Posted in Fiksi

Apa


Di terminal Cicaheum Bandung. 

Jarum pada jam tanganku menunjukkan pukul 11 siang. Kernet angkot berteriak-teriak “Caheum…Caheum..”, setengah badannya berada di dalam angkot dan setengahnya lagi di luar, tangannya melambai-lambai ke luar angkot. 

“Kiri-kiri,” aku meminta sopir menghentikan mobilnya, kemudian aku beranjak turun dan menyerahkan beberapa lembar uang seribuan pada sopir angkot jurusan Kebon Kelapa-Cicaheum yang telah mengantarkan aku dari rumah Bibi di daerah Kebon Gedang Kiaracondong.

Siang itu sinar matahari cukup terik, udara di terminal Cicaheum terasa panas. Untungnya hari ini bukan akhir pekan, terminal agak lengang sehingga aku tidak usah berdesakan dengan calon penumpang lain. Bis – bis dalam dan antar kota parkir memenuhi terminal, berbaris sesuai dengan jurusannya masing-masing. 

Sambil menggendong sebuah ransel coklat, aku mencari-cari sebuah  mini bis jurusan Bandung-Buah Dua Sumedang. Bis ini jumlahnya hanya sedikit dan berangkat dengan jadwal yang sudah ditentukan. Tanpa perlu bersusah payah, akhirnya aku menemukan bis yang aku cari. Bisnya masih kosong, karena baru akan berangkat pada pukul satu siang. Aku masuk ke dalam bis dan mencari tempat duduk di pojok depan. Sementara kernet bis masih di luar mencari calon penumpang.

Aku buka jendela yang ada di samping tempat dudukku, semilir angin masuk ke dalam bis yang tidak ada AC-nya ini. Aku menatap keluar jendela, sesekali kurapihkan lagi kerudung segi empat yang sedang aku pakai. Kerudung yang aku pakai ini kugunakan sekalian untuk menutupi wajahku yang sembab dan untuk menyeka air mataku yang masih saja menetes. Kemarin lusa Bibi memberi kabar kalau Amih di Sumedang memintaku untuk segera pulang karena Apa sakit keras.

Apa adalah sebutan bapak yang biasa digunakan oleh orang Sunda. Aku tidak habis pikir, kenapa Amih harus repot-repot mengurus Apa yang kabarnya sudah seminggu ini sakit keras. Kenapa bukan perempuan jalang yang merebut Apa dari kami sekeluarga saja yang mengurusnya? Air mataku mulai menetes lagi, kenangan kelam lima tahun yang lalu membuat aku menjadi muak dan benci pada Apa. 

Lima tahun yang lalu kebahagiaan keluarga kami terkoyak-koyak hancur berantakan. Apa yang seorang mantri kesehatan di sebuah puskesmas di desa Conggeang Sumedang berselingkuh dengan seorang janda beranak tiga. Perempuan biadab itu tidak saja merebut Apa dari Amih, tapi dia berusaha memisahkan Apa dengan kami anak-anaknya. Banyak tetangga di desa bilang pada Amih, sepertinya Apa kena pelet si janda kembang. Tetapi Amih tidak mau percaya omongan orang, ia tetap lembut dan sabar terhadap Apa demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya. 

Sayangnya Apa saat itu sudah gelap mata kepada kami. Setiap hari Apa semakin jarang pulang ke rumah, bahkan pernah sebulan penuh Apa tidak pulang sama sekali. Apa semakin tidak menghargai Amih, kelakuannya sering kali kasar di depan kami anak-anaknya. Aku sebagai anak tertua, sering protes kepada Apa dan berusaha melindungi Amih dari amarah Apa. Bukannya sadar dengan kelakuannya, Apa malah balas memarahi aku, dan luka di pelipisku ini adalah salah satu kenangan pahit dari Apa.

Saat itu aku duduk di kelas 3 SMP, suatu siang sepulang sekolah, aku dapati Amih sendirian duduk di pojokan dapur sedang  menangis. Pipi Amih terlihat merah seperti habis dipukul. Amih saat itu tidak mau mengaku kalau habis ditampar oleh Apa.

Setelah agak tenang, akhirnya Amih bercerita padaku, “ Udah sebulan ini Apa nggak kasih uang belanja untuk kebutuhan kita sekeluarga. Tadi Apa pulang sebentar untuk makan siang. Amih coba minta uang untuk belanja, bukannya ngasih uang Apa langsung marah-marah ke Amih dan menampar Amih keras sekali,” kata Amih sambil terisak.

Aku terkejut dan sakit hati mendengarnya. Aku peluk erat Amih sambil ku elus-elus punggungnya, kurapihkan rambutnya yang saat itu acak-acakan. Aku menyeka air matanya dengan lembut.

“Pipi Amih dikompres air dingin ya, supaya nggak terlalu bengkak,” kataku penuh sayang kepada Amih. Lalu aku ke kamar, mengambil handuk kecil merendamnya dalam air es , aku kompres pipi Amih dengan handuk dingin itu.

Amih tersenyum padaku, “Terima kasih Teh.”

Aku ambilkan air minum hangat, “Amih minum dulu ya.”

Amih tersenyum lagi padaku, dari matanya kulihat sudah tidak ada lagi rasa sedih dan ketakutan.

Sore harinya,  Apa  pulang dari puskesmas dan mampir ke rumah. Aku lihat Apa sedang asyik nonton tv di ruang tengah, aku dekati Apa sambil membawakan secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng buatan Amih untuk cemilan sore Apa. Aku masih menyimpan rasa marah atas perlakuan Apa tadi siang kepada Amih, aku pikir ini saatnya yang tepat untuk menegur Apa.

“Apa punten, tadi siang pulang sekolah Wirda lihat Amih nangis di dapur, dan pipinya merah sekali, katanya habis dipukul sama Apa, kenapa Apa mukul Amih?” tanyaku penuh emosi.

Apa yang saat itu sedang menyeruput teh hangatnya, tiba-tiba berhenti dan melihatku dengan mata melotot, “Kamu nggak usah ikut campur, ini urusan Apa dengan Amih!” ujarnya kasar.

Aku semakin tersulut emosi, tidak terima dengan kelakuannya “Ini urusan saya juga Apa!! Jangan berani-berani mukulin Amih, Apa harusnya sadar udah nggak perhatian lagi sama kita, nggak ngasih uang belanja ke Amih, jarang pulang, gara-gara Apa selingkuh ya sama perempuan itu?!” aku berteriak kepada Apa.

