.00 wita (penerbangan 2 jam) tiba di Jakarta pk 20.00 wib. Setelah landing, menunggu bagasi, memakan waktu paling cepat 30-45 menit, lalu keluar ke pelataran bandara Soetta. Kira-kira pk 20.45 wib paling cepat, saya sudah ada di luar dan segera menuju counter tiket bis Primajasa di bandara. Kalau beruntung saya bisa langsung naik bis (bis ini berangkat setiap 30 menit sekali). Biasanya kami harus menunggu sekitar 30 menit-an. Misalnya saya dapat bis pk 21.30 wib, berarti kami akan tiba di Bandung pk 24.30 wib (tengah malam).
Itu kalau pesawatnya berangkat tepat pk 19.00 wita dari Balikpapan, kalau lebih malam berarti kami tiba di Bandung pk 1 atau 2 dini hari 😦 .

Sebaliknya, ketika melakukan perjalanan dari Bandung-Balikpapan. Kami selalu menggunakan pesawat paling pagi dari Jakarta (biasanya pesawat yang pk 05.30 wib). Artinya saya harus berangkat dari Bandung tengah malam menggunakan bis pemandu moda (saya memilih berangkat dari Bandung lebih awal karena musim liburan dan weekend biasanya terjadi kemacetan di jalan, dari pada terlambat dan tiket kami hangus lebih baik kami menunggu di bandara).

Anak-anak waktu itu masih kecil. Mereka bingung karena jadwal tidur mereka diacak. Yang seharusnya sudah istirahat, ini masih di jalan. Kalau sudah di dalam pesawat mereka jarang tidur, tapi kalau pesawat akan landing mereka baru tertidur pulas. Begitu juga perjalanan menggunakan bis pemandu moda dari dan akan ke Bandung. Inginnya saya begitu masuk bis, anak-anak langsung tidur supaya nanti pas sampai nggak susah dibangunin. Yang sering kami alami sama seperti di dalam pesawat, giliran masih jauh nggak mau pada tidur. Waktu sudah dekat mau turun bis, malah sedang tidur pulas 😦 . Ya namanya juga naik angkutan umum, kita tidak bisa seenaknya, waktunya turun harus cepat turun, karena bisnya akan segera pergi ke terminal berikutnya.

Waktu itu si sulung umurnya masih 7 tahun dan si bungsu umurnya masih 4 tahun. Sulung udah lumayan mengerti dan bisa membantu saya sedikit, tapi bungsu masih belom ngerti apa-apa.

Saya pernah menggendong bungsu turun dari pesawat, karena dia tidur pulas sekali. Badan si bungsu agak besar, lumayan berattt menggendong dia dari kursi pesawat sampai tempat mengambil barang bagasi. Beruntung, si sulung pengertian banget, dia membantu saya membawakan tas-tas yang masuk kabin, meskipun tasnya berat dan masih baru bangun tidur sulung tetap membantu saya.

Sekali waktu kami pernah berangkat dari Bandung pukul 1 dini hari naik bis pemandu moda ke bandara Soetta. Tiba di Bandara pukul 4.30 pagi. Kami bertiga turun dari bis di terminal F masih dalam keadaan mengantuk sekali. Barang-barang diturunkan oleh kernet bis di pembatas jalan yang berada di tengah jalan. Untuk mengambil troli saya harus menyeberang agak jauh. Agak khawatir sih, karena anak-anak masih ngantuk dan saat itu nggak ada orang kecuali kami bertiga. Saya lari mengambil troli di seberang sementara anak-anak menjaga barang (saya kalau mudik bawaannya suka banyak biasanya 2 ransel, 1 koper ukuran besar, 2 kardus ukuran kardus rokok yang besar 😀 😀 ). Cepat-cepat kami angkut barang ke atas troli lalu berjalan ke pelataran bandara. Si bungsu masih merem, si sulung yang masih ngantuk banget ya terpaksa membantu saya mendorong troli ke pelataran ruang cek in.

Lain waktu, kami juga pernah tiba di bandara Soetta kurang lebih sama lah waktunya, pk 4.30 an. Saat itu kami turun dari bis di terminal C, di sana ramai banyak orang. Meskipun turun dari bis masih dalam keadaan ngantuk dan harus menyeberang jalan untuk mengambil troli, karena banyak orang saya bisa menitipkan anak-anak ke orang yang sedang berdiri di dekat kami (ya lihat-lihat dulu sih orangnya, cari yang kira-kira orang baik). Lalu saya menyeberang jalan mencari troli.

Pernah juga kami bertiga sudah di ruang boarding, sudah dapat panggilan naik pesawat, eh…si bungsu menghilang. Panik banget, saya berdua si sulung keliling mencari bungsu, taunya dia lagi turun ke lantai bawah pakai eskalator sendirian…haduhhhh -__-“.

Menunggu di pintu yang salah juga pernah kami alami. Padahal kami menunggu di pintu yang benar sesuai yang tertulis pada tiket. Setelah menunggu cukup lama, di layar display ada pengumuman penerbangan terlambat beberapa menit. Setelah keluar pengumuman itu tak lama kemudian jadwal penerbangan pesawat kami tidak muncul di layar display. Saya dan beberapa calon penumpang beberapa kali menanyakan ke petugas tapi petugasnya hanya bilang, “Pesawatnya terlambat, silahkan tunggu.” Untung si sulung anaknya tanggap. Sambil menunggu ia selalu memperhatikan layar display keberangkatan pesawat. Ia minta ijin ke pintu lain untuk melihat jadwal penerbangan kita ada tidak tertera di display yang lain. Tidak lama kemudian si sulung datang berlari-lari pada kami. “Ma…pintunya ada di ujung sana, ayo cepat kita sudah disuruh naik pesawat!” Kami bertiga dan beberapa calon penumpang lainnya segera ke pintu yang berada di sebelah ujung.

Itulah beberapa pengalaman saya terbang bersama anak-anak pada jam yang tidak ramah anak. Semakin bertambah usia, anak-anak makin mengerti dan mudah diatur. Dan mereka akhirnya terbiasa berpergian pada jam segitu.

Pada tahun 2013 kalau nggak salah ada penerbangan langsung Balikpapan-Jakarta pp. Tapi kami tidak pernah naik penerbangan itu karena harga tiketnya muahaaal.

Sebetulnya lebih nyaman jika pergi pada waktu yang bersahabat dengan anak. Tapi bagaimana jika situasi dan kondisi mengharuskan kita pergi pada waktu tengah malam seperti pengalaman saya? Saya mau bagi-bagi tips bagaimana agar tetap nyaman berpergian pada waktu yang tidak ramah anak.

1. Mencari informasi yang lengkap tentang perjalanan. Ini penting banget, mulai dari jadwal keberangkatan, situasi jalan, posisi counter tiket, fasilitas umum, dan lainnya. Biasanya saya rajin tanya sama suami dan teman-teman saya sesama ibu yang sering melakukan perjalanan bersama anak-anak tanpa didampingi suami.

2. Informasikan semua info (jadwal keberangkatan, nomor penerbangan, nomor kursi dll) ke anak-anak. Ajarkan anak untuk selalu membaca jadwal dan rambu-rambu yang ada di papan display sepanjang perjalanan. Ajak anak untuk selalu aware sama situasi sekitar. Ajak anak untuk selalu membaca tata cara menghadapi situasi darurat yang biasanya brosurnya tersedia di kursi penumpang. Jangan biarkan dia cuma main game aja.

3. Buat aturan dan biasakan anak untuk disiplin. Misalnya akan melakukan perjalanan menggunakan bis selama 4 jam, sebelum naik bis anak-anak harus buang air kecil dan besar, karena di dalam bis tidak bisa. Atau, biasakan sebelum berpergian perut nggak boleh kosong, biasakan sebelum pergi makan dulu minimal makan roti, dan bawa bekal makanan secukupnya yang disukai anak.