Saat itu Apa langsung berdiri sambil masih memegang cangkir teh, tanpa kuduga tangan Apa yang satunya lagi mencekik leherku, aku yang saat itu berdiri dekat Apa tidak bisa melawan.

Apa mendorongku ke tembok, spontan aku berteriak “Tolong!!”

Amih lari tergopoh-gopoh dari dapur, berusaha menolongku, tapi terlambat….Apa membanting cangkirnya ke arahku dan mengenai pelipisku. Amih lalu menghalangi aku dari Apa,“Teteh, lari keluar Teh…lari!!!”

Aku segera lari keluar, ke rumah tetangga sebelah meminta pertolongan. Tanpa aku sadari, pelipisku mengeluarkan banyak darah dan beberapa detik kemudian aku pingsan.

Tetangga sebelah yang menolong aku dan Amih dari amukan Apa sore itu. Setelah kejadian itu Apa pergi dari rumah dan tidak kembali. Kata tetangga, Apa sudah menikahi perempuan itu dan sekarang tinggal di rumahnya. Sedangkan Amih tidak diceraikannya. Setiap bulan Amih hanya diberi uang sekedarnya. 

Herannya Amih juga tidak meminta cerai kepada Apa. Amih memilih bertahan, demi anak-anak katanya. 

Kadang-kadang Apa masih datang ke rumah kami tapi jarang sekali, Amih masih menerima Apa seperti tidak pernah ada kejadian apa-apa sebelumnya. 

Sejak saat itu, kehidupan kami berubah seratus delapan puluh derajat. Amih yang hanya ibu rumah tangga harus menghidupi aku dan kedua adikku dengan berjualan kue setiap hari. Untungnya Amih pintar masak, dia juga membuka warung nasi di depan rumah. Kue dan masakan buatan Amih rasanya enak, banyak tetangga yang menjadi pelanggan setia Amih.

Saat itu aku sedang menghadapi ujian sekolah, Amih ingin aku melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Lulus SMP aku dititipkan tinggal dengan Bibi, adiknya Amih yang tinggal di Bandung. Bibi lah yang menaggung semua biaya aku sekolah di SMA. Amih hanya menyuplai satu karung beras setiap bulan untuk keluarga Bibi, tidak bisa lebih dari itu.

Bis jurusan Sumedang sudah dinyalakan mesinnya oleh sopir dan penumpangnya hampir penuh. Dari luar jendela aku meihat seorang bapak berlari-lari menuju bis. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan pukul satu kurang tiga menit, sebentar lagi bis akan berangkat. Setelah bapak-bapak tadi masuk bis, kernet pun naik ke dalam bis, menutup pintu dan sopir bis mulai menjalankan bis keluar terminal.

Lima tahun aku berjuang di Bandung, berpisah dengan Amih dan kedua adikku yang sangat aku sayangi. Hanya sesekali saja aku pulang ke Sumedang tanah kelahiranku. Padahal jarak antara Bandung-Sumedang cukup dekat, tapi kalau uangnya pas-pasan mana bisa sering-sering bolak-balik pulang. 

Di rumah Bibi aku nyaris seperti pembantu, bangun pukul empat pagi, memasak air  dan sarapan untuk Bibi sekeluarga. Pulang sekolah, aku mengasuh empat orang anak Bibi yang masih sekolah dasar. Bibi dan Mamang keduanya pekerja  kantoran. Malam hari ketika Bibi dan Mamang sudah di rumah, aku mulai mencuci baju dan menyetrika. Disela-sela bekerja membantu Bibi, aku sempatkan untuk belajar. Aku punya cita-cita setinggi langit, aku ingin membahagiakan Amih dan kedua adikku, aku harus jadi orang hebat! 

Aku harus membantu Bibi sebagai ungkapan terima kasih karena Bibi telah bersedia menampung dan membiayai sekolahku. Padahal Bibi tidak menyuruhku, ini inisiatif ku sendiri, aku nggak mau malu-maluin Amih. 

Rasa rindu kepada Amih dan adik-adikku kulampiaskan dengan bekerja dan belajar, itu saja. Bagaimana dengan Apa? Aku sudah tidak peduli. Apa sudah kuhapus dalam hidupku, hanya luka di pelipisku ini saja yang tidak bisa hilang gara-gara kejadian waktu itu.

Satu jam setengah berlalu, bis sudah melewati daerah Cadas Pangeran yang berkelok-kelok. Mataku masih menerawang keluar jendela. Tebing terjal yang ditumbuhi belukar terpampang di sepanjang jalan. Akhirnya bis memasuki kota Sumedang. Di depan terminal Ciakar, bis berhenti sebentar untuk menurunkan penumpang.

Aku belum bisa memaafkan Apa, rasa sakit hati masih saja melekat kuat di dalam dada. Sebelum Apa tergoda oleh janda kembang itu, keluarga ku sangat bahagia. 

Apa adalah sosok lelaki penyayang. Apa sangat mencintai Amih, demikian sebaliknya Amih juga sangat mencintai Apa. Aku dan adik-adikku mendapatkan curahan kasih sayang yang sangat besar dari Apa dan Amih. 

Aku tidak rela perempuan itu merebut kebahagiaan dari keluargaku. Tapi kenapa sikap Amih tidak pernah berubah terhadap Apa? Apakah Amih tidak merasakan sakit hati karena belahan jiwanya sudah direbut oleh orang lain?? Aku benar-benar tidak mengerti.

Sekarang aku diminta Amih untuk pulang menengok Apa yang sedang terbaring sakit. Kalau saja bukan Amih yang meminta, aku tidak akan sudi melihat Apa lagi.

Alun-alun kota Sumedang menyimpan banyak kenangan manis dengan Apa. Setiap awal bulan selalu ada pasar malam di samping mesjid Agung Sumedang. Apa yang baru saja menerima gaji, selalu mengajak kami jalan-jalan ke Alun-Alun. Dari Conggeang kita berlima naik vespa, aku duduk di tengah-tengah Apa dan Amih serta adik bungsu ku. Sedangkan adik ku yang tengah duduk di depan dekat kemudi. Angin sore menerpa wajah dan rambutku, Amih memeluk kami erat. 