4. Bagi-bagi tugas membawa barang. Karena kalau saya berpergian suka banyak bawa barang, mau nggak mau harus gotong royong melibatkan anak-anak. Lebih baik membawa barang secukupnya saja, jangan seperti saya -__- .

5. Ajak dan biasakan anak untuk berdoa sebelum dan selama di perjalanan. Agar Tuhan selalu melindungi dan memberikan kemudahan di perjalanan.

Meskipun repot pada awalnya, akhirnya saya dan anak-anak terbiasa dengan situasi berpergian seperti ini. Lama kelamaan sudah tidak repot apalagi anak-anak semakin besar. Mereka sudah lebih mengerti dan semakin asyik diajak kerja sama. Tapi saran saya sih selama masih bisa memilih, sebaiknya pilihlah waktu perjalanan yang ramah anak.

Selamat berlibur!

Posted in Anak-Anak, curcol, Jakarta

Ketika Tangan Si Bungsu Sobek

12250655_10206913570131433_1270958186_o

Kamis, 5 November 2015

Siang itu seperti biasa saya menjemput anak-anak di sekolah. Kali ini saya ditemani oleh Mbah Akungnya anak-anak  yang kebetulan  sedang ada urusan di Jakarta.  Masuk gerbang sekolah, disambut si sulung yang langsung minta naik ke mobil, karena dia mau menghabiskan makan siangnya di dalam mobil. Sementara si bungsu belum kelihatan batang hidungnya. Selesai parkir dari kejauhan saya melihat Mama Dava memanggil-manggil saya. Saya pikir dia mau memberi tahu saya PR yang harus dikerjakan oleh si bungsu selama kemarin nggak sekolah (si bungsu dua hari nggak sekolah karena demam dan baru masuk sekolah hari ini).

Saya turun dari mobil dan menghampiri Mama Dava. Ternyata bukan soal PR yang mau ia sampaikan ke saya, tapi ia memberi tahu saya kalau si bungsu sekarang berada di UKS karena tangannya sobek kena benda tajam di belakang kelas. “Deg” jantung saya berdegup kencang begitu mendengar apa yang Mama Dava sampaikan. Saya langsung lari menuju UKS. Di sana ada beberapa orang guru berkumpul, saya menerobos masuk ke dalam UKS dan melihat si bungsu memegang tangan kanannya sambil menahan sakit. Saya peluk dia, lalu saya lihat lukanya….”Astagfirullahalazim”…Ya Allah, tangan si bungsu sobek dan lukanya terbuka lebar dan cukup dalam. Ini harus segera dibawa ke Rumah Sakit untuk dijahit, batin saya. Si bungsu tampak ketakutan sekali, ia menangis tidak mau dibawa ke RS. Sebelum saya tiba di  UKS rupanya lukanya sudah dibersihkan oleh guru UKS. Guru UKS baru saja akan menelpon saya untuk memberitahu hal ini, tapi saya keburu datang. *terima kasih ya Bu*

Tanpa menunggu lama, saya dibantu Mama Haikal dan Mama Dava membopong si bungsu ke tempat parkiran mobil. Suasana di sekolah siang itu sangat heboh, karena bungsu meronta-ronta nggak mau ke RS. Di tengah lapangan ada seorang mas-mas yang badannya tinggi besar membantu kami menggendong bungsu sampai ke dalam mobil. Mbah akung dan si sulung yang ada di dalam mobil terkejut bukan main melihat kejadian ini. Setelah bungsu masuk mobil saya langsung tancap gas menuju RS.

Untung ada Mbah Akung yang mendampingi kami. Di dalam mobil, bungsu menangis tidak mau tangannya dijahit. Sampai di RS dibantu oleh satpam UGD si bungsu turun dari mobil dan naik kursi roda. Dia masih saja teriak-teriak berontak dan menangis. Dokter mengatakan tangan si bungsu harus dijahit karena lukanya cukup dalam dan lebar. Dipegangi oleh 7  orang akhirnya dokter berhasil menjahit luka sobeknya itu, jumlahnya ada 7 jahitan.