Menjelang magrib kami sampai di Alun-alun kota Sumedang. Sambil menunggu beduk magrib, kami duduk-duduk di pelataran mesjid. Tiba waktu magrib, kami shalat berjamaah. Setelah shalat, Apa dan Amih menggandeng tangan kami memasuki pasar malam. Apa membelikan kami arum manis dan balon, kami bertiga senangnya bukan main. Lalu kami diantarnya naik berbagai macam permainan, ada kereta-keretaan, komedi putar, dan kincir angin. Apa mentraktir kami makan malam nasi goreng yang ada di depan alun-alun. Kalau adikku yang bungsu kecapekan, Apa yang akan menggendong si bungsu. Aku merasa menjadi anak yang paling bahagia sedunia saat itu.

Lamunanku tersentak ketika kernet bis berteriak-teriak “Conggeang….Conggeang….Conggeang…!!!” Sudah waktunya aku turun dari bis. 

Agak ragu aku langkahkan kaki keluar dari bis. Aku teridam sejenak, bimbang. Bis sudah kembali jalan meneruskan perjalanannya, kini aku sendiri berdiri di pinggir jalan dengan suasana hati yang sangat kacau.

Dari pinggir jalan aku melihat  kolam ikan tersebar di mana-mana. Setiap rumah di Sumedang pasti memiliki kolam ikan. Airnya jernih, di dalamnya terdapat ikan-ikan gendut yang berenang kesana kemari. Biasanya diisi ikan emas, lele dan gurame. Di depan dan belakang pekarangan rumahku juga ada kolam ikan  buatan Apa. Bibit ikan mas didapatkan dari Uyut yang tinggal di Buah Dua, tak jauh dari tempat tinggal kami. Setiap hari aku dan kedua adikku membantu Apa memberi makan ikan-ikan di dalam kolam. Saat-saat yang sangat indah, aku tersenyum sendiri mengenangnya.

Kulangkahkan kaki masuk ke gang Desa Jambu, rumahku masih masuk ke dalam kurang lebih 100 meter lagi. Bayangan Apa semakin lekat di kepalaku. Apa kini sedang terbaring kesakitan tak berdaya di rumah. Apa telah dicampakkan oleh perempuan itu setelah tahu sebetulnya Apa menderita penyakit kanker ganas. Amih lah kini yang mendampingi dan merawat Apa. Apa ingin bertemu denganku, anak perempuan yang pernah dicampakannya dahulu. 

Aku masih bimbang haruskah aku menemui dan memaafkan Apa? Entahlah. Aku melangkahkan kaki dengan perasaan hampa.

[Re-post dari blog fiksi saya]

Posted in kuliner

[Kuliner] Ayam Goreng Karawaci Cabang Graha Raya Bintaro – Tangerang

Paket Ayam Kampung Goreng 1/2 ekor Rp 30.000,-

Postingan kuliner kali ini terinspirasi dari tulisannya Neng cantik Gustyanita Pratiwi yang berjudul Review Ayam Goreng Karawaci . Saya nggak sengaja main ke blognya dan membaca tulisan tentang Ayam Goreng Karawaci ini. Dari review-nya Gusty, katanya si ayam goreng ini rasanya lumayan enak dan harganya murah. Naluri saya sebagai emak-emak yang penuh ‘perhitungan’ langsung muncul begitu mendengar kata-kata enak dan murah. Apalagi setelah melihat foto yang Gusty unggah di postingannya, ukuran ayamnya terlihat besar dan kayaknya sih enak.

Tapi sayang jauh banget lokasinya kalau dari rumah. Apalagi cuma buat makan ayam goreng, mahal di ongkos…hehehe🙂 .

Saya kan biasanya kalau pergi-pergi suka menyiapkan bekal makan siang dari rumah (baca  : Bekal, Setangkup Cinta Dari Mama ) . Begitu juga dalam dua weekend yang lalu, kita terus-terusan pergi di hari Sabtu dan Minggu. Saya terus-terusan masak bekal makan siang  untuk kami bawa pergi. 

Nah, hari Minggu kemarin kami jalan ke daerah Bintaro-Tangerang. Karena saya bangun kesiangan dan tidak sempat masak, kami pergi tanpa membawa bekal makan siang.

Masuk waktunya makan siang, ketika kami sedang mencari-cari tempat makan. Kok ya kebetulan di deretan ruko-ruko di Graha Raya Bintaro ketemu sama rumah makan Ayam Goreng Karawaci. Saya langsung ingat karena plangnya sama dengan foto yang ada di postingnya Gusty .

Harganya terjangkau
Daftar menu minuman Ayam Goreng Karawaci

Saya langsung minta Pak suami makan di Ayam Goreng Karawaci, Pak suami dan anak-anak setuju. 

Rumah makan Ayam Goreng Karawaci cabang Graha Raya Bintaro ini tempatnya tidak terlalu luas, hanya ada 20 set meja. Ruangannya bersih dan banyak pelayannya. Begitu masuk, kami langsung disambut ramah oleh salah seorang pelayan. Mas pelayan ini cekatan melayani kami yang saat itu sudah kelaparan. Pengunjung yang datang saat itu cukup ramai, rata-rata rombongan keluarga. Alhamdulillah  tidak usah menunggu lama, pesanan kami sudah datang ke meja. 

Saya, pak suami dan bungsu memesan paket ayam goreng 1/2 ekor, sementara si sulung memesan paket 1 potong (karena dia kurang suka makan ayam goreng). 

Satu paket isinya sudah lengkap ada nasi putih, ayam kampung goreng plus kremes, tahu, tempe, sambel korek, lalap timun dan selada, semangkok sayur asem dan air teh tawar hangat. Lengkap kan!

Paket disajikan dalam satu piring ukuran besar. Iya lah, orang ayamnya aja kan setengah ekor. Sambel koreknya pedas sekali, tapi sayang hanya dikasih sedikit (kalau buat saya mah kurang banyak…hehehe). Sayur asemnya segar enak. Ayam gorengnya jenis ayam kampung usia remaja, digoreng tidak terlalu kering, dagingnya empuk, rasanya lumayan lah. Tahunya tahu putih, tempenya tempe biasa yang digoreng rasanya gurih dan enak. Kremesnya juga enak, anak-anak doyan banget. Kremesnya dijual sendiri, saya kemarin membeli satu kemasan kecil.

Menurut saya makan di sini lumayan oke, baik dari segi rasa maupun harga. Tempatnya bersih dan pelayanannya bagus. Bisa dijadikan alternatif pilihan untuk makan bersama keluarga.

Rumah Makan Ayam Goreng Karawaci cabang Graha Raya Bintaro ini buka mulai pukul 10.00 – 21.00 WIB.

Alamatnya : Ruko Melia Walk MD B No. 6-7 Graha Raya Tangerang

Posted in Buku

Speak Up! Karena Cinta Tak Hanya Diam

Judul        : Speak Up! Karena Cinta Tak Hanya Diam

Penulis   : Dyah Rina Nugrahani

Penerbit : Mata Pena Group

Tahun     : 2016

Tebal       : 344 halaman

Di balik sosoknya yang terlihat sempurna, Bachtiar seorang dokter spesialis kandungan di RS Graha Ulin Medica Banjarmasin, ternyata mengidap penyakit klaustrafobia. Yaitu fobia yang dirasakan ketika berada di ruangan sempit dan tertutup. Gara-gara penyakitnya ini nyaris membuat hubungannya dengan Yasmin kandas. 

Dia sepenuhnya sadar, masalah terbesar bukan pada Yasmin, tapi pada dirinya. Dia juga menyadari tak mungkin baginya menyelesaikannya sendiri. Terlalu berat. Dia butuh seseorang menariknya keluar dari kubangan traumanya.”

Yasmin akhirnya menyadari kekurangan yang terdapat dalam diri dokter  Bachtiar kekasihnya itu dan ia bertekad mendampingi Bachtiar supaya bisa sembuh dari penyakitnya.

Diam-diam Nadia memendam rasa cinta kepada dokter Bachtiar yang tak lain adalah seniornya semasa kuliah. Namun perasaan itu terhalang jurang yang dalam karena kini posisi Bachtiar adalah sebagai pimpinan sekaligus dokter senior di tempatnya bekerja.

Sementara itu Muhamad Indrajit, dokter spesialis anak yang memiliki paras ganteng dan menjadi idola mahasiswi di kampusnya dulu telah menjatuhkan hatinya pada Nadia. Namun selalu ditolak oleh Nadia, karena Nadia hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tetapi Indra tetap menyimpan perasaan cinta dalam hatinya.

Sebuah kejadian kecelakaan lalu lintas yang dialami oleh Bachtiar dan Yasmin ketika mereka akan makan siang, menyebabkan Yasmin meninggal dunia dan Bachtiar amnesia. Hal ini yang kemudian memaksa Nadia melakoni peran baru yaitu berpura-pura menjadi kekasih Bachtiar atas desakan keluarga Bachtiar.

Bachtiar akhirnya mengetahui apa yang telah terjadi dan menuduh Nadia memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan pribadinya. Bachtiar menjadi berubah sangat kasar dan emosional terutama kepada Nadia.

Nadia merasa sakit hati diperlakukan demikian oleh Bachtiar. Meskipun ia mencintai Bachtiar ia tidak punya maksud apa pun, ia hanya ingin membantu Bachtiar. Dan lagi ia melakukan ini karena desakan orang tua Bachtiar,bukan atas kemauannya.

Indra masih setiap menemani Nadia, cintanya pada Nadia membuatnya mau berkorban meskipun telah berkali-kali ditolak.

Saya tidak tahu ini perasaan apa. Tapi sejak kami masih kuliah, perasaan itu sudah ada dan makin hari makin besar. Saat saya tahu Nadia memiliki perasaan pada pria lain saya sudah berusaha mengenyahkannya. Sayangnya, bukan menghilang malah justru semakin kuat.” 

“Saya memutuskan untuk membiarkannya ada sampai kelak Allah memindahkannya pada orang lain. Sementara itu saya berusaha menjadi guardian angel bagi Nadia. Berusaha selalu ada untuknya dan memberi hati serta telinga saya untuk mendengarnya.”

Nadia mengambil cuti dan pergi ke tempat kakaknya di Ngawi Jawa Timur. Di Ngawi ia banyak merenung. Persoalannya dengan Bachtiar yang tak kunjung usai membuatnya lelah.

Mungkinkah dia bukan untukku? Lalu bagaimana menjalankannya amanah Yasmin untuk menjaganya jika yang akan aku jaga saja tidak pernah mberi kesempatan?

Di sisi lain, ada Indra yang selalu bisa menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh Nadia. Nadia mulai merasa nyaman bersama Indra.

Seiring dengan berjalannya waktu perasaan itu semakin kuat di antara Nadia dan Indra. Hingga pada suatu hari ketika Nadia sedang terbaring sakit, Indra meminang Nadia. 

Aku tidak tahu. Apakah ada namaku tertulis di lauhul mahfudz. Sebagai orang yang akan menyandingmu hingga ujung usia. Aku juga tidak tahu. Adakah di lauhul mahfudz tertulis namamu sebagai orang yang akan kusunting. Dan menemaniku hingga saat aku renta dan raga tak berdaya. Yang aku tahu hanyalah. Aku ingin menggenapkan agama ini bersamamu. Melewati duka dan mengarungi bahagia bersama. Saling memeluk dan menguatkan. Saling menopang dan menegakkan. Dan aku hanya tahu. Bahwa kau yang kuinginkan. Semoga Allah menyempurnakan inginku. Semoga Allah melapangkan jalanku. Saat ku pinang kau Dengan Bismillah. Maka, bila kau pun berkenan menempuh jalan yang sama. Beri aku tanda. Agar tak perlu lagi meraba

Nadia menerima pinangan Indra. Dan keesokan harinya mereka menikah. Ada sebuah rahasia yang belum Nadia sampaikan pada Indra, yaitu mengenai penyakit yang sedang diderita oleh Nadia.

Akhirnya Nadia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya. Ia harus segera dioperasi. Selesai operasi Indra merawat dan menemani Nadia di rumah sakit.

Sementara Bachtiar masih memikirkan Nadia. Ia tidak tahu apa yang terjadi selama ia pergi ke Amerika untuk menyembuhkan penyakit klaustrafobia. Ia baru sadar sebetulnya ia mencintai Nadia. Dan ia yakin Nadia masih mencintainya. Ia mendatangi Nadia dan meminta membatalkan pernikahannya dengan Indra. Tetapi Nadia sudah menjatuhkan pilihan hatinya pada Indra yang kini sudah menjadi suaminya. 