Setelah tangannya selesai dijahit, si bungsu mulai tenang, turun dari tempat tidur, lalu jalan seperti biasa, seperti nggak ada kejadian apa-apa. Pulang dari RS dibekali obat penahan sakit yang harus buru-buru diminum karena obat bius yang tadi disuntikkan hanya bertahan selama 2 jam.  Dua hari lagi harus kembali untuk kontrol jahitan. Kata dokter mungkin perlu waktu antara 1 – 2 minggu sampai lukanya kering dan cabut jahitan. Jahitan ditutup oleh kassa dan perban model plastik anti air. Dokter juga mengingatkan agar menjaga asupan gizi dengan makan makanan yang banyak mengandung protein (ikan, ayam, telor). Supaya cepat membentuk jaringan baru dan luka cepat kering.

Setelah dua hari sekali kami bolak-balik RS untuk kontrol jahitan, akhirnya hari Selasa dokter membuka 3 jahitan. Dokter memberi tahu saya agar tidak kaget melihat hasil jahitannya akan terlihat terbuka. Walaupun terlihat terbuka, sebenarnya bagian dalam jaringannya sudah menyatu. Hal ini disebabkan karena lokasi luka berada di bagian otot tangan kanan yang sifatnya elastis dan bakalan ketarik-tarik.

Dua hari berikutnya kami datang lagi ke RS. Setelah diperiksa oleh dokter, beliau menilai bahwa jahitan sudah boleh dibuka semuanya (kemarin sisa 4 jahitan). Si bungsu agak ngeri, ketika akan dibuka jahitan dia menangis. Setelah jahitan dibuka, oleh dokter ditutup lagi dengan kassa dan perban, namun kali ini menggunakan perban biasa agar lukanya tidak lembab. Selama 1 x 24 jam perban harus dijaga tidak boleh kena air. Setelah 1 x 24 jam barulah perban boleh dibuka di rumah dan luka bekas jahitan ditetesi betadin.

Malam harinya, di perban si bungsu ada rembesan darah. Aduh saya kaget sekali, karena sudah malam, hujan dan saat itu Papa sedang dinas ke Batam (saya hanya bertiga sama anak-anak di rumah). Semalaman saya lihatin perbannya. Kalau sampai rembesan darahnya bertambah banyak akan saya bawa ke RS malam itu juga. Tapi sampai pagi harinya alhamdulillah nggak terjadi. Si bungsu juga nggak merasa sakit. Siang hari, setelah lewat 1 x 24 jam waktunya untuk membuka perban. Ketika dibuka, kami bertiga kaget kok hasilnya seperti ini?  Benar seperti apa yang pernah disampaikan oleh dokter, bekas jahitan memang kelihatan terbuka. Pertama kali melihatnya ngeri, takut sobek lagi. Setelah itu kita tetesi lukanya dengan betadin. Lama-lama bagian terbukanya itu mengecil dan kering.

Alhamdulillah luka jahitan cepat kering dan si bungsu baik-baik saja (tidak ada demam dan lainnya). Karena kejadiannya terjadi di sekolah, hari Senin yang lalu saya menghadap ke Kepala Sekolah untuk melaporkan kejadian ini. Kepala Sekolah menerima dan mendengarkan apa yang saya sampaikan, ia juga meminta maaf atas kejadian ini dan berjanji akan menindaklanjuti agar tidak ada lagi kejadian yang sama menimpa anak-anak lainnya. Saya pun tak lupa berterima kasih karena guru UKS dengan sigap menolong si bungsu dan membersihkan lukanya.

Huffffff……..Ya ampun Dek, kamu mah ada-ada aja!

 

Posted in Anak-Anak, bermain

Pada Suatu Hari

wpid-wp-1446021512802.jpeg

Pada suatu hari yang sangat panas sepulang dari sekolah. Anak-anak kelihatan capek sekali, mukanya lusuh dan terlihat peluh membasahi dahi. Mereka berdua asyik berbisik-bisik sepanjang perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Entah apa yang mereka bicarakan, berusaha menguping tapi hasilnya nihil.
“Nak, sampai di rumah kalian nanti istirahat ya.” begitu pesanku pada mereka.