==================================

Sebuah novel romantis dengan konflik yang sederhana dan ringan. Konflik yang terjadi dalam novel ini cepat selesai dan tidak bertele-tele. Meskipun terkesan ringan, Dyah Rina (Bu Dyah) mampu meraciknya dengan kata-kata yang manis dan memikat hati. Terutama pada bagian yang menunjukkan perasaan Indra kepada Nadia. 

Latar belakang Bu Dyah bukan seorang dokter, tapi ia bisa dengan baik menceritakan kehidupan para dokter dan tenaga medis sebagai manusia biasa di luar tanggung jawab profesinya. 

Sayangnya tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini terlalu sempurna. Hampir semua tokoh adalah baik, ganteng/cantik, berpendidikan tinggi dan kaya. 

Secara pribadi yang saya suka dari karya-karyanya Bu Dyah adalah selalu santun dan sesuai dengan akidah Islam.

Posted in Taekwondo

Serunya Acara Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 | ICE BSD City Tangerang

Pada hari Sabtu, 8 Oktober 2016 yang lalu anak-anak mengikuti acara Taekwondo Korea Ambassador Cup yang diselenggarakan di ICE BSD City Tangerang.

Kerempongan saya sebagai emaknya mereka sudah dimulai sejak H-1 yaitu hari Jum’at. Rempong apaan? Kan yang mau ikut bertanding anak-anak. Apakah si emak juga ikut bertanding? Oh bukan, emak-emak mah biasaa repot sama urusan dapur. Saya mempersiapkan bekal makan kami berempat untuk acara ini. Inilah kerempongan saya : Jumat pagi pulang olah raga saya bikin arem-arem mie. Sabtu sebelum subuh sudah di dapur lagi bikin sarapan, nasi timbel, sambel goreng kentang+ati, tumis kacang panjang+toge+tempe, dan telor dadar (penting banget ya sampe harus ditulis segala).

Pukul 6.30 kami siap berangkat menuju venue di ICE BSD City Tangerang.

Sampai di tempat acara, para atlit dari berbagai tempat latihan (ada yang dari luar kota juga) sudah berdatangan. Sebagian ada yang sudah melakukan pemanasan, sebagian lagi masih berkumpul sesuai dengan groupnya masing-masing.

Acara Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 ini adalah rangkaian dari kegiatan Korea-Indonesia Festival 2016 yang diselenggarakan oleh Kedutaan besar Korea bekerja sama dengan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Acara ini diikuti oleh sekitar 1.204 peserta, 1150 atlet mengikuti Kyorugi dan 54 atlet poomsae. Para atlet yang mengikuti pertandingan ini berasal dari 8 propinsi se-Indonesia, yaitu DKI Jakarta, Yogyakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Riau, Jambi dan Bali.

Pagi-pagi acara dimulai dengan pertandingan Kyorugi dan poomsae. Kedua anak saya sama-sama mengikuti kategori Kyorugi atau bertarung. Si bungsu mendapat giliran di awal partai Alhamdulillah ia berhasil mendapatkan medali emas.

Sebelumnya bungsu sudah pernah ikut Kyorugi. Yang pertama di Kejuaraan Taekwondo yang diselenggarakan oleh Diknas Balikpapan dan PT. NGL Badak tahun 2014 ( baca juga di sini ), kemudian pada Indonesia Youth & Sports Taekwondo Festival 2015 dan yang ketiga pada acara ini Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 . Satu kali kalah dan dua kali menang. 

Sementara si sulung  kebagian partai 300-an sekitar pukul 15.30. Si sulung juga lumayan sering ikut kejuaraan, yang pertama Kejuaraan Walikota Cup se- Kota Balikpapan tahun 2013 ( baca juga : di sini ). Lalu Kejuaraan Taekwondo yang diselenggarakan oleh Diknas Balikpapan dan PT. NGL Badak tahun 2014 ( baca juga di sini ), kemudian pada Indonesia Youth & Sports Taekwondo Festival 2015 dan yang keempat pada acara ini Taekwondo Korea Ambassador Cup 2016 . Dua kali mendapatkan medali perak. 

Sekitar pukul 10 pagi semua pertandingan dihentikan karena akan ada upacara pembukaan. Taekwondo Korea Ambasador Cup 2016 dibuka oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Bapak Cho Taiyoung serta Ketua Umum PBTI, Bapak Letjen TNI (purn) Marciano Norman. 

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Cho Taiyoung
Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (purn) Marciano Norman

Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan Korea Selatan

Dan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua yang hadir di acara ini adalah pertunjukan demonstrasi taekwondo oleh N-Lion dan para mahasiswa dari Universitas Korea Selatan. Pertunjukannya bagussss sekali, saya terpana melihatnya sampai-sampai lupa tidak sempat mengambil gambarnya (maaf ya).

Peserta Demonstrasi Taekwondo dari Universitas Korea Selatan dan N-Lion Indonesia

Setelah upacara pembukaan selesai pertandingan dilanjutkan kembali. 

Banyak hal positif yang bisa diambil dari mengikuti acara seperti ini :

1. Menambah wawasan anak-anak. 

2. Memotivasi anak-anak agar selalu semangat dan rajin berlatih.

3. Melatih kesabaran

4. Menguji keberanian

5. Menambah rasa percaya diri

Untuk keluarga saya sendiri, sering mengikuti acara seperti ini menjadi salah satu alternatif rekreasi. Kami bisa berkumpul bersama, mulai pagi sampai malam bahkan keesokan harinya. Menjaga kekompakan keluarga, saling sabar dan menyemangati satu sama lain, merasakan susah dan senang bersama. 

Targetnya sih ingin anak-anak menjadi juara, tapi jika tidak maka tidak menjadi masalah buat saya dan pak suami. Toh mereka selalu menjadi juara di hati kami. Ada banyak pengalaman yang bisa mereka ambil dari kegiatan ini. Semoga berkesan di hati mereka hingga dewasa nanti.

Posted in Keluarga

Bekal, Setangkup Cinta Dari Mama

Mama saya itu kalau mau bepergian agak jauh pasti mempersiapkan bekal makanan untuk di jalan. Biasanya Mama membuat arem-arem untuk teman perjalanan. Sehari sebelum pergi, Mama pasti ke pasar membeli bahan untuk membuat arem-arem, tak lupa Mama membeli teman makan arem-arem, yaitu keripik tempe. Sampai di rumah Mama sibuk membuat arem-arem di dapur. Atau Mama membuat nasi timbel (nasi putih yang dibungkus daun pisang, ini khasnya orang Sunda). Nasi timbel beserta lauk pauknya (goreng tahu/tempe, ayam, lalap, sambel), ditata rapi di dalam rantang stainles steel .

Dulu waktu saya masih kecil, saya ingat sekali Mama juga pasti membawa bekal kalau kami sekeluarga menghabiskan akhir pekan jalan-jalan ke Alun-alun Bandung (dulu rumah kami di Cimahi). Menaiki mobil dinas Toyota kanvas, kami berangkat dari rumah ba’da dzuhur nanti sampai di Alun-alun Bandung, mobil di parkir di dekat Mesjid Agung. Setelah shalat ashar kami jalan-jalan di Matahari Mall (sekarang sudah tidak ada). Makan malam di mobil, makan bekal yang Mama buat dari rumah. Setelah makan, kami berjalan-jalan menikmati suasana malam Minggu di sana.

Pernah suatu kali saat itu salah satu restoran ayam goreng franchise dari Amerika baru buka di Bandung, lokasinya di dekat Alun-alun (ketahuan ya berapa usia saya 😉). Semua orang Bandung dan sekitarnya berbondong-bondong datang untuk mencicipi makan ayam goreng crispy ala Amerika itu. Maklum namanya juga hal yang baru dan berbau luar negeri, semua orang merasa penasaran. Sampai-sampai di sekolah saya katanya kalau belum mencoba makan ayam goreng itu dibilang kampungan 😑😑😑. Teman-teman saya hampir semua sudah mencicipi ayam goreng ala Amerika itu. Kayaknya tinggal saya yang belum. Jadi saya dibilang anak yang kampungan oleh teman-teman. Saya pun merengek pada Mama dan Bapak ingin mencoba makan di tempat itu. 

Sebetulnya kami hampir setiap Minggu ke Alun-alun Bandung, tapi kami tidak pernah masuk ke restoran itu. Karena kami selalu makan bekal buatan Mama. Sudah hampir dua bulan lamanya sejak pertama kali restoran ayam Amerika itu dibuka, saya belum pernah sekalipun mencobanya. Label kampungan pun lekat menempel pada saya. Saya hanya bengong ketika hampir semua teman-teman membicarakan hal ini 😥😥😥. Karena merasa tertekan saya pun merengek kepada Bapak ingin mencoba makan di restoran itu. 

Waktu itu kondisi ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan. Bapak adalah seorang perwira menengah TNI yang hidupnya murni dari gaji yang ia terima setiap bulan dari negara. Itulah kenapa untuk menyenangkan keluarga ia harus pandai-pandai mengatur keuangan, salah satunya dengan selalu membawa bekal makanan ketika bepergian. Bapak bukannya tidak mau menyenangkan istri dan anak-anaknya, tapi keadaan lah yang membuatnya harus demikian.

Keinginan saya tidak dituruti oleh Bapak dan Mama 😥😥😥. Tapi saya terus menerus merengek tidak mau tahu. Sampai akhirnya Bapak mengabulkan keinginan saya. Suatu hari di akhir pekan seperti biasa kami jalan-jalan ke Alun-alun Bandung. Mama tetap membawa bekal makanan. Saya diantar oleh mereka masuk ke restoran ayam Amerika itu. Suasananya sangat ramai antriannya panjang. Tiba di depan kasir, Bapak menyuruh saya memilih menu. Saya pesan paket ayam, kentang goreng beserta minuman softdrink. Bapak membeli dua paket untuk saya satu untuk adik saya satu. Kemudian kami duduk dan makan ayam goreng ala Amerika untuk yang pertama kalinya seumur hidup. 

Mata saya berbinar-binar bahagia akhirnya saya bisa seperti teman-teman saya merasakan makanan yang sedang dibicarakan orang dimana-mana, akhirnya saya terlepas dari label kampungan. 

Saya makan berdua saja dengan adik, sementara Bapak dan Mama hanya menonton kami. Ada perasaan yang kurang di hati saya. Biasanya kita makan bersama-sama di dalam mobil, makan makanan bekal buatan Mama. Meskipun menunya tidak secanggih ayam goreng ala Amerika ini, tapi rasanya nikmat sekali. Saya melihat sorot bahagia di mata Bapak dan Mama saat itu, mungkin mereka merasa senang bisa mengobati rasa penasaran anak-anaknya. Tapi ada rasa sedih di hati saya pasti mereka telah bersusah payah menyisihkan uang untuk menyenangkan anaknya. 

Ternyata rasa ayam goreng Amerika ini tidak sedahsyat iklannya dan omongan orang-orang. Rasanya biasa saja, cuma ayam dibalut tepung lalu digoreng, dimakan bersama kentang goreng dan ditemani oleh minuman soda. Tidak ada yang istimewa.

Sejak saat itu saya merasa tidak enak hati dan tidak pernah lagi menuntut ini itu pada Bapak dan Mama.

Kembali ke persoalan bekal makanan. Sampai akhirnya ekonomi keluarga kami membaik dan berkecukupan, Mama masih suka membawa bekal makanan jika kami bepergian, sama seperti dahulu. Alasannya sederhana, kalau membawa bekal makanan tentu lebih sehat dan hemat. Selain itu kalau di perjalanan terjebak macet, tidak akan kelaparan karena ada bekal makanan.

Kadang-kadang saya suka songong. Mentang-mentang saya sudah mapan dan punya uang sendiri, kalau bepergian saya lebih suka jajan  ketimbang membawa bekal makanan. Apalagi kan sedang nge-trend mencoba kuliner. Rasanya gaya gitu kalau bisa mencicipi makanan di restoran-restoran dan meninggalkan jejaknya pada akun media sosial. Ditambah lagi saya malas sekali repot-repot harus masak makanan untuk bekal, ribet.

Suatu hari saya melihat Mama sedang di dapur sibuk dengan tumpukan daun pisang serta sepanci besar beras setengah tanak dan daging cincang yang sudah ditumis dengan wortel. Mama sedang membuat arem-arem. Esok hari kami sekeluarga ada rencana pergi menengok rumah yang di Jakarta. Sambil membantu Mama membungkus arem-arem, saya menyindir Mama. 