Sampai di rumah kami bertiga masuk rumah. Mereka berdua menyimpan tas di sofa, membuka kemeja seragamnya lalu keluar lagi. Bolak-balik keluar masuk rumah, sambil membawa beberapa barang dari dalam gudang. Ada palu, paku, tang, tambang, selang dll sibuk sekali.

Aku langsung menuju dapur, mencuci kotak makan dan botol minum mereka lalu persiapan masak makan malam. Sore ini anak-anak mengaji, sebelum kuantar ke mesjid aku harus masak untuk makan malam. Selesai masak, aku ke teras depan mau mengingatkan anak-anak untuk siap-siap ke mesjid.

Ternyata mereka sedang membuat sesuatu di pohon jambu. Yang satu sudah naik di atas pohon, yang satunya lagi kebagian jaga di bawah. Dua-duanya pakai helm dan sepatu, entah sedang berhayal jadi apa.

Jadi ingat ketika kecil dulu, hampir setiap hari naik pohon jambu air milik tetangga 🙂 🙂 🙂
“Buah tak jatuh jauh dari pohonnya” rupanya kebiasaan panjat pohon menurun pula pada anak-anakku. Beruntung punya pohon jambu di pekarangan rumah, anak-anak tak perlu memanjat pohon jambu milik tetangga seperti masa kecil ku dulu 🙂 .

Posted in #BukanSuperMom, Anak-Anak

Menangkap Undur-Undur

image
Gambar dari : http://www.indonetwork.co.id

“Ma, undur-undur itu lucu. Kepalanya kecil tapi pantatnya besar dan jalannya mundur”, cerita si bungsu kepada saya tadi siang setelah pulang dari sekolah.

Sejak kemarin sore saya nggak enak badan. Kepala rasanya berat, tenggorokan sakit dan agak demam. Hari ini pun saya masih merasakan nggak enak badan. Setelah beres-beres rumah, saya berbaring di kasur. Sampai waktnya jemput anak-anak ke sekolah, saya baru beranjak dari tempat tidur untuk menjemput mereka.

Tiba di sekolah sebagian murid sudah keluar, termasuk kelasnya Si Bungsu. Tapi ia tak menampakkan batang hidungnya. Hanya tasnya saja yang tergeletak di dekat pos satpam. Sementara Si Sulung belum keluar kelas.

Saya menunggu sambil ngobrol dengan sesama wali murid. Nggak lama kemudian Si Sulung keluar. Yes! Saya ingin buru-buru pulang karena nggak kuat lagi demam. Dan di luar cuacanya panas sekali.

Tapi, mana ya Si Bungsu? Kok teman sekelasnya udah pada pulang, dia dari tadi nggak kelihatan? Saya tanya ke temannya ada yang bilang nggak lihat. Ada yang bilang, ” Masih main di belakang Tante, ” sambil menunjuk ke arah belakang sekolahan. Si Sulung masuk ke dalam mobil duluan untuk makan siang, saya keliling sekolahan mencari Si Bungsu.

Si Bungsu tetap nggak ada meskipun sudah saya cari sampai ke belakang sekolahan. Matahari bersinar terik sekali. Saya yang lagi sakit kepala dan demam jadi sedikit kesal dan khawatir, dimana ya anak saya ini? Saya ke mobil, bicara dengan Si Sulung yang baru selesai makan siang. “Aa, Ade dimana ya? Udah Mama cari kemana-mana nggak ada.”
“Aku juga nggak lihat Ma. Ya udah aku bantuin cari ya.” jawab Si Sulung sambil turun dari mobil.

Kami berdua mencari Si Bungsu. Bertanya ke guru dan satpam, mereka nggak tahu dimana Si Bungsu. Lalu kami bertanya sekali lagi ke teman sekelasnya yang masih menunggu dijemput di pos satpam. Ada seorang anak yang bilang kalau Si Bungsu lagi main di kebun sekolah, mencari undur-undur.

“Biar aku aja yang lari ke kebun, Mama tunggu di mobil aja, kasihan Mama demam.” Si Sulung lari ke kebun di belakang sekolah. Tak lama kemudian ia datang bersama adiknya. Lalu kami pulang.

Sampai di rumah, ketika anak-anak sedang beristirahat Si Bungsu cerita pada saya dan kakaknya apa yang tadi ia lakukan di sekolah.

“Aku sama teman-teman aku nangkep undur-undur di kebun.” katanya bersemangat.
“Emang kamu bisa nangkepnya?” tanya Sulung.
“Bisa.” jawab adiknya
“Emang dapat berapa ekor De?” tanya saya.
“Dapat sepuluh ekor, tapi dikumpulin di teman ku.” jawabnya.
“Gimana cara nangkapnya De?” tanya Sulung.
“Caranya aku tiup tanah yang berlubang pakai sedotan, supaya undur-undurnya keluar dari tanah. Terus aku sendokin tanah yang ada undur-undurnya. Aku ambil undur-undurnya, tanahnya aku buang.” jawab Si Bungsu
“Aku tadi hampir aja dapat undur-undur yang besar. Sayang lepas lagi.” lanjutnya dengan mata yang berbinar-binar. Dia senang sekali dengan pengalaman barunya ini.
image

Setelah Si Bungsu bercerita tentang pengalaman barunya menangkap undur-undur, anak-anak tidur siang. Badannya Si Bungsu udah terasa anget. Dan menjelang magrib, Si Bungsu demam.

Sekarang saya sedang begadang nungguin si Bungsu yang lagi demam tinggi. Gara-gara nangkap undur-undur di siang bolong nih.

Anak-anak senang sekali bereksplorasi dengan alam. Apalagi saya memang
membatasi mereka menggunakan gadget. Sebagai kompensasinya mereka main tanah, main air, memelihara binatang, bertanam, main bengkel-bengkelan, main bola, membuat berbagai mainan dari barang bekas dan lainnya.

Rumah acak-acakan dan baju belepotan tanah, udah biasa. Mereka bisa beresin lagi. Baju tinggal dicuci. Kalau sampe demam kayak gini, ya udah observasi aja, kasih minum yang banyak dan lakukan tata laksana demam. Saya menganggap ini adalah salah satu proses mereka belajar. Masa kanak-kanak kan cuma sekali, nggak akan terulang kembali.

Ade, cepat sembuh ya. Biar bisa main lagi!

Posted in #NulisRandom2015, Anak-Anak, Balikpapan

Tips Liburan Bersama Anak | #NulisRandom2015

KM. Bukit Siguntang - Selat Makssar 2014
KM. Bukit Siguntang – Selat Makssar 2014 (dokumen pribadi)

Musim liburan tiba, yeayy!! Tak terasa anak-anak sudah berada di penghujung tahun ajaran. Liburan sudah di depan mata. Punya rencana berlibur bersama anak-anak?

Saya dan keluarga cukup sering berpergian, baik sekedar mengunjungi kerabat di kampung ketika musim mudik maupun untuk liburan. Sejak anak-anak masih kecil mereka sudah terbiasa saya bawa bepergian. Awalnya ribet, namun dengan modal bertanya kesana-kemari, akhirnya saya bisa menyiasati agar perjalanan nyaman dan liburan tetep asyik bersama mereka.

Berikut beberapa tips agar anak nyaman selama perjalanan dan liburan ala saya dan Mba Erry, salah satu teman saya yang juga hobby travelling bersama keluarganya.