“Ngapain sih ribet amat bikin arem-arem segala, di sana banyak restoran terkenal yang enak-enak dan kekinian, kita makan aja di sana.” 

Mama diam saja mendengar sindiran saya sambil meneruska membungkus arem-arem. Mungkin Mama kesal mendengar perkataan saya. Akhirnya Mama bilang, “Yang protes nanti di sana nggak boleh nyicipin arem-arem ya!”

Keesokan paginya kami berangkat ke Jakarta. Sampai di sana, setelah urusan beres kami shalat dzuhur di mesjid komplek. Selesai shalat dzuhur, kami kembali ke mobil. Mama mulai mengeluarkan bekal arem-aremnya. Yang ada di dalam mobil (Bapak, adik, ipar dan anak-anak kami) rebutan ingin makan arem-arem buatan Mama. Saya pun tak ketinggalan meminta. 

Lalu Mama sambil tertawa, “Lah, yang kemarin protes  pas bantuin bikin arem-arem kan nggak boleh nyicipin.”

Mana tahan saya kalau tidak bisa ikut makan arem-arem buatan Mama. Arem-arem buatan Mama itu rasanya enakkkk sekali.

“Hehehe….iya Ma, maaf ya kemarin sampai ngomong begitu”, sambung saya sambil malu.

Tentu saja Mama ngomong begitu cuma bercanda. Saya diperbolehkan kok makan arem-aremnya.

Sekarang kebiasaan membawa bekal makanan menurun juga pada saya. Saya jadi rajin membawa bekal kalau mau pergi-pergi. Dan sebelum subuh setiap hari saya juga berjibaku di dapur menyiapkan bekal makan siang untuk pak suami dan anak-anak.

Bukan sekedar untuk penghematan, ternyata membawa bekal makanan itu bisa menjadi kenangan yang sangat berkesan dan tak terlupakan seumur hidup. Karena di dalam bekal yang disiapkan oleh seorang Mama selalu terselip rasa cinta dan doa.

Posted in #BukanSuperMom

Hadiah Dari Sahabat Blogger

Yang namanya kehidupan penuh dengan dinamika. Tidak monoton baik terus atau jelek terus. Termasuk kehidupan saya dan keluarga sehari-hari. Ada masanya kami baik-baik saja, namun sering juga kami mendapatkan masalah.

Setiap hari ketika pak suami dan anak-anak sudah berangkat, saya memulai aktivitas pagi dengan sarapan sambil ditemani oleh siaran tausyiah dari televisi. Sengaja memilih program ini daripada acara lain karena katanya yang namanya iman itu naik turun, jadi supaya iman ini stabil dan naik terus maka harus rajin dipupuk dan disirami dengan segala sesuatu yang bisa menambah kedekatan kita pada Allah SWT. Jadi saya nonton program tausyiah dalam rangka menjaga keimanan saya.

Setiap hari saya selalu mendengar ustad dan ustadzah penceramah berkata : “setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya,” dan satu lagi yang ini :”manusia yang sedang ditimpa masalah jika ia bersabar dan tawakal kepada Allah pasti akan mendapatkan jalan keluarnya”.

Yang namanya kehidupan penuh dengan dinamika. Tidak monoton baik terus atau jelek terus. Termasuk kehidupan saya dan keluarga sehari-hari. Ada masanya kami baik-baik saja, namun sering juga kami mendapatkan masalah. 

Seperti yang saya hadapi belakangan ini. Di rumah anak-anak lagi ‘soleh banget’. Ada aja kelakuan mereka yang memancing emosi saya. Karena hal sepele saja bisa membuat mereka berdua berantem sampai ‘bak-bik-buk’ (pukul-pukulan), baru sedetik dilerai mereka sudah mulai mau berantem lagi (maklum anak laki-laki semua). Atau ketika mereka banyak melanggar aturan di rumah dan nggak mau dikasih tahu (nggak mau tahu, maunya ayam goreng Ma! 😎). 

Kalau sedang terpancing esmosi sama kelakuan mereka, kami di rumah udah kayak kucing lagi berantem, bersahut-sahutan berisik banget. Kepala rasanya jadi keriting….pening sekali.

Tapi kadang-kadang saya bisa menahan esmosi dan tidak terpancing sama ulah mereka yang aduhai bikin gemezzz itu. 

Biasanya ini terjadi kalau tiba-tiba di kepala saya muncul perkataan ustad/ustadzah yang tadi saya sebutkan di atas. Perkataan itu muncul berkali-kali seperti running text yang ada di program berita televisi. Running text ini yang kemudian menahan gejolak esmosi jiwa saya yang saat itu nyaris meledak-ledak.

Saya langsung diam, tidak menanggapi kelakuan dan menghindar dari mereka (lari ke kamar atau ke dapur). Saya cari-cari kesibukan di kamar atau di dapur, atau ambil wudhu, istighfar dan menangis meluapkan esmosi saya sendirian. Jika perasaan saya sudah enakan, baru saya keluar tapi saya diam saja tidak menanggapi mereka. Biasanya mereka tahu diri lalu bersikap baik terhadap saya. Masalah selesai.

Eits, jangan dikira selesai sampai situ. Karena beberapa menit kemudian terjadi lagi hal error dan memancing emosi saya. LAGI😦 .

Diam-diam, dalam setiap kesempatan saya selalu berdoa minta ampun dan pertolongan kepada Allah. Kata pak ustad juga kan kalau ada masalah tidak boleh berburuk sangka pada Allah, berdoa saja terus meminta jalan keluarnya. Allah akan menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita jika kita sabar dan tawakal kepada-Nya.

Dan hari itu pertolongan Allah datang. 

Kurir ekspedisi mengantarkan sesuatu untuk saya. Saya pikir yang datang adalah buku pesanan yang saya beli di toko online. Buru-buru saya buka sampulnya. 

Tapi…

What???!! Ini bukan buku pesanan saya!!!! 

Saya ambil lagi sampulnya yang sudah sobek, saya baca pengirimnya…kok gak kenal ya. Saya baca dokumen ekspedisinya. Hah? Dikirim dari Makassar?? Hmm….