1. Membuat rencana liburan yang matang
Biasanya kalau punya rencana liburan yang tempatnya jauh, rencana harus dibuat jauh-jauh hari (termasuk harus nabung jauh-jauh hari). Kalau sudah punya tujuan, sebelum disosialisasikan ke anak, sebaiknya ortu harus tahu banyak tentang tempat yang akan dituju. Supaya kita bisa mensosialisasikan / memberi gambaran kepada mereka tempat seperti apa yang akan dituju, bagaimana suasananya, makanannya apa saja, apa saja yang akan dilihat, bagaimana kondisi  selama di perjalanan, bagaimana cuacanya, bagaimana jadwalnya dan sebagainya.

2. Sugestikan pada anak bahwa liburan akan menyenangkan
Saya dan Mba Erry sepakat bahwa sebelum melakukan perjalanan sebaiknya kita mensugesti anak-anak kalau perjalanan dan liburan yang akan dilalui mereka akan menyenangkan. Karena mereka akan melewati perjalanan yang mungkin tidak nyaman dan membosankan ketimbang ketika mereka melakukan aktivitas di rumah. Supaya anak-anak di jalan nggak rewel maka kita harus mengubah mindset mereka. Misalnya bagaimana ketika terjebak macet atau harus berada di dalam pesawat/kereta api/bis selama berjam-jam lamanya. Kita sugestikan supaya anak-anak bisa sabar (biasanya ini bisa diterapkan pada anak yagn sudah sekolah dasar, tapi nggak menutup kemungkinan anak-anak usia muda pun bisa kita sugesti) dan memberikan alternatif solusi untuk mengurangi rasa bosan dan capek (ini tergantung masing-masing anak, orang tuanya sendiri yang paling tahu).

3. Membawa mainan atau buku
Supaya nggak be-te dan bosan di perjalanan bisa membawa mainan atau buku bacaan atau alat menggambar. Membawa mainan atau buku jangan terlalu banyak karena bisa bikin ribet atau hilang di tengah jalan.

4. Makan, minum dan istirahat yang cukup
Sebagai orang tua kita harus memperhatikan betul hal ini. Bagaimanapun antusiasnya anak-anak berlibur, semenarik apapun tempat liburan kita, tetap harus diperhatikan masalah makan, minum dan istirahatnya. Jangan disamakan dengan kita yang sudah dewasa. Apalagi untuk yang menempuh perjalanan jauh. Namanya juga anak-anak, kalau makan sembarangan, minum air putih dan istirahatnya kurang, bisa-bisa daya tahan tubuh mereka turun, menyebabkan mereka sakit. Nggak asyik kan kalau sakit pas liburan.

5. Membawa obat-obatan
Obat-obatan untuk P3K jangan lupa dibawa. Biasanya saya selalu membawa obat penurun panas dalam bentuk sachet, obat alergi, tetes mata, betadin kecil, hansaplas, sabun cair kecil, tissue basah, handuk kecil dan minyak kayu putih. Kalau anaknya suka mabok dalam perjalanan bisa diberi obat anti mabok, atau kalau anaknya nggak mau minum obat inni, jangan lupa siapkan baju ganti yang cukup dan kantong keresek untuk wadah muntah. Jangan lupa bawa diapers yang cukup kalau anaknya masih pakai diapers (eh, ini bukan termasuk obat ya..hehehe).

6. Membawa baju yang cukup
Anak-anak biasanya boros di bagian baju, karena keringat, atau kotor ketumpahan makanan dan minuman. Anak yang lebih kecil biasanya lebih rempong, kalau sudah besar sudah enggak. Harus diperhitungkan untuk membawa baju yang cukup, karena kalau membawa terlalu banyak bikin rempong juga.

7. Berdoa
Biasakan anak-anak untuk berdoa meminta perlindungan Tuhan kemanapun mereka melangkahkan kaki. Mulai dari ketika meninggalkan rumah, naik kendaraan maupun ketika berada di penginapan dan tempat wisata. Biasanya anak-anak kalau datang ke tempat baru mereka antusianya luar biasa. Jangan lupa ajak mereka untuk berdoa.

Demikian tips berlibur dari kami. Mudah-mudahan bermanfaat. Kalau Moms punya tips lainnya, sharing yuks! Selamat berlibur yaaa….!