Setelah mengingat-ingat, akhirnya saya baru sadar ini buku hadiah giveaway dari seorang sahabat blogger yang beberapa waktu lalu mengadakan giveaway di blognya. Dan saya menjadi salah satu yang dipilih untuk mendapatkan buku ini.

ALHAMDULILLAH :) 

Sebuah buku komik Islam berjudul “Pengen Jadi Baik 3” karyanya  Squ. Berisi tentang cerita sehari-hari keluarga Om Squ. Lucu, ringan dan penuh makna karena  disisipi dengan penjelasan Al-Qur’an dan hadits. 

Saya tersenyum lebar dan mengucap syukur berulang kali. Buku ini memberi secercah  harapan pada persoalan yang sedang saya hadapi belakangan ini.

Pulang sekolah, anak-anak saya sodorkan buku itu. Mereka antusias sekali membacanya. Alhamdulillah tidak sampai rebutan. Dalam waktu tiga hari buku itu tamat dibaca oleh mereka. Ada perubahan? Ada, Alhamdulillah.

Benar kata pak ustad tadi,”manusia yang sedang ditimpa masalah jika ia bersabar dan tawakal kepada Allah pasti akan mendapatkan jalan keluarnya”. .

Terima kasih hadiah bukunya Mas Ismail Hasan, jazakumullah khayran.

 
 

Posted in Binatang Peliharaan

Ikan Koi Merajut Kebersamaan Antara Bapak dan Anak

Sejak pindah ke rumah baru, kami memiliki binatang peliharaan yang baru juga, yaitu ikan koi. Sebetulnya memelihara ikan koi ini tidak sengaja. Kebetulan pemilik rumah terdahulu memang punya kolam ikan dan memelihara beberapa koi. Pemilik rumah yang lama mewariskan ikan-ikannya kepada kami.

Memiliki peliharaan ikan hias sudah tidak asing bagi keluarga saya. Karena sejak si sulung masih bayi saya sudah memelihara ikan hias di aquarium. Tapi kalau memelihara ikan koi di kolam, ini pengalaman pertama. Karena sebelumnya kami memang belum pernah punya kolam ikan di rumah.
Awalnya kami ragu apakah bisa memeliharanya. Apalagi ketika pemilik lama sudah pindah, rumah ini sempat kosong selama tiga bulan. Saya dan pak suami menengok rumah hanya seminggu sekali untuk bersih-bersih sambil memberi makan ikan. Pak suami malah pernah punya niat menitipkan ikan-ikan ini di kantornya. Tapi urung dilakukan karena nggak tega katanya.

Ikan koi yang diwariskan kepada kami berjumlah empat ekor ukuran besar, dan ada dua ikan jenis kumpai. Saya kurang tahu ikan koi yang ada di kolam termasuk jenis apa. 

Waktu mudik ke Bandung, kami memboyong  tiga ekor ikan koi ukuran kecil dari kolam di rumah Eyangnya anak-anak. Seminggu berselang, ikan koi yang besar mati seekor. Pada mudik berikutnya pak suami membeli beberapa ekor koi ukuran kecil. Ternyata setiap hari ada ikan yang mati. Sampai hanya tersisa koi besar dua ekor, kumpai dua ekor dan koi kecil dua ekor. 

Kematian ikan koi berlangsung terus menerus, hampir setiap hari ada ikan koi yang mati. Pak suami nggak kapok, ia terus-terusan membeli ikan koi baru menggantikan ikan koi yang mati. Beli ikan koi yang murah aja sih, kalau yang mahal mah waduhhh….belum sanggup  😁. Apa mungkin karena murah ya, jadi mati terus….?? 

Anak-anak dan pak suami sangat bersemangat merawat ikan koi ini. Setiap hari setiap saat mereka selalu mengawasi ikan-ikan  koi yang sedang berenang di kolam. 

Mereka mengadakan investigasi terhadap ikan koi yang mati. Yang mati hanya ikan koi, ikan kumpai sampai saat ini sehat wal afiat. Setelah diselidiki ternyata ikan koi yang mati ini di tubuhnya terdapat kutu ikan. 

Pak suami membeli obat anti kutu yang alami, yaitu 5 ekor ikan kecil-kecil pemakan kutu. Selain itu ia juga memberi obat kimia ke dalam kolam. 

Anak-anak sudah pintar membersihkan kolam ikan. Mereka mah senang sekali kalau disuruh membersihkan kolam ikan. Seminggu sekali kolam dibersihkan. Ikan-ikan dipindahkan ke bak plastik ukuran besar yang berisi air. Pompa dan selang air disikat karena banyak lumutnya. Filter air juga dibersihkan isinya. Dasar kolam dipel pelan-pelan supaya permukaannya tidak rusak. Setelah semua bersih, pasang lagi filternya, isi kolam dengan air, lalu masukkan ikan-ikan ke dalamnya.

Kemarin waktu saya ke Bandung sendirian, anak-anak dan pak suami asyik sekali mengurus ikan di rumah. Asyik soalnya mereka bebas merdeka nggak ada yang protes…ha-ha-ha😂😂😂. Mereka jalan-jalan main ke toko ikan, melihat-lihat filter, aneka aksesoris kolam dan berbagai jenis ikan koi. 

Saya pribadi kurang suka mengurus ikan di kolam. Pak suami dan anak-anak saking asyiknya sama ikan  sampai-sampai saya dicuekin 😑 (ini yang suka bikin saya protes). Tapi sebetulnya nggak masalah sih karena saya suka melihat kebersamaan antara pak suami dan anak-anak mengurus ikan-ikan koi. 

Kenapa suka? Karena sehari-hari pak suami sangat sibuk dengan pekerjaannya, pergi sebelum matahari terbit dan pulang matahari sudah tenggelam. Begitu juga dengan anak-anak, setiap hari sibuk dengan rutinitas sekolah dan belajar. Setiap hari kecuali weekend, bisa dihitung dengan jari berapa jam pak suami dan anak-anak bisa bersama. Nah, karena ada ikan koi, setiap hari mereka jadi punya bahan untuk mengobrol dan berinteraksi. Malam hari mereka bertiga suka duduk di pinggir kolam melihat ikan sambil ngobrol-ngobrol santai. 

Nggak masalah ini ikan koi beneran atau cuma koi-koi an. Yang penting gara-gara ada ikan koi di rumah jadi bisa merajut kebersamaan antara bapak dan anak.